48: Cerita Kakek.

118 7 4
                                        

HAPPY READING!
.
.
.
.
.
.
.
.

"BIAN!!" teriak iyan histeris, saat langkahnya baru saja masuk ke dalam ruangan, tempat Bian dirawat. Gilang dan Bima pun tak kalah hebohnya.

Setelah dapat kabar jika Bian sudah sadar dari komanya, mereka langsung bergegas ke rumah sakit setelah pulang sekolah, untuk menjenguk sahabat mereka, Bian.

Saat melihat kedatangan mereka, Bian tak henti-hentinya tersenyum, apalagi saat melihat Raka yang hanya bisa pasrah saat tubuhnya dipeluk erat iyan, terlihat sangat lucu bahkan Kakek yang ada di sampingnya ikut menahan tawa.

Raka hanya diam saat iyan memanggil nama Bian berulang kali tapi yang di peluk malah dirinya, kan aneh.

"Gue bukan Bian" ujarnya terlihat sangat muak.

Iyan melepaskan pelukannya dan langsung tersenyum kikuk, "eh' iya, lagian lu kenapa di sini sih gue tanya," ujar iyan yang langsung berlari memeluk Bian.

Mereka saling berpelukan, seolah saling melepaskan rasa rindu yang membelenggu.

"Gue nih yang salah?" ujar Raka sambil menunjuk dirinya sendiri, tak habis pikir dengan iyan yang malah menyalahkan dirinya karena berdiri dihadapannya.

Melihat itu Bima tertawa pelan, lalu merangkul pundak Raka. Perasaan bahagia yang sulit ia gambarkan, harapannya akhirnya terkabul, kini Bian sadar dari komanya dan Bima sangat senang akan hal itu.

"Gimana keadaan lo?" tanya Gilang.

"Ya yang seperti lo lihat, gue baik!"

Gilang tersenyum lega.

Setelah sekian lama akhirnya mereka bisa berkumpul bersama lagi, senyum mereka kembali terlihat.

Iyan tiada hentinya berbicara, bahkan terlihat sangat antusias dan Gilang hampir dibuat darah tinggi karena pertanyaan Iyan yang tidak masuk logika, 'Pas koma lo ketemu bidadari cantik, gak?' pertanyaan aneh.

Sedangkan di dimensi lain Bima sibuk memberitahu Bian mengenai tugas sekolah.

Dan Raka yang hanya bisa diam saat Bian mengomelinya karena Raka sering tidak mengerjakan tugas sekolah, sekali-kali Raka membela diri.

Mereka saling mengobrol, tertawa bahkan dibuat terharu.

Kakek memperhatikan itu, hatinya terasa hangat, seperti mengingat memori puluhan tahun yang sudah berlalu bersama kenangannya.

"Kalian.. mengingatkan kakek pada saat umur kakek masih sangat remaja, seperti kalian."

Mereka terdiam, suasana ruangan itu menjadi senyap seketika.

"Kita? Emang Kakek juga pernah koma kayak Bian, Kek?" Tanya Iyan polos yang langsung dapat lirikan maut dari Gilang. Semua kompak menatap Iyan, yang ditatap justru bingung, apa ada perkataanya yang salah?

Kakek terkekeh pelan, mencoba mencairkan suasana yang sempat hening.

“Bukan itu, Iyan! Kamu nggak lihat? Badan kakek kekar, bugar, sehat, jasmani, rohani, kayak gini?” seru Kakek sambil terkekeh pelan.

Iyan ikut tertawa kecil, sedikit malu, sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.

Kakek terdiam sejenak. Senyumnya memudar pelan, berganti dengan nada suara yang lebih rendah, seolah membuka lembaran lama.

“Maksud kakek, dulu kakek juga pernah ada di posisi kalian. Punya teman, ke mana-mana selalu bareng, Nongkrong sampai lupa waktu. Susah, senang, kita lewati sama-sama,"

"Jadi saat melihat kalian, Kakek sedikit Dejavu.”

Mereka mendengarkan dengan seksama. Meski tak mengalami sendiri apa yang Kakek ceritakan, tapi mereka bisa merasakan emosi di balik setiap katanya.

Tatapan Kakek menerawang, jauh ke masa lalu.

“Waktu itu juga pernah ada yang koma, karena kecelakaan,” lanjutnya pelan. “Tapi bukan kakek, melainkan teman kakek.”

"Terus gimana keadaan teman Kakek setelah itu?" Tanya Raka.

Kakek menggeleng pelan. “Kakek juga kurang tau,” ujarnya.

“Beberapa hari setelah itu, kakek terpaksa pindah ke Seoul, karena orang tua Kakek ada kerjaan di sana, jadi mau gak mau kakek harus meninggalkan teman-teman Kakek di sini, tanpa sempat berpamitan.”

***

“Apa ada keluhan lain? Atau bagian tubuh yang masih terasa tidak nyaman?” tanya dokter itu sembari mencatat.

“Dokter, kepala saya sedikit sakit,” jawab Bian pelan. “Rasanya agak berat.”

Dokter mengangguk kecil. “Itu masih wajar. Karena kamu baru melewati masa kritis, jadi tubuh, termasuk kepala, masih beradaptasi.”

“Kalau sakitnya bertambah, pusing berat, atau sampai mual, segera panggil saya atau perawat, ya? jangan ditahan,”

“Iya, Dok,” jawabnya ragu, Bian sedikit menunduk. “Tapi… tolong jangan bilang ke keluarga saya soal ini.”

Tulisan Dokter itu terhenti, ia menatap Bian tenang. “Kenapa?” tanyanya dengan lembut.

“Saya nggak mau mereka khawatir,” ujarnya.

Dokter itu terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. “Baik. Selama kondisinya masih ringan dan kamu jujur kalau ada keluhan, saya akan jaga itu.”

Di saat yang bersamaan, seseorang masuk ke dalam ruangan, berpapasan dengan dokter yang hendak keluar. Dokter itu menyapanya dengan senyum ramah, sementara orang tersebut membalas dengan anggukan kecil sambil sedikit menunduk.

Bian yang melihat siapa orang itu sontak tersenyum.

"Buat kamu," ujar orang tersebut sambil menyodorkan bingkisan yang berisi buah-buahan.

"Om Bryan?"

Bryan tersenyum hangat, matanya berlinang saat menatap sosok di hadapannya. Tanpa kata, ia memeluk Bian.

Bian terdiam, terasa asing, namun seperti ada kehangatan yang perlahan menyelusup, seolah ia sedang berada di tempat yang aman.

Next...



Jangan lupa tinggalkan jejek :>

Vote, komen and follow!!!

Thank you ♡

Tiktok: Ayayti | Penulis Pena 📚
Instagram: Wp _ayayti1

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 27 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

KARAFERNELIA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang