41: kosong tanpa Bian

192 9 0
                                        

HAPPY READING
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Suara alarm berdering nyaring, memecah keheningan pagi yang seharusnya tenang. Raka terbangun dengan kaget, tangannya meraba-raba mencari sumber suara yang mengganggu itu.

Dengan gerakan setengah sadar, ia mematikan jam weker tanpa benar-benar memperhatikan. Matanya masih berat, kelopak matanya hanya terbuka separuh.

Ia duduk bersandar di tempat tidur, menarik napas panjang, lalu memejamkan matanya kembali sejenak. Badannya terasa lelah, seperti malam yang ia habiskan tak cukup untuk meredakan segala kepenatan yang bersarang. Namun, hari telah dimulai, dan ia tau ia tak bisa berlama-lama dalam kehampaan itu.

Perlahan, ia membuka mata, tatapannya kosong, melamun seolah ada sesuatu yang mendadak menghantui pikirannya. Sesak di dadanya semakin terasa. Ia melirik ke samping, di mana sebuah bingkai tertutup tergeletak di meja kecil.

Dengan ragu, ia mengulurkan tangan, meraih bingkai itu. Pelan-pelan ia membaliknya, memperlihatkan dua foto yang tertata rapi. Foto pertama adalah dirinya dan Bian saat kecil, wajah mereka penuh tawa ceria tanpa beban. Foto kedua menunjukkan mereka berdua saat dewasa, senyum yang sama, namun dengan sorot mata yang menyimpan banyak kisah.

Raka menatap kedua foto itu bergantian, lama, seolah ingin menghidupkan kembali momen-momen di dalamnya. Tapi semakin ia menatap, semakin berat rasanya. Senyuman dalam foto itu kini tampak seperti ironi—kenangan indah yang menyayat hati.

"Before and after," pikirnya getir. Tapi kali ini, bukan perbandingan waktu yang membuatnya pilu, melainkan kenyataan bahwa salah satu dari mereka kini terbaring lemah di rumah sakit.

Kini, Raka harus menjalani hari-harinya tanpa kehadiran Bian. Dengan langkah berat, ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan malas menuju kamar mandi. Air dingin yang mengalir di tubuhnya seolah tak mampu menghapus rasa kosong yang menyelimuti.

Setelah selesai mandi dan bersiap-siap untuk sekolah, Raka membuka pintu kamar. Sebuah keheningan langsung menyergapnya. Rumah terasa benar-benar sepi, begitu sunyi hingga membuatnya tidak nyaman.

Tak ada bian yang biasa ia jaili ataupun bian yang menjaili diri nya.

Tidak ada suara Bian, tidak ada sapaan hangat Bunda, bahkan suara langkah Kakek pun tak terdengar. Ia berdiri mematung di ambang pintu, merasakan kehampaan yang perlahan menjalari dirinya.

Matanya menyapu ruangan, mencari tanda-tanda kehadiran orang lain. Namun yang ia temukan hanyalah sofa kosong, meja makan tanpa bekas sarapan, dan sudut ruangan yang dingin.

"Sepi banget," gumamnya pelan, seakan berharap ada yang menjawab. Tapi tak ada suara balasan, hanya gema dari kata-katanya sendiri.

Raka menghela napas panjang, lalu melangkah perlahan ke dapur. Tangannya meraih gelas, menuang air putih dengan gerakan yang terasa berat. "Males banget gue sekolah," gumamnya pelan.

Raka pun duduk di kursi meja makan, ia makan dengan tidak selera, semuanya terasa hambar di mulutnya, Saat akhirnya ia menyalakan ponselnya, layar menyala dan langsung menampilkan beberapa pesan dari Kakek.

Whatsapp

Kakek ⚡💰

|raka uda bangun? 5.10

|Panggilan tak terjawab 5.10
|Panggilan tak terjawab 5.35
|Panggilan tak terjawab 6.44
|Panggilan tak terjawab 6.49

udah kek|

|udah makan, belum?

ini lagi makan kek|

Obrolan antara Raka dan Kakek Arvan terus berlanjut hingga tanpa sadar Raka telah menghabiskan makanannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Obrolan antara Raka dan Kakek Arvan terus berlanjut hingga tanpa sadar Raka telah menghabiskan makanannya. Ia kemudian bangkit dari kursinya, bersiap untuk melanjutkan aktivitas berikutnya: berangkat ke sekolah.

Motor yang ditunggangi Raka seolah ikut merasakan kesedihannya, melaju tanpa semangat, tanpa ada lagi teman yang biasanya menyalip dan menemaninya di jalan.

Hari terus berlalu, dan seperti biasa, Bian belum juga sadar dari koma nya, entah sampai kapan harus menunggu.

Raka menjalani hari-harinya seperti biasa—atau setidaknya, ia berusaha membuatnya terlihat begitu. Bangun tidur, sekolah, pergi ke rumah sakit, pulang, lalu mengulanginya lagi keesokan harinya.

Raka yang biasanya ceria, cerewet, penuh tingkah, dan jahil, kini lebih banyak diam. Ia sering tertidur di kelas, seakan kelelahan yang ia rasakan tak hanya datang dari tubuh, tetapi juga dari pikirannya.

Teman-temannya sudah berusaha menyemangatinya, bahkan mencoba menjahilinya agar ia kesal seperti dulu. Namun, tak ada reaksi yang mereka harapkan. Raka hanya tersenyum tipis, lalu kembali terdiam.

Next...

Ig: wp_ayayti1
Tt: ayayti

Jangan lupa votmenfoll, terimakasih.

KARAFERNELIA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang