HAPPY READING
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pasar malam itu seperti lautan manusia—ramai, penuh tawa anak-anak yang berlarian, bising, tapi penuh kehangatan. Lampu-lampu neon berkedip riang di antara tenda-tenda yang menawarkan segala macam dagangan: dari mainan plastik hingga makanan yang menggoda selera. Gilang berdiri terpaku, matanya menyapu kerumunan.
"Rame banget, gila!" serunya, mengagumi keramaian di depannya.
Riyan, yang sudah mulai lapar, segera menyarankan, "Gimana kalau kita makan bakso?"
"Ide bagus tuh, kebetulan gue juga lagi laper," sahut Gilang sambil mengusap perutnya.
"Ke warung Pak Jarwo aja. Katanya baksonya enak," ujar Raka, mengarahkan langkah.
Tanpa banyak diskusi, mereka sepakat.
***
Sebelum makan bakso, mereka mampir di salah satu wahana favorit: komidi putar.
"Seru banget ini! Udah lama banget nggak naik beginian," ujar Raka sambil memanjat salah satu kuda-kudaan.
Bian hanya memutar mata. "Udah gede, naik ginian malu-maluin."
Gilang, yang sudah duduk di kursi kereta kecil, hanya tertawa. "santai aja. Nggak ada yang peduli lu gede atau nggak di sini."
Ketika komidi putar mulai bergerak, Riyan melambaikan tangan seperti anak kecil. "WOY! Liat gue! Jadi raja kuda nih!"
Setelah wahana selesai, mereka mencoba bianglala. Dari atas, lampu-lampu pasar malam terlihat seperti kunang-kunang di tengah gelap malam.
"Bagus banget ya dari sini," gumam Bima, menikmati pemandangan.
"Iya. Kalau gue kaya, tiap malam pengen ngeliat pemandangan begini," sahut Riyan.
"Kalau lu kaya, mending beliin gue makan," ledek Gilang, yang langsung dilempar tisu oleh Raka.
***
Setelah puas bermain, mereka berpisah sementara. Sesuai kesepakatan; Raka, Riyan dan Gilang memilih makan Bakso di warung Pak Jarwo sementara Bian dan Bima memilih berkeliling sambil mencari jajanan.
Di sudut pasar malam, Bian memasukkan tangan ke dalam saku jaketnya. Udara dingin mulai menyapa, tapi ia menikmati suasana. Di sampingnya, Bima menggenggam boba di satu tangan, sementara tangan lainnya sibuk menyuapkan cimol ke mulutnya.
"Bim, itu sate kayaknya enak. Mau nggak?" tawar Bian sambil menunjuk gerobak sate di dekat mereka.
"Gak ah, bosen makan daging," jawab Bima santai.
"Itu ayam, bego."
"Oh iya, lupa. Kamu aja yang beli," balas Bima dengan nada malas.
Bian mendekati penjual sate. "Mang, sate satu porsi, ya."
"Siap!" sahut si penjual, mulai menyiapkan pesanan.
Sambil menunggu, mereka berjalan-jalan lagi. Langkah mereka terhenti ketika seorang anak kecil berbaju kusam mendekat sambil membawa kotak kecil berisi gelang-gelang sederhana.
"Kak, mau beli gelang nggak? Lima ribu satu," tawarnya dengan suara pelan.
Bian tersenyum, lalu menjawab, "Nggak, Dek. Makasih, ya."
Namun, anak itu kembali memohon. "Ayo, Kak. Dari tadi belum ada yang laku..." Ucapnya lirih.
Bian menyenggol lengan Bima, meminta pendapat. Bima hanya menggeleng yang masih mengunyah cimol. Akhirnya, Bian berkata, "Yaudah, Kakak beli dua, ya. Yang warna Hitam."
Ia mengeluarkan uang seratus ribu dari saku dan menyerahkannya. Anak kecil itu menatap bingung.
"Kebanyakan, Kak. Saya nggak punya kembalian," ucapnya.
"Udah, nggak apa-apa. Itu buat kamu," jawab Bian dengan lembut.
Anak kecil itu tersenyum lebar. "Makasih, Kak!" serunya sebelum berlari pergi.
Bima, yang sedari tadi mengunyah cimol, melirik Bian. "Gelangnya buat kamu semua?" tanyanya.
"Nggak, lah. Satu buat Raka," jawab Bian sambil memutar-mutar gelang di jarinya. "Kamu mau?" Tawar Bian, Bima menggeleng.
Bima tertawa kecil. "Lucu banget, sih."
"Gelangnya?"
"Kamu-nya."
Next...
Ig: wp_ayayti1
Tt: ayayti
Jangan lupa votmenfoll, terimakasih.
KAMU SEDANG MEMBACA
KARAFERNELIA
Ficção AdolescenteCerita ini menggambarkan perjalanan emosional Bryan dan Alesha serta dampaknya pada anak-anak mereka, menggambarkan kebahagiaan di tengah kesedihan dan harapan untuk masa depan. .... Raka berdiri di tengah kamar, wajahnya merah dan napasnya memburu...
