HAPPY READING
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bryan berdiri di lorong rumah sakit yang sunyi. Dinding putih di sekelilingnya memantulkan kesunyian yang menggema, membiarkan pikirannya berlarian tanpa arah. Tubuhnya terasa berat untuk bergerak, seperti ada beban tak terlihat yang menahan setiap langkahnya. Udara di sekitarnya begitu pekat, penuh dengan tekanan yang tak terucap.
Suaranya sendiri nyaris tak terdengar saat ia berbisik, “Aku harus melakukannya. Demi mereka.” Tapi ketika ia mencoba melangkah maju.
Langkah kaki terdengar dari belakang, memecah keheningan. Suara itu mendekat, perlahan namun pasti. Lalu berhenti.
“Dengar.”
Satu kata itu, dingin dan tajam, membuat Bryan terhenti. Ia memutar tubuhnya perlahan.
Di ujung lorong, berdiri Arvan. Sosok pria itu tampak tegap, namun tatapannya penuh dengan kemarahan dan kekecewaan. Tidak ada kehangatan di matanya, tidak ada sisa kasih seorang ayah. Hanya tatapan dingin yang menusuk, seolah Bryan hanyalah seorang asing yang tak layak berada di sana.
“Kalau kau masih berniat menghancurkan lebih banyak hati,” ujar Arvan tanpa basa-basi, suaranya dingin seperti pisau yang mengiris-iris harapan Bryan, “lebih baik pergi dari sini, sekarang juga!”
Bryan menarik napas dalam-dalam, menahan getar yang mulai menjalar di tubuhnya. Ia mencoba mengumpulkan keberanian untuk berbicara dengan nada tenang, Dengan suara yang sedikit bergetar, ia berkata, “Aku hanya ingin memastikan mereka baik-baik saja, Ayah. Dan... Aku ingin mereka tau, Aku bagian dari hidup mereka. Aku adalah Ayah Mereka, darah daging meraka...”
“Cukup!” Suara Arvan meninggi, menggelar di lorong yang sunyi. “Jangan lagi kau mencoba menjadikan dirimu bagian dari hidup mereka. Kau sudah cukup menyakiti mereka. Jangan tambah lagi penderitaan mereka dengan kehadiranmu!!”
Bryan terdiam. Kata-kata itu seperti hantaman yang membuatnya kehilangan seluruh keberaniannya. Tapi Arvan tidak berhenti di sana. Arvan melangkah mendekat, kali ini Dengan suara lebih rendah, nyaris seperti desisan, ia berkata, “Tidak ada yang membutuhkanmu di sini. Tidak aku, tidak mereka. Mereka sudah bahagia tanpa kehadiranmu. Jadi pergilah. Pergi sejauh mungkin dan jangan pernah kembali!”
“Aku tau apa yang akan kau lakukan setelah ini, Tapi kalau kau pikir kehadiranmu akan memperbaiki semuanya, kau salah besar!” lanjutnya.
Bryan mencoba menelan ludah yang terasa menyesakkan tenggorokannya. “Ayah, aku... Aku hanya ingin melihat mereka. Aku tau kehadiranku tidak pernah ada di hati mereka, tapi—”
“Tapi apa?” potong Arvan, suaranya meninggi. “Kau ingin mereka menerima mu begitu saja?! JANGAN MIMPI!!”
Bryan mengepalkan tangan, mencoba menahan emosi yang mulai naik ke permukaan. "Aku tidak meminta mereka menerima ku begitu saja, tapi aku tidak akan menyerah, aku akan berusaha, sampai mereka benar-benar menerimaku,"
"Ayah... Aku tidak bisa kembali ke masa lalu dan memperbaiki semuanya, lagi. Tapi aku bisa mulai dari sekarang,"
Arvan membalas, "Dan menghancurkan hati mereka? Termasuk Alesha?" Ujar Arvan tajam. "Tidak, kau tidak akan pernah mendapatkan itu,"
"Ayah, tolong jangan berkata seperti itu, aku mohon... Ayah boleh menilai Bryan Buruk, Bryan terima itu semua, Tapi-"
Arvan berbalik dan melangkah pergi begitu saja. Tanpa mendengar ucapan Bryan sampai selesai, Arvan tidak peduli. Langkahnya tegas, meninggalkan Bryan yang membeku di tempat.
Bryan tetap berdiri di sana, menatap punggung Pria itu yang semakin menjauh. Napasnya terasa berat, ia menghembuskan napas, dadanya terasa sesak. Kata-kata yang di lontarkan Arvan tadi masih menggema di pikirannya, memukul-mukul setiap sudut hatinya.
Bryan benar-benar tidak percaya, Arvan sangat membencinya, Karena yang ia tau, dulu Arvan sangat menyayanginya seperti anak kandungnya sendiri, dan sekarang- Bryan tidak merasakan itu, lagi.
Namun, jauh di dalam dirinya, di tengah semua rasa sakit itu, ia tau menyerah bukanlah pilihan. Dengan suara lirih, nyaris seperti doa, Bryan berbisik kepada dirinya sendiri, “Aku akan kembali… apa pun yang terjadi. Aku harus memperbaiki semuanya. Bertahun-tahun aku hidup dalam bayang penyesalan. Kali ini, tidak lagi. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Tidak akan.”
Next....
Haloo, akhirnya sekian lama aku bisa up lagi!! maaf ya kalo lamaa, kalian nunggu lama banget ya? :(
Maaf yaaa, soalnya ada sedikit kendala :)
Ig: wp_ayayti1
Tt: ayayti
Jangan lupa votmenfoll, terimakasih.
KAMU SEDANG MEMBACA
KARAFERNELIA
Teen FictionCerita ini menggambarkan perjalanan emosional Bryan dan Alesha serta dampaknya pada anak-anak mereka, menggambarkan kebahagiaan di tengah kesedihan dan harapan untuk masa depan. .... Raka berdiri di tengah kamar, wajahnya merah dan napasnya memburu...
