HAPPY READING
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"bunda mau lihat bian dong" suara Alesha terdengar lembut dari ponsel, seperti angin yang membawa kenangan hangat dari tempat jauh.
"Boleh" jawab Raka sambil tersenyum kecil.
"Kakek tinggal ke kamar dulu ya. kalo sudah selesai telfon, ponselnya taruh di meja kamar Kakek. Kakek mau tidur, ngantuk." Ucap kakek sambil mengusap pelipisnya.
"Iya, kakek," balas Raka.
"Lesha, putri ayah, jaga diri baik baik di sana ya. jangan lupa makan"
"Iya ayah, selamat malam" jawab Alesha Lembut.
Setelah panggilan beralih sepenuhnya ke Bian, Raka berdiri perlahan dan melangkah menuju kamar Bian.
Sesampainya di depan kamar Bian.
Raka membuka pintu kamar Bian dengan hati-hati, membiarkan cahaya lampu merambat masuk, menggantikan gelap yang menyelimuti. Di atas ranjang, tubuh Bian meringkuk dalam pelukan selimut dan guling, seolah-olah dunia luar terlalu melelahkan untuk dihadapi.
Raka, tanpa berpikir panjang, naik ke kasur. Ia bersandar di tembok, lalu menatap adiknya sejenak. Di layar ponsel, Alesha menunggu dengan senyuman. Senyuman itu membawa Raka kembali ke masa kecil mereka—hari-hari ketika suara “Bunda” adalah pelipur segala luka.
Raka menyodorkan layar ponsel ke arah wajah Bian, “Ini, Bund,” bisik Raka kepada layar, menatap Alesha yang tersenyum dari ujung seberang dunia. Senyum itu seperti sepotong rumah yang tak pernah benar-benar hilang.
“Bi, bangun! Ada Bunda, nih,” Raka mengguncang bahu Bian.
Bian hanya bergumam, menggeliat seperti cacing kepanasan. “Bohong. Orang Bunda lagi di Amerika,” jawabnya dengan suara serak, masih setengah terkurung dalam mimpi.
“Ish, lihat dulu,” sahut Raka, setengah kesal, tapi cukup sabar.
Setelah perjuangan yang tak terlalu panjang—sebuah kombinasi guncangan, dan ancaman—Bian akhirnya membuka matanya perlahan. Ia mengucek matanya yang malas, menguap seperti anak kucing mengantuk, sebelum akhirnya menatap layar ponsel yang disodorkan Raka.
Dan saat itu juga, dunia Bian berubah.
“Hai, Sayang,” suara Alesha terdengar, lembut dan hangat, membawa rasa rumah yang seperti sudah lama ia rindukan.
“Bunda…” Bian melafalkan kata itu seperti mantra, nyaris tanpa suara.
Di layar, Alesha memiringkan kepala, senyumnya meluas, tapi nada suaranya berubah menggoda. “Ih, muka kamu kenapa? Luka-luka begitu. Kan jadi jelek.”
“Ish, Bunda,” protes Bian, wajahnya memerah samar. Tapi, bukannya tersinggung, ia justru berusaha menahan senyum kecil yang mulai muncul di bibirnya. Bian merasa malu karena wajahnya masih banyak luka dan plester. Ia kembali merebahkan tubuhnya, mencoba mengabaikan kehadiran Bunda—yang tentu saja sia-sia.
“Eh, jangan tidur lagi, dong!” sergah Raka, mendorong bahunya. “Ngobrol dulu sama Bunda!”
Dengan berat hati, Bian akhirnya bangun sepenuhnya, duduk di kasurnya sambil menggaruk-garuk kepala.
Dan malam itu, obrolan pun mengalir. Canda, cerita, keluh kesah dan rindu melebur menjadi satu. Jarak ribuan kilometer seolah tak berarti. Ada momen-momen yang tak akan kembali, tapi saat-saat seperti ini selalu mengingatkan mereka: cinta keluarga adalah jangkar yang menjaga mereka tetap kuat, meski dunia luar terlalu menakutkan.
Ketika panggilan akhirnya selesai, keheningan kembali menguasai kamar. Bian sudah kembali terlelap, sementara Raka tetap bersandar di dinding, menatap ponselnya yang kini hanya menyisakan layar gelap.
Jauh di ujung dunia, Alesha menutup panggilannya dengan senyum yang masih tersisa. Rindu masih menggelayut di dadanya, tapi malam ini ia merasa lebih dekat dengan rumah, Sejauh apa pun jaraknya.
Next...
Ig: wp_ayayti1
Tt: ayayti
Jangan lupa votmenfoll, terimakasih.
KAMU SEDANG MEMBACA
KARAFERNELIA
Teen FictionCerita ini menggambarkan perjalanan emosional Bryan dan Alesha serta dampaknya pada anak-anak mereka, menggambarkan kebahagiaan di tengah kesedihan dan harapan untuk masa depan. .... Raka berdiri di tengah kamar, wajahnya merah dan napasnya memburu...
