HAPPY READING
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
23.03.
Kegelapan menyelimuti kamar Raka seperti selimut tebal yang menutupi segalanya. Hanya setitik cahaya dari celah pintu yang terbuka sedikit, cukup untuk sekadar mengingatkan bahwa dunia di luar masih ada. Di sudut kamar, bayangan perabot terlihat samar, diam seolah enggan mengganggu malamnya.
Di atas ranjang, Raka terbaring meringkuk. Napasnya yang tenang perlahan berubah ritmenya ketika suara lirih, nyaris seperti bisikan, menyelinap ke telinganya. Suara itu begitu akrab, seperti nada lembut yang mampu menusuk hati tanpa permisi.
> "Hai, anak Bunda...
Halo-halo Dengar suara Bunda, nggak?
Gelap banget, nih, sampai anak Bunda nggak kelihatan.
Hahaha."
Mata Raka perlahan terbuka, setengah sadar, setengah ragu. Suara itu, entah bagaimana, seperti datang dari sela-sela kerinduannya. Dengan gerakan malas, dia bangkit dan menyalakan lampu. Cahaya langsung melahap kegelapan, tapi rasa asing di dadanya tak kunjung hilang.
Raka mengedarkan pandangan, tapi kamar itu tetap seperti biasa—sepi. Hanya dia sendiri. Tidak ada siapa-siapa, selain bayangannya yang bergetar di cermin.
Apa ini mimpi?
Dia mencubit pipinya pelan. “Aduh,” gumamnya. Nyeri itu nyata, tapi suara tadi? Raka menggeleng, mencoba meyakinkan dirinya kalau itu hanya ilusi.
Dia membaringkan tubuh lagi, kali ini dengan lampu menyala. Tapi tetap saja, matanya sulit terpejam. Raka memeluk bantal, berharap keheningan bisa membawanya kembali tidur.
Sial, tetap saja dia tidak bisa memejamkan mata.
Setelah beberapa menit terombang-ambing dalam gelisah, Raka bangkit lagi. Matanya memindai kamar, mencoba mencari sesuatu yang tidak beres. Dan saat itu, pandangannya tertuju pada gorden biru di dekat jendela.
Gorden itu bergerak pelan, padahal tidak ada angin. Raka menelan ludah, merinding. Tapi matanya menangkap sesuatu—sepasang kaki.
Raka menarik napas dalam, menghembuskannya perlahan, lalu mengelus dada. “Kek, Kakek ketahuan,” ucapnya dengan senyum getir, setengah lega dan setengah waspada.
Namun, ketakutannya belum sepenuhnya hilang. Pikiran buruk langsung menyelinap—bagaimana kalau itu bukan Kakek sungguhan? Bagaimana kalau itu... sesuatu yang lain? Jin, misalnya? Ia menelan ludah. "Kan nggak lucu kalau yang muncul beneran bukan Kakek."
Gorden tersibak perlahan, dan muncul lah sosok Kakek Arvan dengan wajah penuh senyum jahil. Ponsel di tangannya menyala, menampilkan panggilan video.
“Yah, Kakek ketahuan,” ujarnya ringan, tanpa rasa bersalah.
Raka menghela nafas panjang, melipat tangan di dada. “Kakek, serius? Tengah malam begini? Kalau tadi bukan Kakek beneran, tapi jin, gimana? Aku bisa jantungan, tauk!” nada suaranya kesal, tapi lebih ke setengah bercanda.
Kakek terkekeh kecil. “iya, iya! Maafin kakek, ya? Ini, Nih, ide Bunda kamu,” katanya sambil menyerahkan ponselnya pada Raka.
Layar ponsel itu memancarkan senyum hangat Alesha, ibunya, yang sedang menatap dari kejauhan. “Bunda?” Raka langsung berubah. Matanya yang tadi setengah mengantuk kini bersinar cerah. Ia tersenyum lebar, meskipun wajahnya masih kusut dengan rambut acak-acakan. “Hai, Bunda,” sapanya dengan suara serak.
“Hai, Sayang. Maaf ya, Bunda ganggu tidur kamu,” ujar Alesha lembut. Senyumannya tetap terpancar, seolah menghapus semua kantuk dan kesal di wajah Raka. “Tapi tadi muka kamu lucu banget waktu kesel.”
Raka memanyunkan bibirnya, setengah protes. “Bunda jahat, deh. Nyuruh Kakek kerjain aku. Lihat tuh, Kakek malah senyum-senyum nggak jelas.” katanya sambil mengarahkan ponsel ke wajah Kakek Arvan, yang hanya menanggapinya dengan tawa renyah.
“Kakek cuma nurut sama perintah,” katanya enteng.
“Bunda, lihat, kan? Kakek selalu gitu, jahil banget!”
Alesha tertawa kecil di layar. “Oh iya, tadi Kakek bilang kamu habis bertengkar?”
Raka langsung mengernyit. “Bukan aku, Bun. Itu Bian, bukan aku.”
"Tapi kakek bilang yang bertengkar itu kamu?"
"Kakek, Nih! Suka ngadi ngadi, bukan aku kek, tapi, Bian!"
Kakek menggaruk kepalanya. "Eh, bentar-bentar kakek sulit bedain kamu sama Raka.”
Raka menghela napas. “Ini Raka, Kek. Aku Raka.”
“Oh, iya. Maksud Kakek, sulit bedain kamu sama Bian.”
Alesha tertawa lagi dari layar. "Kalian, ini,"
Next...
Ig: wp_ayayti1
Tt: ayayti
Jangan lupa votmenfoll, terimakasih.
KAMU SEDANG MEMBACA
KARAFERNELIA
Teen FictionCerita ini menggambarkan perjalanan emosional Bryan dan Alesha serta dampaknya pada anak-anak mereka, menggambarkan kebahagiaan di tengah kesedihan dan harapan untuk masa depan. .... Raka berdiri di tengah kamar, wajahnya merah dan napasnya memburu...
