HAPPY READING
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sementara, di warung bakso, Pak Jarwo; Raka, Gilang, dan Riyan sudah menyelesaikan makanannya.
"Mana sih Bian sama Bima? Lama banget," keluh Raka, yang mulai bosan menunggu.
"kita cari aja, Gimana? Daripada nunggu gak jelas," usul Gilang sambil berdiri.
Riyan mengernyit. "Tapi nanti kalo mereka nyariin kita, gimana? Ntar malah saling nyari."
Raka menghela napas panjang, menatap mereka berdua sejenak sebelum akhirnya berkata, "Udah, cari aja. Biar nggak basi ngabisin waktu di sini." Mereka bertiga pun meninggalkan warung bakso dan mulai menyusuri keramaian pasar malam.
Saat sedang berjalan di antara kerumunan, suara seorang bapak tua tiba-tiba menarik perhatian mereka.
"Nak, ini sate-nya," ujar bapak itu sambil menyodorkan sebungkus sate ke arah Raka.
Raka menoleh, bingung. "Saya nggak beli sate, Pak."
"Loh, tadi katanya beli sate. Jangan bohong, ya," balas si bapak dengan alis terangkat.
"Beneran, Pak. Saya nggak beli apa-apa," jawab Raka, mencoba bersikap tenang meskipun kepalanya mulai pening.
"Meskipun saya udah tua, saya nggak pikun, Nak."
Raka tersenyum kecut, berusaha menjaga nada bicaranya tetap sopan. "Siapa juga yang bilang Bapak pikun?"
"Tuh kan, anak zaman sekarang emang nggak punya sopan santun," gerutu si bapak.
Gilang, yang sedari tadi menyimak, berbisik pelan ke arah Raka. "mungkin yang beli si Bian. Kan dia kembar sama lu. Salah orang kali."
Raka mengusap wajahnya, lalu menatap bapak itu dengan senyum yang dipaksakan. "Gini, Pak. Saya kan punya kembaran. Mungkin tadi dia yang beli sate, terus sekarang lagi keliling. Mungkin gitu pak,"
Bapak itu melipat tangan dengan skeptis. "Terus kembaran kamu dimana sekarang? Kok nggak sama kamu? kamu bohong kan?"
Raka menekan pelipisnya, merasa situasi ini makin tidak masuk akal. "Ya ampun, Pak. Masa muka saya keliatan kayak pembohong?"
"Dikit," seloroh Riyan sambil menyeringai, yang langsung mendapatkan tatapan menusuk dari Raka.
"Udah sih bayar aja, gak enak di liatin banyak orang di sini" Ujar Gilang pelan sambil melirik ke arah sekitar.
Raka menghela nafas, lalu mengeluarkan dompetnya. "Ya udah, berapa sate-nya, Pak?"
"Dua puluh ribu," jawab si bapak sambil menyerahkan sate itu.
Raka mengeluarkan uang seratus ribu, menyerahkannya sambil berkata, "ambil aja kembalian-nya, Pak."
Si bapak terdiam sejenak, tampak terkejut. "Beneran, Nak? Makasih, ya." Suaranya kini lebih lembut, disertai senyum canggung. "Maaf, ya, tadi udah nuduh-nuduh."
Raka hanya mengangguk kecil sambil tersenyum tipis. "Iya, Pak. Nggak apa-apa." Lalu segera melangkah pergi.
Begitu agak jauh, Riyan langsung mendekat sambil berbisik. "Keren banget, lo Rak. Tapi beneran-lo, muka lo emang kayak tampang tukang tipu."
Tanpa banyak bicara, Raka langsung melayangkan jitakan kecil ke kepala Riyan, sementara Gilang terkekeh di belakang. "Udah, lo diem aja. Ntar gue beli sate terus gue sumpelin ke mulut lo, biar tau rasa!" Balas Raka sebal, tapi dengan senyum tipis di bibirnya.
Setelah mereka akhirnya menemukan Bian dan Bima di area permainan, Riyan langsung berseru dengan nada kesal, "Lama banget sih kalian! Ngilang kayak hantu aja."
"Tau, tuh! Dicariin ke mana-mana, taunya santai-santai di sini," tambah Gilang, ikut meluapkan kekesalannya sambil melipat tangan.
"Lah, kalian kenapa nyusul? Udah beres makan baksonya?" tanya Bima santai, masih asyik mengunyah cimol.
"Udah. Nih," balas Raka singkat sambil menyodorkan sebungkus sate ke Bian.
Bian mengernyit, bingung. "Apaan?" tanyanya sambil menerima sate itu.
"Sate. Lo beli sate, kan?" jawab Raka dengan nada datar.
Bian menatap sate di tangannya, lalu kembali menatap Raka. "Oh iya, tadi beli. Tapi kok ini... Kamu beli juga?"
Raka menghela napas panjang, lelah mengingat insiden tadi. "Nggak, ini gara-gara bapak penjualnya ngira gue yang beli sate. Udah capek banget jelasin tadi."
Bian hanya mengangguk pelan, menyadari situasi. "Oh, gitu... Ya udah, makasih."
"Ih, enak tuh!" seru Riyan tiba-tiba, matanya berbinar melihat cimol di tangan Bima. Tanpa permisi, dia langsung meraih sejumput cimol dan memasukkannya ke mulut.
"Eh!- Itu cimol ku!" protes Bima, mendelik kesal sambil mencoba melindungi sisanya.
Riyan hanya terkekeh sambil mengunyah. "Santai, Bim. Gue cuma nyicip, kok."
Bima mendengus, tapi akhirnya menyerah. "Iya deh, abis ini traktir gue lagi, ya!"
"Yaudah, yuk, pulang?" ujar Bian, mencoba mengakhiri drama kecil mereka.
Namun, Gilang tiba-tiba angkat bicara, matanya berbinar penuh semangat. "Eh, jangan pulang dulu lah! Satu permainan lagi gimana? Kita belum coba yang itu tuh!" ujarnya sambil menunjuk ke arah wahana.
Mereka menoleh ke arah tempat yang di tunjuk Gilang, sementara Riyan dan Bima saling pandang, lalu serempak menjawab, "Gas!"
mereka memutuskan bermain wahana terakhir sebelum pulang: rumah kaca.
"Yakin mau ke sini? Pasti Riyan bakal panik liat pantulannya sendiri," ejek Bian.
"Apa sih, lu? Gue ini fotogenik," balas Riyan dengan penuh percaya diri.
Di dalam rumah kaca, tawa mereka pecah ketika Riyan berjalan terlalu cepat dan menabrak salah satu dinding kaca.
"Bodoh! Gue kira itu jalan," keluh Riyan, sambil mengusap dahinya yang merah.
"Tuh kan," kata Gilang sambil tertawa puas.
Next...
Ig: wp_ayayti1
Tt: ayayti
Jangan lupa votmenfoll, terimakasih.
KAMU SEDANG MEMBACA
KARAFERNELIA
Fiksi RemajaCerita ini menggambarkan perjalanan emosional Bryan dan Alesha serta dampaknya pada anak-anak mereka, menggambarkan kebahagiaan di tengah kesedihan dan harapan untuk masa depan. .... Raka berdiri di tengah kamar, wajahnya merah dan napasnya memburu...
