HAPPY READING
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Di halaman kolam renang, Alesha duduk bersama putranya, Bian. di meja bulat hitam yang hanya dilengkapi dua kursi.
Udara malam yang dingin menyelimuti, membawa aroma segar air kolam yang tenang.
Alesha sibuk dengan laptopnya, menyelesaikan pekerjaan yang belum rampung, sementara Bian duduk di seberangnya, menatap bundanya dengan tatapan penasaran.
Awalnya, Bian hanya hendak mengambil segelas air putih di dapur. Namun, langkahnya terhenti saat melihat bundanya sendirian di halaman, terpaku pada layar laptop.
Rasa ingin tau dan perhatian kecilnya membuat ia memilih untuk menemani Alesha.
"Bian, pergi tidur, nak. Sudah malam," tegur Alesha untuk kesekian kali tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.
"Tapi Bian pengen di sini nemenin Bunda," jawab Bian dengan nada keras kepala khas anak kecil yang tidak mau kalah.
Alesha hanya menghela napas panjang, mengalah. Ia tau, melawan keinginan Bian sama saja seperti mencoba melawan angin—sia-sia.
Tiba-tiba suara Bian memecah keheningan, "Kalau orang berbuat baik sama kita, itu tandanya dia benar-benar tulus, kan... Bun?"
Alesha mengetik beberapa kata sebelum merespons. "Mmm... tumben nanya gitu. Emang kenapa, Bi?" tanyanya, tetap fokus pada laptopnya.
"Enggak kenapa-kenapa. Cuma pengen tau aja," jawab Bian santai.
Alesha menghentikan jarinya sejenak dan menatap kosong ke layar. "Bunda nggak tau. Soalnya, hati orang beda-beda. Ada yang benar-benar tulus, tapi ada juga yang cuma pura-pura. Jadi, jangan gampang percaya sama orang, ya. Bahkan sama orang yang kita pikir dekat sekalipun atau.. kita akan menyesal nanti," Nada suaranya terdengar sedikit serius.
Bian memiringkan kepala, mencoba membaca ekspresi bundanya. "Bunda ada masalah di masa lalu, ya?"
Pertanyaan itu membuat Alesha berhenti mengetik. Ia menatap Bian dan tersenyum kecil, meskipun senyum itu terasa menyimpan banyak cerita yang tak terucapkan. "Nggak ada,"
Alesha menutup laptopnya, melipat tangan, dan memandang putranya. "Udah selesai, Bun?" tanya Bian, matanya berbinar.
"Sudah," jawab Alesha sambil meneguk udara malam. "Kamu gak tidur? Besok sekolah, lho."
Bian menggeleng. "Belum ngantuk. mau di sini ngobrol sama Bunda. Bunda Haus? Mau Bian ambilin minum?"
Alesha tertawa kecil dan menggeleng. "Nggak usah. Bunda nggak haus."
"Oh iya, tadi gimana sih ceritanya sampai kamu luka-luka gitu?" Suara Alesha berubah lembut tapi penuh penasaran. Ia memandang luka kecil di lengan Bian yang mulai mengering.
"Tadi ada seseorang hampir ketabrak mobil. Bian tolongin lah, terus Bian ikut jatuh pas dorong om itu tadi."
Alesha menatap putranya dengan sorot khawatir. "Kamu kenal om itu?"
Bian menggeleng. "Enggak. Bian lupa tanya namanya. Tapi om tadi baik banget, Bun."
Alesha mengerutkan dahi, berpikir. Ia mencoba mencari makna di balik cerita sederhana itu, namun tak lama kemudian ia tersenyum. Ia menunduk dan menoel hidung Bian dengan jarinya. "Pintar banget sih putra Bunda."
Bian tersenyum lebar, bangga dengan pujian itu.
Tapi dalam hati, ia merasa aneh. Kenapa sih Bunda masih memperlakukan aku kayak anak kecil? Sesekali, ia ingin dianggap lebih dewasa. Tapi ia tau, perhatian seperti itu adalah cara Bunda menunjukkan betapa ia mencintai putranya.
Next...
Ig: wp_ayayti1
Tt: ayayti
KAMU SEDANG MEMBACA
KARAFERNELIA
Fiksi RemajaCerita ini menggambarkan perjalanan emosional Bryan dan Alesha serta dampaknya pada anak-anak mereka, menggambarkan kebahagiaan di tengah kesedihan dan harapan untuk masa depan. .... Raka berdiri di tengah kamar, wajahnya merah dan napasnya memburu...
