HAPPY READING
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tangga menuju kantin menjadi saksi percakapan yang kadang mengalir seperti air, kadang meledak seperti petasan, kadang lucu dan kadang serius. Riyan, dengan kebiasaan tak tahan diamnya, akhirnya membuka mulut.
"Enak dong, sendirian di rumah," kata Riyan sambil melirik ke arah Raka. Suaranya memecah kesunyian, seolah tak tahan terlalu lama tanpa bicara.
Raka menoleh dengan ekspresi santai. "Gue nggak sendirian, lah. Kakek gue ada di rumah. Baru pulang dari Korea kemarin. Tapi ya gitu, gue jadi nggak bisa bebas keluyuran."
“Bersyukur masih punya kakek,” timpal Gilang, nadanya terdengar datar. "Lah gue? Kakek gue udah nggak ada." Ujar Gilang dengan nada datar, ada sesuatu yang terasa berat di dalamnya. Di balik kata-kata sederhananya, ada kerinduan yang mungkin tak pernah ia tunjukkan dengan jelas.
Mendengar itu Riyan langsung merangkul bahu Raka, seolah menjadi tameng dari rasa kehilangan. “Sabar ya, bre. Hidup mah emang gitu, suka iseng. kadang ngasih hadiah, kadang nyolong bahagia.”
Gilang tersenyum kecil. Dia tidak menjawab, hanya mengangguk pelan, mencoba berdamai dengan kehilangan yang terus menghantuinya.
Raka tiba-tiba tertawa, memecahkan suasana. “Eh, tapi ya, kadang punya kakek juga ngeselin. Bayangin aja, tadi kakek gue mau jual motor gue kalau gue nggak mau dianterin. Emangnya gue anak TK?”
Bima, yang sejak tadi diam, menggeleng kecil sambil tersenyum tipis. "Kasian banget!"
“Kakek lu kayaknya seru, deh” Gilang akhirnya ikut tersenyum. "Kapan-kapan kita main ke rumah lu, ya?"
"Nah, setuju tuh" timpal Bima.
Raka menyeringai, seperti mendapat ide jahil. "Boleh, tapi tarifnya satu jam lima juta. Harga spesial buat kalian."
Mereka tertawa serempak. Tawa yang kecil tapi cukup menggema di sepanjang tangga.
tawa mereka, seperti bom kecil yang dilempar sembarangan. Tapi begitulah mereka; tawa bisa datang dari mana saja, bahkan dari hal yang nggak lucu sekalipun.
Setibanya di kantin, mereka langsung mencari meja kosong. Raka, yang berjalan sedikit di depan, tanpa sengaja menangkap sekilas sosok Geo. Dia sedang tertawa bersama teman-temannya. Sejenak, Raka memandangnya, tapi buru-buru memalingkan wajah, seolah tidak ingin berurusan.
Setelah memilih meja di sudut kantin, mereka duduk dengan santai. Tanpa banyak basa-basi, Riyan langsung berdiri. "Gue pesen makanan dulu. Kalian tunggu sini aja."
Bima memerhatikan langkah Riyan yang santai menuju kasir, lalu berkomentar pelan, "Orang kayak dia cocok jadi duta lapar."
Gilang tertawa kecil. “Bim, lu tuh sering diam, tapi sekali ngomong… nancep.” Ujar Gilang, terkekeh.
Raka ikut tertawa mendengar itu.
Bima hanya menggeleng pelan. Tawanya sederhana, seperti angin sepoi-sepoi yang datang tanpa paksaan. Tidak keras, tidak memaksa perhatian, tapi cukup menghangatkan suasana.
Setelah Riyan kembali membawa nampan penuh makanan, Gilang, dengan gaya khasnya, tiba-tiba memulai obrolan absurd. "Gue punya satu pertanyaan penting nih, yang selalu ada di pikiran gue, gue harap kalian bisa jawab!. Kalau kita nabung di celengan babi, uangnya jadi haram apa halal, ya?"
Semua mata langsung tertuju ke Gilang. Pertanyaan itu tak masuk akal, tapi justru menarik perhatian.
“Nah, kalau lu nikah sama babi, itu sah apa nggak?” timpal Raka sambil tersenyum jahil.
Gilang langsung menoyor kepala Raka. "Otak lu ngapain diajak jalan-jalan, sih!?"
Riyan menambah keabsurdan. “Kalau kita manggil orang ‘babi,’ orang itu bakal berubah jadi babi nggak?”
Semua mata akhirnya beralih ke Bima. Dia dianggap paling pintar, meski pintar di sini seringkali hanya gelar kosong.
Bima menghela napas panjang, menatap mereka satu per satu. "Gue nggak ngerti kalian semua pada ngapain di dunia ini. Orang waras nggak bakal mikir hal-hal kayak gitu."
Riyan langsung menukas dengan wajah polos. "Jadi kita nggak waras?"
Bima hanya mengangkat bahu sambil berkata datar, "Silakan simpulkan sendiri."
Dan seperti biasa, ledakan tawa pun menyusul. Tawa mereka menggema di kantin, tawa yang sebenarnya nggak jelas lucunya di mana. Tapi Gilang tertawa paling keras, dan seperti biasa, tawanya menular ke yang lain.
Namun, suasana berubah. Suara gaduh dari arah lain menarik perhatian. Murid-murid mulai berhamburan keluar.
“Kenapa pada keluar?” tanya Bima, bingung.
“Entahlah,” jawab Raka pendek, matanya mengikuti kerumunan.
“Mungkin ada tukang siomay lewat,” tebak Riyan asal-asalan.
Gilang, penasaran, menahan seorang murid yang lewat. "Bro, ada apa sih?"
"Katanya ada yang bertengkar," jawab murid itu singkat sebelum menghilang di tengah kerumunan.
Wajah mereka berubah serius. Tawa barusan seolah menguap begitu saja. Keributan itu terasa seperti awan kelabu yang tiba-tiba menggantung di atas kepala mereka.
"Siapa yang bertengkar?" Raka bertanya lebih pada dirinya sendiri.
Gilang mengangkat alis, mencoba membaca situasi. "Kita ke sana, nggak?"
Riyan langsung menggeleng. "Ngapain? Nonton dari sini aja, kan seru, kayak drama Korea live."
Namun, ada sesuatu di mata Raka. Tatapannya berubah, seolah ada hal lain yang berputar di pikirannya, sesuatu yang tidak diucapkan.
NEXT...
Ig: wp_ayayti1
Tt: ayayti
KAMU SEDANG MEMBACA
KARAFERNELIA
Teen FictionCerita ini menggambarkan perjalanan emosional Bryan dan Alesha serta dampaknya pada anak-anak mereka, menggambarkan kebahagiaan di tengah kesedihan dan harapan untuk masa depan. .... Raka berdiri di tengah kamar, wajahnya merah dan napasnya memburu...
