HAPPY READING
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Langit malam di atas rumah sakit seperti meredup, seakan ikut menahan napas. Di luar ruang UGD, suasana terasa seperti jeda panjang, Waktu berjalan lambat, seolah detik-detik sengaja melambai-lambai dengan iseng di depan mata.
Raka duduk bersandar di kursi rumah sakit, kepalanya menunduk dalam, kedua tangannya saling menggenggam erat seakan ingin menahan seluruh ketakutannya agar tak tumpah. Dalam diam, ia memohon kepada Sang Maha Kuasa untuk memberi keajaiban.
Di balik pintu itu, Bian berjuang—sendirian. Kata "kritis" dari dokter tadi bergema di benak Raka, dingin dan tajam, memotong habis sisa harapannya. Dokter dan perawat silih berganti masuk ke dalam ruangan, tetapi tak ada satu pun yang keluar untuk memberi kabar. Waktu berjalan lambat. Satu jam lebih mereka menunggu, namun setiap detik terasa seperti seabad.
Di ruang lainnya, Geo terbaring lemas di ranjang. Tubuhnya tak bergerak, wajahnya pucat. Luka-luka kecil di lengan dan kakinya menjadi saksi bisu dari kejadian yang membawa mereka ke sini. Syok yang mendalam merenggut kesadarannya.
Di kursi tunggu, Bima duduk di sebelah Raka, tangannya perlahan menepuk pundak sahabatnya yang masih tak bisa berhenti menangis. “Raka, udah, ya? Bian pasti bakal sedih kalo lihat kamu kayak gini, harus yakin Bian pasti selamat! ya?” ucapnya, mencoba terdengar tegar meski suaranya ikut bergetar.
Raka menggeleng kecil, air matanya terus menetes. “Gue takut, Bim... Takut banget. Kalau nanti Bian pergi, gue harus gimana? Gue nggak siap kehilangan dia...” suaranya terdengar parau dan nyaris tak terdengar.
Bima menarik napas panjang, menahan emosinya sendiri. Ia menatap Raka dalam-dalam, tersenyum kecil, memaksa dirinya terlihat tenang. “Jangan bilang gitu. Dia nggak akan ninggalin kita. Kamu tau kan Bian itu kuat? Kita percaya aja sama dia, ya?” ujar Bima dengan nada serius, mencoba menyuntikkan harapan di tengah keputusasaan yang menggantung.
Raka menatap kosong ke lantai sebelum akhirnya mengangguk pelan. Sekilas, napasnya mulai teratur meski isakan kecil masih terdengar.
Lalu dua orang melewati mereka. Langkah cepat dan suara sepatu yang berdetak di lantai rumah sakit membuat Bima menoleh, tapi tidak dengan Raka, Raka tidak peduli siapa itu, yang ada di pikirannya sekarang hanya Bian, Bian dan Bian.
Raka menoleh ke arah samping untuk melihat sekitar tapi matanya sekilas tak sengaja menatap dua orang yang lewat tadi. Ia melihat punggung sepasang suami istri yang berjalan dengan terburu-buru, Raka memalingkan wajahnya kembali, kembali merenung dalam pikirannya sendiri.
Aletta dan Brian—orang tua Geo—tampak terburu-buru, wajah mereka pucat pasi seperti baru melihat hantunya sendiri.
Di dalam ruang Geo
Aletta duduk di tepi ranjang, jemarinya mengelus pipi Geo yang dingin. Air matanya jatuh satu-satu, jatuh di pipi putranya. “Geo, sayang... Bangun, ya. Kamu kenapa bisa kayak gini?” isaknya sambil memeluk Geo pelan.
Bryan berdiri tegap di dekat dokter, tapi ketegapannya terasa rapuh. “Dok, ada apa dengan anak saya?” tanyanya.
Dokter tersebut pun menceritakan kronologi kejadian.
“jadi karna anak anda terlalu syok atas kejadian tersebut. Itu yang membuatnya pingsan tidak sadarkan diri. Tapi ini hanya sementara. Tubuhnya hanya butuh waktu untuk menenangkan diri," jawab dokter tenang sebelum meninggalkan ruangan.
Sedangkan Bryan hanya terdiam mendengar penjelasan dokter.
Di Luar ruang.
Bima merogoh saku jaketnya, lalu mengeluarkan dua gelang berwarna hitam. Dengan hati-hati, ia menyerahkan keduanya pada Raka. “Ini... Tadi pas di pasar malam, Bian beli dua. Katanya satu buat kamu,”
Raka memandangi gelang itu sejenak lalu mengambil gelang itu dengan tangan gemetar. Benda kecil itu terasa berat di genggamannya, seakan menyimpan seluruh kenangan tentang Bian, Air mata kembali jatuh di pipinya.
Gelang kecil itu seperti titipan janji dari Bian: janji bahwa ia akan kembali.
Drrrttttt
Suara getaran ponsel menarik perhatian Bima, ia menggambil ponsel di sakunya lali melihat nama yang tercantum, ia tampak berpikir, lalu menghela nafas panjang.
“Raka, aku tinggal sebentar ya, mau angkat telfon. Kamu gapapakan di sini sendirian?” tanya Bima, mencoba memastikan.
Raka mengangguk pelan. “Iya... Gapapa. Makasih, ya Bim. Lo udah nemenin gue.”
“Santai aja. Gue balik cepat.” Bima tersenyum tipis, meski langkahnya terlihat berat saat pergi meninggalkan Raka sendirian.
Sepi kembali merayap di sekitar Raka, tapi kini ada sesuatu yang menemaninya—gelang hitam di genggaman tangannya.
Di ruang tunggu yang kini sunyi, Raka menatap gelang hitam itu lama-lama. Ia menggenggamnya erat, seakan bisa merasakan kehadiran Bian di sana. “Bian, lu bertahan ya... Jangan ninggalin gue, awas aja sampe lo ninggalin gue, gue bakal marah besar sama lo, gue gak bakal maafin lo,” bisiknya pelan. Suaranya nyaris tak terdengar, setiap kata yang terucap ia menahan emosi, tak lama tangisan nya pun pecah meskipun ia sudah menahannya serapat mungkin.
Tanpa sadar, seseorang berdiri di depannya. Raka melihat sepatu hitam itu lebih dulu sebelum mendongak, dan mendapati tangan yang menyodorkan sapu tangan putih.
Ia menatap wajah orang itu—Brian, ayah Geo. Tatapan Brian kosong, namun ada kesedihan dalam matanya. Wajahnya pucat dan kaku, seakan berita tentang kejadian ini telah menghisap semua kekuatannya.
“Lap air mata kamu,” ucap Brian pelan. Suaranya datar, tapi ada sesuatu di sana—sesuatu yang membuat Raka mendongak lebih lama.
Next...
Ig: wp_ayayti1
Tt: ayayti
Jangan lupa votmenfoll, terimakasih.
KAMU SEDANG MEMBACA
KARAFERNELIA
Novela JuvenilCerita ini menggambarkan perjalanan emosional Bryan dan Alesha serta dampaknya pada anak-anak mereka, menggambarkan kebahagiaan di tengah kesedihan dan harapan untuk masa depan. .... Raka berdiri di tengah kamar, wajahnya merah dan napasnya memburu...
