HAPPY READING
.
.
.
.
.
.
.
.
Flashback On
Parkiran supermarket itu seperti arena kecil. Di salah satu sudutnya, Bian duduk di atas motornya, helm dilepas dan rambutnya disisir asal dengan tangan. Spion menjadi cermin, tempat ia mematut diri, memastikan rambutnya masih terlihat keren meski angin malam sudah mencoba merusaknya.
Namun, sesuatu di kaca spion membuatnya mengerutkan dahi. Sebuah bayangan. Sosok itu tampak familiar, seperti seseorang yang ia kenal. Bian menoleh ke belakang, meski sempat ragu ia mengenalinya, matanya menyipit, mencoba memastikan.
Bian memarkirkan motor sedikit di belakang, terpisah sedikit dari yang lain. Tak ada yang memperhatikan gerak-geriknya, bahkan Riyan yang berdiri di dekatnya sedang asyik mengobrol.
Matanya tertuju pada Geo, yang berdiri di seberang jalan, tampak hendak menyeberang. Tapi bukan itu yang Bian maksud. Dari arah kiri, sebuah truk melaju kencang, seperti monster jalanan yang siap melahap apa saja di depannya.
Hanya ada satu hal di kepalanya: menyelamatkan Geo.
Tanpa berpikir panjang, Bian reflek cepat turun dari motornya, langkahnya tergesa-gesa, berlari ke arah Geo yang masih berdiri di sana, tak menyadari bahaya yang mengancam.
“Awas! Minggir!” teriaknya, suaranya tenggelam, seperti angin yang kalah cepat dari truk itu.
Dalam hitungan detik, Bian mendorong tubuh Geo dengan seluruh tenaga ke arah trotoar. Geo terjatuh dengan lutut tergores aspal, aman dari ancaman. Tapi Bian tak punya waktu untuk menyelamatkan dirinya sendiri, dirinya tak sempat menghindar.
Dan, saat itu juga. Semua terlambat untuk dirinya sendiri.
BRAK!
Tubuhnya terpental seperti boneka kain, mendarat di atas aspal dengan keras. Darah mulai mengalir, membasahi jalanan yang dingin.
Geo yang terselamatkan hanya bisa memandang dengan mata terbelalak, tubuhnya gemetar, wajahnya pucat, matanya kosong. Ia ingin berteriak, tapi suaranya seperti tertahan di tenggorokan.
Aku bisa mendengar Raka menangis, tapi aku tak bisa bergerak. Yang kulihat hanya tubuh Bian, tergeletak tak berdaya di tengah jalan
-Geo Narendra.
Flashback Off
Raka adalah orang pertama yang berlari menghampiri Bian. Lututnya lemas, tapi ia memaksa dirinya untuk tetap berdiri.
“Bi! bangun!” suaranya tercekat dan gemetar, air mata sudah membasahi pipinya. Ia memeluk kepala Bian, meletakkannya di pangkuan. Wajah Bian penuh luka, darah mengalir deras dari pelipisnya, bercampur dengan debu dan aspal.
Gilang berdiri di dekatnya, kedua tangannya gemetar. “Kita harus bawa dia ke rumah sakit, sekarang!” katanya, setengah berteriak.
Kerumunan mulai mendekat, lingkaran orang-orang yang sibuk bertanya-tanya tapi tak ada yang benar-benar membantu.
Malam yang tadinya ramai dengan suara tawa berubah menjadi sunyi yang menekan.
Tanpa banyak bicara, mereka mengangguk serempak. Bian harus diselamatkan, tidak peduli bagaimana caranya. Di tengah kekalutan itu, hanya ada satu hal yang memenuhi pikiran mereka: doa. Doa agar Bian tetap bertahan.
Next...
Ig: wp_ayayti1
Tt: ayayti
Jangan lupa votmenfoll, terimakasih.
KAMU SEDANG MEMBACA
KARAFERNELIA
Teen FictionCerita ini menggambarkan perjalanan emosional Bryan dan Alesha serta dampaknya pada anak-anak mereka, menggambarkan kebahagiaan di tengah kesedihan dan harapan untuk masa depan. .... Raka berdiri di tengah kamar, wajahnya merah dan napasnya memburu...
