43: BUKAN SIAPA-SIAPA

164 10 0
                                        

HAPPY READING
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.


Setelah pulang sekolah, Raka tidak langsung ke rumah sakit. Ia memilih pulang dulu, membersihkan diri, mengganti seragam, memberi dirinya jeda sejenak sebelum kembali ke rutinitas yang menyesakkan.

Begitu selesai, ia menghidupkan motor dan memutar gas tanpa ragu. Angin dingin menampar wajahnya sepanjang perjalanan, tapi pikirannya lebih dingin dari itu.

Sesampainya di rumah sakit, ia memarkir motor, lalu masuk dengan langkah cepat. Satpam di lobi menoleh dan mengangguk, sudah hafal dengan wajah anak itu—terlalu sering datang hingga kini terasa seperti bagian dari tempat ini.

Di luar kamar ruangan, seorang pria berdiri diam di balik kaca. Jaket hitam, topi rendah, masker menutupi hampir seluruh wajahnya.

Hanya matanya yang terlihat—tatapan yang terpatri pada tubuh ringkih di ranjang sana.

"Bian…" Suaranya tercekat, nyaris hanya berupa bisikan.

Tangannya mengepal di dada, menahan sesuatu yang berat. Napasnya tersengal, dan tanpa sadar, setetes air mata jatuh, menggelapkan kain masker yang ia kenakan.

"Saya di sini…" Bisikan itu nyaris hancur di tenggorokan. "Ingin sekali saya memeluk kamu…"

Namun langkahnya tetap terpaku di tempat.

Karena ia tau, batasnya hanya sampai di sini.

Ia hanya bisa menjadi bayangan—menonton dari kejauhan, tanpa hak untuk masuk lebih dekat.

Sampai sebuah tangan mencengkeram bahunya dengan keras.

Tarikan itu kasar, membuatnya tersentak dan berbalik dengan cepat.

Matanya membelalak begitu melihat siapa yang berdiri di depannya.

Raka.

Tanpa peringatan, Raka merenggut masker hitamnya, menariknya dengan gerakan kasar. Masker itu terlepas, memperlihatkan wajah yang selama ini bersembunyi dalam bayang-bayang.

Bryan.

Sejenak, mereka hanya saling menatap.

Raka tak berkata apa-apa. Ia hanya mengulurkan tangannya lagi—bukan untuk menyerang, bukan untuk mendorong—tetapi untuk menggenggam pergelangan tangan Bryan dengan cengkeraman kuat.

"Kita perlu bicara."

Tak ada ruang untuk menolak.

Bryan tetap diam. Ia tidak melawan. Hanya membiarkan dirinya ditarik pergi, meski hatinya dipenuhi ribuan pertanyaan yang menggantung tanpa jawaban.

Di lorong rumah sakit, mereka berdiri berhadapan.

Hening.

Lalu suara Raka terdengar lebih dulu.

"Mau apa Anda ke sini?"

Nada suaranya dingin, tajam seperti belati yang siap menusuk kapan saja.

Bryan menelan ludah. "S-saya cuma lewat dan—nggak sengaja lihat Bian, itu saja," katanya pelan.

Raka tertawa kecil. Tawa yang tanpa humor, hanya penuh penghinaan.

"Apa yang mau Anda lihat?" Matanya menyipit, menghunus tajam. "Mau memastikan saudara saya udah mati apa belum?"

Bryan tersentak. Napasnya tercekat di tenggorokan.

"Apa maksud kamu?" suaranya bergetar. "Saya sama sekali tidak punya pemikiran seperti itu!"

"Oh, ya?" Raka melangkah lebih dekat. "Terus saya harus percaya begitu saja dengan Anda yang bukan siapa-siapa buat saya?"

Hening.

Bryan tak langsung menjawab. Ada sesuatu yang terasa remuk di dalam dirinya.

"Kenapa… kenapa rasanya sakit sekali mendengar kata-kata itu?" batinnya bergema.

Matanya memerah. Rahangnya menegang.

Ia menunduk sedikit, mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya.

"Kenapa kamu harus berbicara seperti itu?" Ia mengepalkan tangan. "Mungkin kamu menganggap saya bukan siapa-siapa, tapi satu hal yang harus kamu terima… di dalam tubuh kamu, mengalir darah saya."

Napasmya berat.

Bryan menarik napas panjang, mencoba meredam gemuruh di dadanya.

"Meskipun satu dunia bilang kamu dan Bian bukan anak saya, tapi naluri orang tua kepada anaknya tidak pernah salah." batinnya berteriak dalam keheningan.

Tapi ia tak mengatakannya lantang.

Karena ia tau, tak ada gunanya.

Raka menghela napas panjang. Ada getir di wajahnya, tapi tatapannya tetap tak melunak.

"Dengar baik-baik," suaranya kini lebih datar, namun lebih menusuk. "Mulai sekarang, Anda berhenti datang ke sini. Apalagi cuma buat melihat kondisi Bian."

Bryan menatapnya.

"Anda pikir saya bodoh?" Raka melanjutkan. "Anda pikir saya nggak tau kalau Anda sering datang diam-diam? Pakai masker, topi, jaket. Seperti penjahat yang takut ketahuan."

Bryan tak menjawab.

"Awalnya saya diam, karena saya tau itu Anda," Raka menggeleng. "Tapi semakin sering saya lihat, semakin saya muak."

Bryan mengepalkan tangan di sisinya, kukunya hampir menancap ke kulit telapak tangannya sendiri.

"Saya tidak nyaman dengan kehadiran Anda," Raka melanjutkan, lebih pelan, tapi lebih menusuk dari teriakan mana pun. "Jadi saya mohon, Tuan Bryan. Pergi jauh-jauh dari keluarga saya."

Sunyi.

Bryan hanya berdiri di tempatnya, mematung, menatap Raka dengan mata yang berkaca-kaca. Kata-kata Raka seperti palu godam yang menghantam dadanya.

Perih.

Karena ia tau, ia tak bisa berkata apa-apa.

Tak bisa membela diri.

Tak bisa meminta kesempatan untuk bisa menjelaskan.

Hanya bisa menatap dua anaknya dari kejauhan—seperti orang asing.

Seperti seseorang yang tidak mempunyai hak untuk berada di sisi mereka.

Next...

Maaf kalo kurang bagus ya 🙏🏻

Mau lanjut ga nih? Kalo iya, komen sebanyak - banyaknya

Ig: wp_ayayti1
Tt: ayayti

Jangan lupa votmenfoll, terimakasih. 😍

KARAFERNELIA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang