k38: Kenyataan Yang Pahit

196 13 0
                                        

HAPPY READING
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Di sisi lain rumah sakit, tiga pemuda—Bima, Gilang, dan Riyan—duduk di kursi panjang. Wajah mereka lesu, tetapi tekad untuk menemani Raka terlihat jelas.

Saat Arvan mendekat, ia berhenti di depan mereka. "Kalian nggak pulang?"

“Enggak, Kek,” jawab Riyan sambil menggeleng. “kita mau nemenin Raka jagain Bian di sini.”

Arvan menghela napas panjang. “Kalian ini keras kepala sekali. Pulanglah. Besok kalian harus sekolah. Setelah pulang sekolah, baru kalian boleh kembali ke sini.” ucapnya sedikit lembut.

“Tapi, Kek...” Gilang mencoba menyela.

“Tidak ada tapi-tapian!” tegas Arvan.

Raka, yang baru keluar dari ruangan Bian, mendekat. “iya kalian pulang aja, besok kalian harus sekolah.”

“Raka, kau juga harus pulang,” ucap Arvan dengan nada yang tak bisa dibantah.

"Tapi, kek..."

“Kalian ini keras kepala sekali,” ujar Arvan dengan nada frustrasi. “Kakek disini, kakek yang akan jaga Bian. Besok kalian boleh ke sini, tapi setelah pulang sekolah.”

Akhirnya, dengan berat hati, Raka dan teman-temannya menurut. Sebelum pergi, Raka masuk sebentar ke ruangan Bian untuk menggambil jaket, lalu mendekati ranjang dan membisikkan sesuatu.

“Bi, cepat sadar, ya. Gue pulang dulu. Besok gue balik lagi. Lo disini sama kakek, ya?”

Sebelum pergi Raka memeluk kakeknya. “Kalau ada apa-apa, kabarin, ya, Kek.”

Arvan mengangguk pelan. Keempat anak itu pun meninggalkan rumah sakit, sementara Arvan berdiri di tempat, menatap punggung mereka yang semakin menjauh.

Di ujung lorong, Bryan Baru saja keluar dari ruangan Geo. Pandangannya tanpa sengaja bertemu Raka yang berjalan bersama teman-temannya.

Raka hanya melirik Bryan sekilas, tanpa ekspresi. Lalu, dengan dingin, ia melanjutkan langkahnya, seolah menegaskan jarak yang takkan pernah bisa dijembatani. Bryan hanya bisa berdiri di tempat, diam dengan pikirannya sendiri. Menatap mereka hingga hilang di balik tikungan.

Di lorong yang sama, Bryan tetap berdiri di tempat, tubuhnya terasa berat untuk bergerak. Pandangannya kosong menatap ujung lorong yang kini sepi. Hanya suara langkah perawat yang samar-samar terdengar, namun semuanya terasa hening di dalam pikirannya.

Bayangan wajah Raka—tatapan dingin itu—dan Bian yang terbaring tak sadarkan diri terus menghantui benaknya. Mereka sudah tumbuh besar, jauh berbeda dari yang ia bayangkan dan Dia adalah ayah mereka, tapi di mata mereka, dia mungkin tak lebih dari orang asing.

Bryan menarik napas panjang, mencoba menguatkan diri. Namun, pikirannya malah semakin kacau.

“mereka sudah besar dan tumbuh dengan baik, tampan dan juga tinggi... Aku benar-benar terlambat” gumamnya pelan, suara itu nyaris tenggelam dalam keheningan lorong.

Ia menundukkan kepala, mengepalkan tangan. Ingatannya kembali pada percakapan terakhir dengan Alesha, bertahun-tahun lalu. Kata-kata dingin penuh kemarahan itu, tuduhan-tuduhan yang tak pernah bisa ia sangkal atau jelaskan. Semua terasa begitu nyata di kepalanya, meski sudah lama berlalu.

Ia memejamkan mata, mencoba menenangkan diri. Tapi, yang muncul justru potongan wajah Raka dan Bian—senyuman mereka.

Bryan membuka mata, menatap langit-langit lorong. Ada genangan air mata yang ia tahan mati-matian. “Kalau saja aku bisa memperbaiki semuanya…” gumamnya, hampir tak terdengar.

Tiba-tiba, suara kecil dari arah belakang memecah lamunannya. “om kenapa nangis?”

Bryan tersentak. Ia berbalik cepat, mendapati seorang bocah laki-laki berdiri tidak jauh darinya. Anak itu menatapnya dengan mata polos, memiringkan kepala seolah penasaran. Bryan terdiam beberapa saat, lalu mencoba tersenyum, meski suaranya bergetar.

“Tidak,” jawabnya lembut.

Bocah itu mengernyit, tidak percaya. “Tapi mata Om merah,” katanya polos.

Bryan terdiam lagi. Ia menghela napas panjang, lalu berjongkok di depan anak itu. “Kamu ngapain di sini sendirian?” tanyanya, mencoba mengalihkan perhatian.

“Aku nunggu Ayah,” jawab anak itu santai. “Ayah bilang aku nggak boleh masuk ruangan kalau lagi ada dokter.”

Bryan tersenyum kecil, kali ini lebih tulus. "Hebat, ya, kamu nurut sama Ayah."

Bocah itu mengangguk penuh semangat. “Iya dong! Soalnya Ayah bilang, kalau aku nurut, aku jadi anak yang baik.”

Kata-kata sederhana itu seperti menampar Bryan. Lalu mengangguk pelan. "Kamu anak yang baik."

“Anak yang baik…” ulangnya lagi, kali ini dengan suara lebih lirih.

Bocah itu tersenyum lebar, lalu berlari kecil menuju seorang pria yang baru saja keluar dari ruangan di ujung lorong. Bryan menatap mereka dari jauh. Pemandangan itu terasa seperti pisau yang menusuk hatinya.

Bryan membayangkan ada di posisi itu, berjalan... Bergandengan tangan dengan Raka dan Bian, tertawa bersama dan saling berbagi cerita. tapi ia tau, itu hanya mustahil untuk menjadi kenyataan.

Dia memejamkan mata, mencoba menenangkan pikirannya. Tapi di balik kelopak matanya, ia hanya bisa membayangkan wajah kecil Raka dan Bian, seharusnya ia ada di sana menyaksikan tumbuh kembang mereka, seharusnya ia ada di sana menjadi garda terdepan saat mereka mengalami kesulitan, tapi dia tak pernah benar-benar ada di sana untuk mereka.




Next...

Ig: wp_ayayti1
Tt: ayayti

Jangan lupa votmenfoll, terimakasih.

KARAFERNELIA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang