k8: Pencarian Tanpa Akhir

518 62 4
                                        

HAPPY READING
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Sejak tadi, Raka sibuk mencari saudara kembarnya di supermarket yang cukup besar, membuatnya kewalahan. Bian belum juga terlihat, entah di mana dia sekarang.

Namun, Raka tidak menyerah. Meski sedikit lelah, ia tetap bertekad untuk menemukannya. Masih ada beberapa bagian supermarket yang belum dijelajahi; mungkin saja Bian ada di salah satunya.

Saat menelusuri lorong demi lorong, Raka mulai merasakan dadanya sesak. Berbagai pikiran buruk melintas di benaknya, dan meski ia mencoba tetap tenang, rasa takut kehilangan Bian semakin kuat. "Bian, di mana kamu...?" gumamnya, setengah putus asa.

Sesekali, Raka tergoda oleh berbagai makanan, camilan, dan minuman yang menggiurkan di sekelilingnya. Tapi kali ini ia menahan diri. Fokusnya hanya satu: menemukan Bian.

***

Di kamarnya, Alesha duduk di kursi dekat jendela besar, di samping meja kecil yang dihiasi bunga. Ia memandangi sebuah album foto, album yang ia rahasiakan dari putra-putranya, dan selalu disimpan di tempat paling aman.

Sudah lama sekali Alesha tidak membuka album itu, dan kali ini ia ingin melihatnya lagi. Ada rasa rindu yang mengusik hati.

Saat membuka album itu, hatinya terasa hangat, tetapi juga ada rasa kosong yang menyayat. Ia rindu masa-masa di mana Bryan ada di sisinya, mendampinginya. Sekarang, hanya kenangan yang tersisa, dan ia menyadari betapa sunyinya hidup tanpa kehadiran Bryan.

Pada halaman pertama, terpampang foto pernikahannya dengan Bryan. Foto itu sudah agak kusut karena usianya, tetapi masih tampak jelas dan bagus.

Dalam foto tersebut, Alesha mengenakan gaun putih yang membuatnya terlihat anggun, dengan wajah yang masih muda dan cantik. Di sebelahnya, Bryan tampak gagah dengan jas putihnya. Mereka berdua saling menatap dan tersenyum bahagia di sebuah taman yang dipenuhi bunga-bunga indah, menambah keindahan potret itu.

Alesha tersenyum melihat foto tersebut, mengingat kembali momen indah itu.

Flashback on

Taman itu sangat indah, penuh kehangatan. Suasana pernikahan telah sepi; hanya tersisa Alesha, Bryan, dan enam staf pemotretan dengan seragam biru, bersiap untuk sesi pemotretan.

"Oke, sekarang Pak Bryan dan Bu Alesha boleh saling berpegangan tangan, lalu saling menatap, ya," ujar Bu Ina, seorang wanita berusia sekitar tiga puluh tahun yang bertugas mengarahkan pemotretan.

Bryan dan Alesha saling menatap dan melakukan sesuai arahan. Mereka bergenggaman tangan dan saling bertatapan, penuh kebahagiaan dan harapan.

"Alesha, kamu adalah wanita yang kupilih untuk menjadi pendamping hidupku. Semoga kita bisa bersama selamanya, sampai ajal menjemput," bisik Bryan lembut.

"Bryan sayang, kamu adalah pria yang aku cintai setelah Papa. Semoga kamu bisa menjadi ayah yang baik untuk anak-anak kita nanti, mendidik mereka dengan tulus, hingga mereka melihat ayahnya sebagai pahlawan terbaik. Aku harap, dalam setiap lika-liku kehidupan, kita bisa menghadapi semuanya bersama tanpa menyerah," tutur Alesha penuh harap.

"Alesha, percaya atau tidak, aku merasa sangat beruntung memilikimu. Kamu bukan hanya cantik, tapi juga berhati baik dan tulus. Tidak heran Mama sangat menyayangimu," ujar Bryan, tersenyum.

Alesha tersenyum lembut. Mereka berdua merasa terharu, ingin menangis, namun berusaha menahan karena ini adalah hari pernikahan mereka. Mereka ingin bahagia, tanpa ada air mata kesedihan.

Pemotretan pun dimulai.

Satu...

Dua...

Tiga...

Cekrekkk!

Flashback off

Alesha tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Ia lalu membuka halaman-halaman berikutnya, melihat foto-foto masa remaja, kuliah, pernikahan, foto-foto kebersamaannya dengan Bryan, serta momen lucu dan konyol mereka.

Hingga ia menemukan foto dua remaja perempuan yang terlihat bahagia saling merangkul. Tatapan Alesha menjadi tajam melihat foto itu.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Alesha mengambil foto itu. Rasa sakit dan kecewa yang sudah lama ia pendam kembali menyeruak. Alleta, yang dulu pernah dekat, kini menjadi luka di hatinya. Tanpa ragu, Alesha merobek foto itu menjadi dua bagian—dirinya dan Alleta. Ia meremas-remas bagian foto itu hingga kusut, menggenggamnya erat.

Ia berdiri dari tempat duduk, berjalan ke arah tempat sampah coklat tak jauh dari jendela, lalu melemparkan foto itu ke dalamnya. Setelah itu, ia memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan diri, kemudian menghembuskan napas panjang untuk mengusir segala emosi yang ada.

***

Ig: wp_ayayti1
Tt: ayayti


KARAFERNELIA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang