HAPPY READING
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ruangan administrasi rumah sakit dipenuhi oleh suara ketikan mesin kasir dan langkah-langkah sibuk para petugas. Di salah satu sudut, kakek Arvan berdiri dengan wajah tenang, meski sorot lelah dan kekhawatiran jelas tergambar di matanya.
Ia baru saja menyelesaikan pembayaran biaya rumah sakit untuk Bian. Saat lembaran terakhir tanda terima diserahkan, ia menarik napas panjang, mencoba meredakan kecamuk di dadanya.
Setelah selesai, ia berbalik. Langkahnya terarah menuju ruang khusus tempat Bian dirawat. Namun, setiap langkah terasa seperti melangkah di atas duri. Bian memang sudah keluar dari UGD, tetapi kabar dari dokter tadi terus terngiang di kepalanya: Bian koma.
“Bian koma.” Kata-kata itu berputar di pikirannya seperti gema yang tak mau hilang. Setiap langkah yang ia ambil menuju ruang rawat terasa semakin menyesakkan dada, seolah dunia terus-menerus mengingatkannya pada kenyataan pahit itu.
Wajah Raka terlintas dalam pikirannya, tepat setelah dokter menyampaikan kabar buruk itu. Ia masih ingat dengan jelas bagaimana Raka membeku di tempat, tatapannya kosong seperti kehilangan arah. Tidak ada air mata, tidak ada teriakan—hanya keheningan yang mencekam. Namun, di balik itu, Kakek Arvan tau bahwa hati cucunya itu sedang remuk redam.
"Kenapa harus dia, Kek? Kenapa bukan aku saja?" Kata-kata itu kembali terngiang di kepala Arvan. Suara Raka terdengar lirih, penuh sesak. Pertanyaan itu seperti menamparnya—karena ia tau bahwa ia tidak bisa berbuat apa-apa selain berharap mukjizat dari tuhan.
“cucuku masih terlalu muda untuk menanggung semua ini,” pikirnya. Langkahnya terhenti sejenak di lorong, tubuhnya terasa berat. Matanya memejam, mencoba menenangkan pikirannya yang berkecamuk.
Ia tau Raka pasti menyalahkan dirinya sendiri. Anak itu selalu merasa bertanggung jawab atas saudaranya, bahkan untuk hal yang jelas-jelas di luar kendalinya. Kakek Arvan bisa melihat itu dari cara Raka menggenggam tangan Bian tadi—erat, penuh rasa takut, seolah-olah ia takut kehilangan.
Ketika ia kembali melangkah, pikirannya terus dipenuhi bayangan cucu-cucunya. Raka, dengan sikapnya yang keras namun rapuh. Bian, yang sekarang terbaring tak berdaya. Dan ia sendiri, seorang kakek yang hanya bisa berdiri di tepi, merasa begitu tak berdaya melihat semua ini terjadi.
Di koridor rumah sakit, langkah Kakek Arvan terhenti. dari arah belakang seseorang memanggilnya. "Ayah..."
Ia mengenali suara itu. Langkahnya melambat, tangan kirinya mengepal kuat. Namun, ia tidak menoleh.
“Ayah, tunggu!” Suara itu semakin dekat. Bryan, berlari menghampirinya. Dengan nafas yang masih tersengal, Bryan menghadang jalannya, membuat Arvan geram.
“Minggir,” ujar Arvan dingin, tatapannya tajam.
Bryan menatapnya sejenak. Tanpa aba-aba, Bryan mendekat dan memeluknya erat. Arvan tersentak. Namun, tak butuh waktu lama baginya untuk mendorong Bryan hingga tersungkur ke lantai. Suara kecil dari lantai koridor menggema. Beberapa orang yang berlalu-lalang menoleh, tetapi Arvan tidak peduli.
Bryan bangkit perlahan, lalu mendekat lagi. Tatapannya sendu. “Ayah... Apa kabar?” tanyanya lembut, suaranya bergetar.
Arvan tidak menjawab. Ia hanya menatap Bryan dengan dingin. Saat hendak melangkah pergi, Bryan kembali bersuara.
“Ayah... Di mana Alesha?”
Langkah Arvan kembali terhenti. Ia berbalik, menatap Bryan dengan kemarahan yang sulit dilukiskan.
“Itu bukan urusanmu lagi. Kau sudah kehilangan hak atas putriku. Pergilah. Urus keluargamu yang sekarang.”
“Tapi, Alesha masih istriku…”
“Istri?” Arvan menyeringai sinis. “Kau menyebutnya istri setelah kau menikahi perempuan lain? Menjijikkan.”
“Ayah, aku—”
“Jangan panggil aku ayah!” tegas Arvan, suaranya menggema di lorong. “Aku bukan ayahmu.”
Bryan terdiam. Kata-kata itu seperti duri yang menusuk hatinya.
Saat Arvan melangkah pergi lagi, Bryan memberanikan diri bertanya sekali lagi. “Bian... Raka... Mereka anak Bryan, kan? Ayah?”
Langkah Arvan kembali terhenti. Ia menatap kosong ke depan, matanya menerawang sejenak sebelum berkata dengan suara pelan tapi tegas.
“Tidak... Mereka bukan anakmu. Jangan pernah menganggap mereka seperti itu.”
Next...
Ig: wp_ayayti1
Tt: ayayti
Jangan lupa votmenfoll, terimakasih.
KAMU SEDANG MEMBACA
KARAFERNELIA
Novela JuvenilCerita ini menggambarkan perjalanan emosional Bryan dan Alesha serta dampaknya pada anak-anak mereka, menggambarkan kebahagiaan di tengah kesedihan dan harapan untuk masa depan. .... Raka berdiri di tengah kamar, wajahnya merah dan napasnya memburu...
