k32: Tragedi Setelah Tawa

190 11 0
                                        

HAPPY READING
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Sebelum pulang, mereka berhenti di salah satu sudut pasar malam yang dihiasi lampu-lampu kerlap-kerlip untuk foto bersama.

"Ini siapa yang motoin?" tanya Bima, mengernyit sambil memegang dagunya. Mereka semua terdiam, tampak berpikir keras.

"Udah, gue aja yang pegang kamera. Kalian ambil gaya aja," ujar Gilang sambil mengambil posisi memotret.

"Jangan dong, masa kamunya ga ikut foto, kan gak lengkap jadi nya," Ujar Bian.

Tiba-tiba, Riyan melangkah ke depan dengan percaya diri. "Neng-Neng boleh minta tolong gak? fotoin kita dong," Katanya dengan suara santai ke arah segerombolan gadis yang lewat.

Mereka semua langsung menoleh, terdiam sejenak, lalu kompak memalingkan wajahnya seolah tidak kenal dengan yang namanya Riyan. "Duh, bener-bener ya, si Riyan! Gak ada rasa malu sedikit pun, heran." gumam Raka sambil memijat pelipisnya.

Untungnya, salah satu gadis itu setuju membantu. "Boleh, sini kameranya," ucap gadis itu ramah.

Mereka pun mulai mengambil posisi. Riyan berdiri paling depan, mengangkat dua jari dengan gaya peace. Bima berdiri di sampingnya, tersenyum polos sambil memegang sisa cimol di tangannya. Raka memilih gaya metal dengan tangan membentuk simbol rock. Bian tersenyum tipis, tangannya ia masukkan ke dalam saku jaket. Sementara, Gilang...

"Eh, lang, gaya lu jangan serius-serius amat. Ini foto santai, bukan lamaran," celetuk Riyan, membuat yang lain tertawa.

"Diam lu," jawab Gilang sambil memaksakan senyum kecil.

Setelah beberapa jepretan, mereka berkumpul untuk melihat hasil fotonya.

"Bagus juga, ya. Ini bisa gue cetak buat pajangan di rumah," kata Gilang bangga.

Riyan langsung menyela. "Cetak yang gede, terus tempel setiap sudut rumah lu. Biar orang-orang yang datang tau betapa kerennya kita, setan di rumah lu pun minder lihatnya"

Tanpa pikir panjang, Gilang menjitak kepala Riyan. "Mulut lo nggak bisa libur ya, Yan?"

Semua tertawa, kehangatan malam itu terasa begitu nyata. Sebelum benar-benar pulang, mereka mampir ke supermarket untuk membeli susu buat adik Gilang. Malam sederhana di pasar malam itu menjadi momen yang akan selalu mereka ingat—penuh tawa, canda, dan cerita yang akan selalu mereka kenang.

***

Langit malam mulai memudar, menyisakan orkestra lampu jalanan dan bayangan yang saling berkejaran di aspal. Gilang keluar dari supermarket, langkahnya tenang namun sedikit terburu-buru. Di tangannya tergantung kantung plastik berisi sekotak susu—sesuatu yang terlihat biasa, tapi dalam dunia adiknya yang masih balita, itu adalah harta karun.

Di parkiran, teman-temannya duduk malas di atas motor. Suara obrolan mereka melayang ke udara, membicarakan hal-hal kecil yang, entah kenapa, selalu terasa penting saat malam mulai beranjak dingin.

Begitu melihat Gilang, mereka serempak menoleh.

“Yok,” ucap Gilang singkat. Kata itu seperti tanda, tanpa drama, tanpa basa-basi. Ia melangkah menuju motornya, bersiap untuk pulang kerumah masing-masing.

Belum sempat mereka menyalakan motor, perhatian Riyan mendadak teralihkan.

“Eh, Bi! Lu mau ke mana?” tanyanya heran, matanya terpaku pada Bian yang tiba-tiba turun dari motor, berlari ke arah jalan raya dengan langkah tergesa-gesa tanpa penjelasan apa-apa.

Semua menoleh. Bian berlari, cepat dan tanpa aba-aba, meninggalkan motor yang masih berdiri tegap.

“Bian!” teriak Raka keras, suaranya memecah malam. matanya langsung terpaku pada arah lari Bian—dan sebuah truk besar yang melaju seperti angin badai.

BRAK!

Detik berikutnya terasa seperti mimpi buruk yang berjalan lambat. Dentuman keras itu seperti petir yang jatuh di tengah malam. Dari arah berlawanan, sebuah truk melaju dengan kecepatan gila. Dalam sekejap, tubuh Bian tersambar keras. Suara benturan itu memecah malam, tubuhnya terpental jauh, terhempas ke aspal tanpa gerakan, sementara truk itu melaju tanpa berhenti.

Next...

Ig: wp_ayayti1
Tt: ayayti

Jangan lupa votmenfoll, terimakasih.

KARAFERNELIA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang