HAPPY READING
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya, rutinitas kembali berjalan.
Seperti biasa, Raka dan Bian bersiap untuk berangkat sekolah. Tapi kali ini, ada yang berbeda—mereka harus berangkat dengan “pengawalan ketat” dari Kakek Arvan.
“Kakek, nggak usah dianter. Kita udah gede, keles,” protes Raka sambil mengikat tali sepatunya.
Kakek Arvan menghela nafas, matanya menyipit seperti detektif. “Kalau nggak mau diantar, motor kalian kakek jual! Serius ini!”
Ancaman yang, meski terdengar seperti candaan, cukup ampuh untuk membuat keduanya menyerah. Ancaman itu terdengar ringan, tapi di keluarga mereka, itu lebih menyeramkan daripada nilai merah di rapor. Motor kesayangan jelas bukan sesuatu yang bisa dipertaruhkan begitu saja.
Di depan mobil, Raka menoleh ke arah motor birunya yang terparkir manis di garasi. Dengan gaya melodrama, dia melambaikan tangan dan berkata lirih, “Bye, motor…”
“Plak!” Tangan Bian mendarat mulus di kepala Raka.
“Apaan sih lo!” protes Raka, mengusap kepalanya dengan ekspresi kesal.
Bian hanya menatapnya dengan wajah datar. Klasik.
Tak ingin drama ini jadi tontonan tetangga, mereka akhirnya masuk ke mobil hitam yang sudah standby di halaman. Kakek Arvan duduk di depan, memegang kendali penuh, sementara dua cucunya di belakang, tampak seperti dua tahanan VIP yang mau diantar untuk sidang.
***
Setibanya di SMA Brijaya, Kakek Arvan berubah menjadi mode protektif.
Dengan telaten, ia merapikan kerah seragam Raka dan Bian satu per satu, seperti bocah TK yang ingin mengikuti lomba paduan suara. “Belajar yang rajin ya, cucu-cucu kesayangan Kakek,” katanya sambil tersenyum penuh kasih.
Raka mengganguk seadanya, tapi hatinya berkata, "kapan kakek pensiun nganterin kita?" sementara Bian balas tersenyum kecil. Setelah memastikan keduanya benar-benar masuk ke gerbang sekolah, Kakek Arvan kembali ke mobil, meninggalkan halaman sekolah yang mulai ramai.
Beberapa menit kemudian, sebuah mobil putih berhenti di depan gerbang. Geo turun dengan wajah malas. Langkahnya santai, melewati gerbang sekolah tanpa menoleh ke siapa pun.
Di dalam kelas, pelajaran matematika berjalan seperti biasa—membosankan.
Pelajaran yang, bagi kebanyakan murid, terasa seperti hukuman yang dilegalkan. Hanya segelintir saja yang aneh—mereka suka angka, katanya.
Untuk sebagian besar murid, angka-angka di papan tulis itu adalah musuh bebuyutan. Tapi bagi segelintir anak aneh, matematika adalah cinta pertama yang tak pernah berbalas.
Mayoritas? Mereka hanya bisa memandangi papan tulis dengan harapan bel istirahat segera datang menyelamatkan.
Dan ketika bel itu akhirnya berbunyi, kelas berubah menjadi Medan pelarian. Murid-murid berhamburan keluar, kecuali beberapa yang masih nyaman di dalam.
“Geng, ke kantin?” tanya Gilang sambil mengangkat alis.
“Yok!” sahut Riyan, tanpa pikir panjang, penuh semangat.
“Bian, nggak ikut?” tanya Bima sambil melirik, penasaran dengan sahabatnya yang masih fokus dengan bukunya.
“Duluan aja,” jawab Bian singkat tanpa mengalihkan pandangan.
"Oh, oke," balas Bima, meski raut wajahnya sedikit bingung.
“Serius?” Raka ikut penasaran.
“Hm,” sahut Bian singkat.
Raka mendengus. “tapi kenapa?”
“Kepo,” balas Bian datar.
Tingkah Raka yang menggerutu tanpa suara sambil menyipitkan mata sukses membuat Gilang, Riyan dan Bima menahan tawa, hampir terpingkal.
Kini, suasana kelas terasa hening. Bian tetap di tempatnya, tenggelam dalam buku dan pikirannya sendiri. Tangan kirinya memutar bulpen dengan lincah, sementara earphone di telinganya memisahkan dia dari dunia luar.
Hening dan Tenang.
Next...
Ig: wp_ayayti1
Tt: ayayti
KAMU SEDANG MEMBACA
KARAFERNELIA
Fiksi RemajaCerita ini menggambarkan perjalanan emosional Bryan dan Alesha serta dampaknya pada anak-anak mereka, menggambarkan kebahagiaan di tengah kesedihan dan harapan untuk masa depan. .... Raka berdiri di tengah kamar, wajahnya merah dan napasnya memburu...
