Happy reading
"Typo selalu muncul mohon koreksinya nanti saya revisi kembali terimakasih"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Terima kasih, Om," ujar Bian sambil menyunggingkan senyum.
Sebelum keluar dari mobil, Bian kembali mengucapkan terima kasih pada Bryan yang sudah mentraktirnya. Bryan mengangguk pelan. Saat Bian hendak membuka pintu mobil, Bryan memanggilnya.
"Bian, saya boleh minta nomor kamu nggak?"
Bian menoleh sambil tersenyum kecil, "Boleh, mana HP-nya?"
Bian mengetikkan nomornya di ponsel Bryan dan menamai kontaknya sebagai "Bian".
"Terima kasih, ya," ucap Bryan dengan senyum.
"Sama-sama, Om."
Sebenarnya, Bryan ingin mengantar Bian sampai ke rumah, tapi Bian menolak dengan sopan. Katanya; "Takut nanti Bunda marah kalau aku bawa orang asing sampai rumah," jelasnya dengan sedikit cemas.
"Oh, baiklah," jawab Bryan sambil tersenyum.
Bryan meraih dua botol kopi dingin dari tas belanjaan di jok belakang dan menyerahkannya pada Bian.
"Ini buat kamu."
"Terima kasih banyak, Om. Semoga kita bisa bertemu lagi."
Bryan mengelus rambut Bian dengan lembut, penuh rasa sayang.
Bian kemudian mengambil tas belanjaannya, membuka pintu mobil, dan menutupnya pelan. Saat hendak menyebrang jalan, ia melihat Raka baru saja keluar dari supermarket dengan wajah cemberut.
"Raka!" panggil Bian keras dari kejauhan.
Raka menoleh dan senyum langsung terukir di wajahnya ketika melihat Bian. Ia melambaikan tangan, dan Bian segera menyebrangi jalan dengan hati-hati.
Dari dalam mobil, Bryan memperhatikan mereka berdua sambil tersenyum tipis. Ia mencoba membedakan wajah Bian dan Raka—sama-sama tampan dan sulit dibedakan.
"Lu dari mana aja sih?" tanya Raka sambil mengambil salah satu tas belanjaan Bian. Mereka berjalan beriringan menuju rumah.
"Ah, panjang ceritanya!"
"Tau nggak, gara-gara nyariin lu, gue malah diomelin sama satpam supermarket," gerutu Raka.
"Kok bisa?" Bian mengernyitkan dahi penasaran.
"Begini ceritanya..."
Flashback on
Setelah berkeliling supermarket dan tidak menemukan Bian, Raka memutuskan keluar. Tapi saat ia melangkah ke pintu keluar, seorang satpam tiba-tiba muncul di hadapannya seperti hantu.
"Mas, bisa minggir nggak?" ujar Raka dengan nada kesal.
"Mas, jangan-jangan Mas orang jahat ya?" balas satpam dengan tatapan mencurigakan.
"Emangnya saya kelihatan kayak orang jahat?" Raka menatap satpam itu dengan heran.
"Lah, Mas di sini nggak beli apa-apa cuma mondar-mandir aja."
"Saya lagi cari saudara saya," jawab Raka kesal.
"Gausah ngeles, deh. Mas mau nyuri kan? Ngaku aja, atau saya laporin ke kantor polisi!"
Raka mendengus kesal. "Denger, ya, Pak. Saya nggak punya niat nyuri. Duit saya cukup buat beli barang di sini. Bahkan, kalau mau, saya bisa beli supermarket ini sekalian. Dan, silakan laporin saya ke polisi. Tapi kalau saya nggak bersalah, saya bisa nuntut balik, lho, karena Bapak sudah mencemarkan nama baik saya."
Ucapan Raka membuat mata satpam itu melotot panik. Tanpa banyak bicara lagi, ia segera membiarkan Raka pergi.
Flashback off
"Hahaha, ya iyalah, lu mondar-mandir di supermarket nggak beli apa-apa, wajar Pak Satpam curiga," Bian tertawa kecil.
Raka langsung menjitak kepala Bian karena menertawakannya. Bian buru-buru menutup mulutnya, menahan tawa yang hampir pecah
***
Langit yang tadinya terang kini berubah gelap karena malam sudah tiba. Di rumah Bryan, mereka sedang berkumpul di meja makan untuk makan malam.
"Kek, bujuk Papa biar nggak jadi mindahin Geo sekolah," bisik Geo pelan di samping Rama, ayah Bryan yang sudah sepuh.
Rama menatap Bryan dengan tatapan lembut, "Bryan, ubah keputusanmu buat mindahin cucuku."
Bryan hanya menghela napas, "Maaf, Yah, aku nggak bisa. Geo sudah aku daftarkan ke sekolah barunya. Besok dia langsung mulai sekolah di sana," jawabnya sambil menatap Geo yang hanya bisa menunduk lesu.
Aletta yang duduk di samping Bryan ikut merasa iba melihat Geo yang tampak sedih. "Sayang, kamu nggak kasihan sama Geo?" bujuk Aletta dengan suara lembut.
Bryan tetap tegas dan menatap makanannya, "Berhenti memanjakan dia. Nanti jadi kebiasaan," katanya tanpa menoleh ke arah Aletta, lalu melanjutkan makannya.
"Sudah, jangan debat di meja makan, nggak baik," potong Ingih, ibu Bryan sekaligus nenek Geo.
Ia tersenyum dan mengelus pundak Geo. "Geo, jangan sedih ya, besok pasti ketemu teman-teman baru di sekolah yang baru."
Geo merasa kesal dengan semua ini. Ia melampiaskan emosinya dengan menyendok nasi keras-keras, hingga terdengar suara berisik dari sendoknya yang sengaja di pukul-pukulkan ke piring.
Melihat tingkah Geo, yang lain hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, seperti sudah biasa Dengan semua ini.
***
Ig: wp_ayayti1
Tt: ayayti
KAMU SEDANG MEMBACA
KARAFERNELIA
Teen FictionCerita ini menggambarkan perjalanan emosional Bryan dan Alesha serta dampaknya pada anak-anak mereka, menggambarkan kebahagiaan di tengah kesedihan dan harapan untuk masa depan. .... Raka berdiri di tengah kamar, wajahnya merah dan napasnya memburu...
