42: Raka Berubah?

184 9 0
                                        

HAPPY READING
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Seminggu telah berlalu, dan seperti biasa, Raka adalah orang pertama yang bergegas cepat saat bel pulang sekolah berbunyi. Bukan karena ia tak sabar untuk pulang ke rumah, melainkan karena ada tempat lain yang lebih ingin ia datangi—rumah sakit. Tempat yang sama, ruangan yang sama.

Ia tau, yang akan ia temui hanyalah tubuh lemah Bian yang terbaring diam di ranjang rumah sakit. Tak bergerak, tak bersuara. Hanya wajahnya yang tampak tenang, seolah sedang tertidur—tanpa kepastian kapan akan terbangun.

Raka dengan semangat memasukkan buku-bukunya ke dalam tas, gerakannya cepat dan penuh antusias.

Gilang, Riyan, dan Bima yang memperhatikannya hanya bisa saling melirik, mencoba memahami apa yang sebenarnya ada di kepala sahabat mereka. Tapi bukankah ini sudah menjadi kebiasaan sejak seminggu terakhir?

Sejak kejadian itu, Raka lebih sering tertidur di kelas. Saat jam istirahat pun, ia hampir tak pernah ke kantin, meskipun sahabat-sahabatnya sudah berusaha membujuknya dengan berbagai cara. Namun, Raka selalu menolak, terkadang hanya menggeleng, terkadang bahkan tidak merespons sama sekali.

Yang membuat mereka semakin heran, meskipun sering tertidur di kelas, Raka selalu terbangun tepat saat bel pulang berbunyi, tanpa perlu dibangunkan. Seolah tubuhnya sudah terbiasa, seperti refleks yang otomatis bekerja setiap kali waktunya tiba.

Mereka bertiga semakin menyadari bahwa Raka perlahan menjauh. Percakapan yang dulu mengalir dengan mudah kini terasa kaku, nyaris tak ada.

Canda tawa yang biasanya mengisi hari-hari mereka menghilang, berganti dengan keheningan yang canggung.

Hubungan yang dulu erat kini terasa renggang.

Dan mereka bertanya-tanya dalam hati—apakah Raka masih menganggap mereka sahabatnya?

Saat Raka hendak memasukkan buku terakhir ke dalam tas, tiba-tiba buku itu terjatuh ke lantai. Ia berdecak kesal, lalu membungkuk untuk mengambilnya. Namun, sebelum tangannya sempat meraih, sebuah tangan lain lebih dulu mengambil buku itu.

Raka mendongak, pandangannya bertemu dengan Gilang, Sesaat, ia hanya diam.

Tanpa berkata apa-apa, ia langsung mengambil buku dari tangan Gilang dan memasukkannya ke dalam tas. Gerakannya cepat, seolah ingin segera mengakhiri interaksi itu.

"Thanks, Lang," gumam Raka singkat.

Gilang yang mendengar itu langsung membelalakkan mata, seolah tak percaya. Ia menoleh ke belakang, menatap Riyan dan Bima yang balas menatapnya dengan ekspresi terkejut dan bingung. Mereka saling bertukar pandang, seakan mendapat secercah celah untuk mendekati Raka lagi.

Sementara itu, Raka berdiri dari duduknya tanpa sedikit pun menoleh ke arah mereka. Ia melangkah maju, melewati Gilang begitu saja, bahkan tanpa ragu meski Gilang sedikit menghalangi jalannya.

Gilang yang sejak tadi menimbang-nimbang akhirnya memberanikan diri. Ia berdeham pelan sebelum akhirnya membuka suara.

"Em, Raka... bisa kita ngobrol sebentar?"

Langkah Raka terhenti. Namun, ia tak berbalik. Tatapannya tetap kosong, lurus ke depan.

Gilang, Riyan, dan Bima saling melirik sebelum kembali menatap punggung Raka yang diam di tempat. Mereka menunggu, berharap Raka mau memberikan mereka sedikit waktu.

"Nanti aja, gue buru-buru," jawabnya singkat.

Tanpa menunggu respons, ia langsung melangkah pergi, meninggalkan ketiga sahabatnya yang hanya bisa menatap punggungnya yang semakin menjauh.

Gilang menghela napas, menatap ke arah Raka yang semakin menjauh. "Lo pada sadar nggak sih? Dia kayak nggak mau deket sama kita lagi," ujarnya lirih.

Riyan menyandarkan tubuhnya ke meja, tatapannya kosong. "ini bukan Raka yang gue kenal," gumam Riyan pelan.

Bima menggigit bibirnya, lalu bergumam pelan, "iya... Kayak beda orang," balas Bima, suaranya terdengar Ragu.

Mereka bertiga terdiam, masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri. Hingga akhirnya Gilang berkata dengan nada pelan tapi penuh tekad, "Dia tetap Raka. Gue nggak peduli dia berubah atau nggak, yang jelas, kita tetap jadi sahabatnya!"




Next...

Haii aku iseng buat Au siapa tau kalian mau baca, hehe

Judulnya: zylan, si anak pertama.

Aku post di tik-tok aku yaaa, jangan Lupa BACA!  Dan komen yaaa, follow jugak akun aku, terimakaci 😍

Ig: wp_ayayti1
Tt: ayayti

Jangan lupa votmenfoll, terimakasih.

KARAFERNELIA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang