k28: Pak Eza.

133 11 0
                                        

HAPPY READING
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.


Cahaya matahari menyelinap melalui celah tirai kamar Bian, menciptakan pola-pola hangat di dinding yang diam. Raka yang semalam tertidur di kamar Bian, menggeliat perlahan. Ia lupa satu tugas penting—menaruh ponsel Kakek di kamarnya. Tapi pagi telah datang, dan segalanya terasa terlalu damai untuk dikhawatirkan.

Raka bangun dari ranjang dan melangkah menuju pintu untuk pergi ke kamar, bersiap sebelum berangkat sekolah.

Tapi sebelum itu, Raka membalikkan badan memandang Bian yang masih tenang dalam tidurnya.

Ia menggambil bantal, lalu melemparnya ke arah saudaranya. "Bangun," ucapnya lalu meninggalkan kamar itu.

Bian hanya bergumam.

Hari ini istimewa. Kakek akhirnya memberikan izin bagi mereka untuk menggunakan sepeda motor.

Setelah bersiap, keduanya bergegas menuju sekolah, melintasi jalan yang dipenuhi hawa pagi yang segar.

“Pagi, Raka! Pagi, Bian!” sapaan ramah dari teman-teman mereka terdengar saat mereka berjalan melewati koridor. Raka dan Bian membalas dengan anggukan kecil dan tersenyum tipis. Mereka menaiki tangga hingga lantai tiga, menuju kelas mereka, dengan langkah ringan yang membawa semangat baru.

Suasana SMA Brijaya berjalan seperti biasa, tenang di permukaan, namun penuh cerita di setiap sudutnya.

Di tempat lain, jauh dari hangatnya matahari pagi Indonesia, seorang wanita tengah melangkah anggun. Alesha, dengan segala tekad dan kerinduannya, sedang menjalani hari lain di Amerika.

"You are amazing," ucap seorang pria dengan senyum ramah. Jemarinya masih terjabat dengan Alesha.

Pria itu bernama Eza di usia pertengahan 38-an dengan penampilan rapi dan karisma yang tenang. Rambutnya hitam pekat, selalu tertata rapi, dengan mata tajam yang memancarkan ketulusan. Ia kerap mengenakan kemeja sederhana yang tetap terlihat elegan, mencerminkan kepribadiannya yang santai namun berkelas.

Suaranya tenang, dengan nada bicara yang cenderung rendah namun penuh kewibawaan, membuat orang-orang merasa nyaman saat berbicara dengannya.

Eza tinggal di sebuah rumah mewah di Amerika, hasil dari kerja kerasnya selama lebih dari satu dekade. Sebagai seorang partner bisnis yang sukses, ia dikenal sebagai sosok yang cerdas, berwawasan luas, namun tetap rendah hati. Meski terlihat mapan, ada sisi dirinya yang masih merindukan hangatnya kehidupan sederhana dan rindu akan kehangatan yang lebih dari sekadar kesuksesan materi.

Sosok Eza memancarkan aura tenang, dewasa, dan penuh perhatian, yang membuatnya mudah disukai siapa saja yang mengenalnya. Namun, di balik itu, ia menyimpan kerinduan akan kehidupan yang lebih bermakna.

"Thank you so much," balas Alesha.

"Do you have time today?" tanya Eza santai.

"Mmm, mungkin," jawab Alesha ragu, menyadari betapa canggungnya situasi ini.

"Want to eat together?" tanyanya lagi, kali ini dengan nada lebih santai.

Setelah sedikit berpikir, Alesha akhirnya mengganguk.

***

Di luar jendela besar rumah Eza, pemandangan tampak berkilauan oleh cahaya lampu, memberikan kesan modern yang dingin namun memukau. Rumahnya yang penuh seni modern terasa sangat rapi, seolah mencerminkan kepribadiannya.

Di tengah obrolan ringan, pria itu bertanya dengan nada penasaran, "I heard you have twin boys in Indonesia?"

"Yes, Raka and Bian," jawab Alesha, senyum hangat terlukis di wajahnya.

"Wow, that's incredible. They must be so proud of you." Puji pria itu sambil tersenyum tulus.

Alesha tersenyum tipis, meski rasa rindu kembali mendesak dari dalam hatinya. Ia teringat bagaimana senyum Bian selalu tenang, sementara Raka dengan cerianya selalu membawa warna ke dalam hari-harinya.

Dalam keheningan beberapa saat, Alesha mencoba memulai pembicaraan.

"Pak Eza, sudah lama tinggal di sini?" tanya Alesha, mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Sudah 12 tahun," jawab Eza sambil tersenyum tipis.

"Sendirian?" tanyanya spontan, lalu segera menyadari kesalahan ucapannya.

"Ya," jawab Eza dengan santai. "Kenapa? Kamu mau menemani?"

Alesha tersentak, pipinya memerah. "Ah, bukan itu maksud saya. Mari kita selesaikan makanannya. Saya tidak punya banyak waktu dan saya harus segera pergi," katanya dengan gugup.

Eza terkekeh, melihat wajah Alesha yang canggung. "Saya hanya bercanda."

Alesha tersenyum dan mengangguk kecil, meski Alesha merasa sedikit canggung.

***

Di depan pintu rumah mewah Eza, Alesha berdiri dengan anggun, menggenggam tasnya dengan kedua tangan.

"Thank you, Alesha. sudah mau mampir ke rumah saya." ucap Eza dengan senyum, lalu menyodorkan tangan untuk berjabat.

Alesha tersenyum lalu membalas menjabat tangannya. "Terima kasih juga atas sambutannya, Pak Eza,"

"Lain kali kalau ada waktu luang jangan lupa mampir ke sini lagi, ya. Dengan senang hati saya akan menyambutmu," katanya, sambil tersenyum.

"Baik. Jika ada waktu luang, saya akan mampir, terimakasih sekali lagi atas sambutan dan hidangannya."

Eza mengganguk, senyum tipis tetap menghiasi wajahnya saat Alesha berjalan menjauh.

Dalam perjalanan pulang, pikiran Alesha kembali pada Raka dan Bian, yang jauh di Indonesia, tak ada henti hentinya rasa rindu menggelayut dalam hatinya. Wajah mereka selalu muncul jelas di benaknya.

Sesampainya di Apartemen, Alesha menutup pintu. Di meja, sebuah foto kecil terpajang: Raka dan Bian dengan senyum lebar. Tangannya meraih foto itu, memandanginya lama. Jarak ribuan kilometer terasa seperti lautan yang memisahkan mereka, namun cinta seorang ibu adalah perahu yang tak pernah karam.

Alesha merasa ingin sekali cepat-cepat menyelesaikan urusannya di sini dan kembali ke Indonesia, bertemu dengan anak anaknya dan hidup bahagia di sana bersama mereka.

"Semoga kalian hidup dengan baik di sana, tunggu Bunda pulang, ya."







Next...

Ig: wp_ayayti1
Tt: ayayti

Jangan lupa votmenfoll, terimakasih.

KARAFERNELIA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang