k35: Pengorbanan, Keberanian, Kebaikan??

210 14 0
                                        

HAPPY READING
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Koridor rumah sakit dipenuhi suasana suram. Cahaya lampu neon yang dingin memantul pada lantai keramik putih, memberikan kesan steril namun penuh tekanan.

Dokter dan perawat berlalu lalang dengan langkah tergesa, sementara suara roda tandu terdengar samar di kejauhan. Aroma antiseptik yang tajam menusuk hidung, bercampur dengan rasa khawatir yang menggantung di udara.

Di salah satu bangku panjang di dekat ruang UGD, Bryan duduk dengan tubuh sedikit membungkuk. Pandangannya tertuju ke lantai, tapi pikirannya mengembara ke arah lain.

Di sebelahnya, Raka duduk dengan punggung tegang, tangan mengepal, dan rahang yang mengeras. Hening, hanya terdengar suara denyut jantung dari monitor yang samar di balik pintu ruang UGD.

"Saya tau ini berat untuk diterima. Bian ada di kondisi seperti ini karena menyelamatkan anak saya, Geo. Dengan segala kerendahan hati, Izinkan saya meminta maaf atas nama Geo... dan berterima kasih untuk pengorbanan, keberanian dan kebaikannya." ucap Bryan perlahan, suaranya serak namun tegas. Ia tidak berani menatap Raka langsung, matanya terus tertunduk ke lantai.

Raka tidak merespons. Diamnya seperti tembok tebal yang tak bisa ditembus. Tatapannya kosong, melamun jauh entah ke mana. Suasana mendadak sunyi.

Dalam keheningan yang cukup canggung, akhirnya Raka bersuara "Pengorbanan, keberanian, kebaikan?" Raka mengulang kata-kata itu dengan nada rendah, tapi matanya penuh emosi.

"tau nggak rasanya lihat saudara sendiri terbaring di sana, kritis, nggak bisa ngapa-ngapain?" Suaranya mulai bergetar, tapi ia menahan agar tidak pecah.

Raka berdiri dari kursinya, menatap Bryan dengan tatapan tajam, Raka  mengucapkan, "Pengorbanan, keberanian, kebaikan? Semua itu nggak berarti kalau ujungnya aku harus lihat Bian kayak gini!" Nada suaranya meninggi, membuat beberapa orang di sekitar mereka melirik sekilas, lalu segera mengalihkan pandangan, matanya berkaca-kaca, tapi ia menahan air matanya, suaranya bergetar.

"Anda pikir dengan minta maaf dan bilang terima kasih semuanya selesai? Geo mungkin selamat, tapi Bian? Dia di sini, berjuang antara hidup dan mati!" Suaranya hampir pecah, namun ia menggertakkan gigi, menahan air mata yang hampir jatuh.

Hening menyelimuti. Raka memalingkan wajahnya, menatap ke arah lain untuk menyembunyikan emosinya. "Saya nggak butuh kata maaf. Saya, cuma mau, Bian kembali... sehat, utuh, seperti semula!"

Bryan menatap Raka dengan tatapan dalam seakan merasakan apa yang Raka rasakan. Ia menghela nafas berat, lalu berdiri tegap, mencoba mendekati Raka. "Saya mengerti..." gumamnya pelan.

Namun, Raka langsung memotong dengan nada tajam. "Tidak, Anda tidak akan pernah mengerti! Anda tidak akan pernah tau bagaimana rasanya melihat orang yang paling penting di hidupmu terbaring lemah seperti ini." Suaranya serak, tapi setiap kata yang diucapkannya penuh dengan rasa sakit yang tertahan. "Rasa takut itu... Anda tidak akan pernah bisa mengerti."

"Seharusnya yang ada di sana itu anak Anda, bukan saudara saya," lanjut Raka, suaranya hampir pecah, namun tetap dipenuhi amarah dan kesedihan. Kata-kata itu menghantam Bryan seperti pukulan keras, membuatnya hanya bisa berdiri kaku, menatap Raka tanpa mampu membalas.

Bryan mendongak, menatap Raka dengan tatapan tak percaya. Kata-kata itu menghujam seperti pisau, membuat dadanya sesak.

"Seharusnya saya bisa menahannya tadi, pasti semuanya tidak akan seperti ini. Seandainya dia tidak berkorban demi menyelamatkan anak Anda, Bian tidak akan menderita seperti ini." Raka melanjutkan, suaranya gemetar, namun Nadanya semakin tajam.

Ia menatap Bryan dengan tatapan penuh luka. "Apa yang terjadi sama dia tidak seharusnya terjadi. Kalau saja saya bisa menggantikan dia, saya akan melakukannya. Tapi sekarang lihat dia... terbaring lemah tak berdaya," Ucapnya lirih, mencoba menahan isak tangisnya.

Keheningan mengisi ruangan. Raka menunduk, berusaha menahan air mata yang hampir menetes. "Dan dengan enteng Anda bilang terima kasih dan minta maaf seolah itu cukup? Itu nggak cukup!! Tidak ada kata maaf yang bisa mengembalikan Bian ke keadaan semula."

"Kalau saja saya bisa menggantikan dia... kalau saja..." bisiknya lirih.

Bryan terdiam, merasa hancur mendengar kata-kata Raka. Rasanya seperti beban yang sangat berat menimpa dirinya.

"Kamu salah kalau mengira saya tidak mengerti." Bryan mengepalkan tangan, menahan perasaan yang mulai memenuhi dadanya. "Saya tau rasa takut itu, rasa kehilangan itu. Tapi lebih dari itu... saya tau bagaimana rasanya hidup dengan penyesalan... gimana rasa kehilangan bisa membuat semuanya tidak berarti lagi. Tapi yang lebih menyakitkan, adalah kehilangan kesempatan untuk benar-benar memperbaiki semuanya." Batin Bryan.




Next...

Ig: wp_ayayti1
Tt: ayayti

Jangan lupa votmenfoll, terimakasih.

KARAFERNELIA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang