HAPPY READING
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
SMA BRIJAYA
Di sinilah Raka dan Bian, anak kembar yang memiliki kepribadian kontras, menjalani masa SMA mereka.
Sekolah megah dengan fasilitas lengkap ini menjadi saksi banyak cerita, termasuk cerita tentang Raka, Bian, dan kini.. Geo, murid baru yang tidak hanya membawa warna baru, tapi juga segunung masalah bagi Raka.
Pagi itu, suasana sekolah sudah diwarnai oleh keributan kecil di depan gerbang. Adu mulut antara Geo dan Raka menarik perhatian beberapa murid.
Meski berlangsung singkat, insiden itu cukup meninggalkan kesan. Dan takdir tidak bermain-main, keduanya di pertemukan dalam satu kelas, 12 IPA 1.
"Kenapa harus dia sih?! Kayak nggak ada kelas lain aja!" gerutu Raka dalam hati. Tangannya sibuk memijat pelipis, mencoba mengusir rasa kesal.
Sementara itu, Geo duduk tepat di belakang Raka dan Bian. Posisi yang, bagi Raka, terasa seperti kutukan.
Ketika Bu Nia, guru kimia yang terkenal galak, menjelaskan materi di depan kelas, suasana seharusnya kondusif.
Para murid sibuk mencatat poin-poin penting. Tapi Geo punya misi lain.
Sebuah tendangan kecil menghantam punggung kursi Raka. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Semakin lama, semakin mengganggu. Raka menggenggam ujung meja, mencoba menahan amarahnya.
Napasnya ditarik dalam-dalam, tapi rasa kesalnya tak kunjung usai. Ia menoleh ke belakang, melemparkan tatapan tajam yang penuh peringatan.
Tatapan itu jelas mengisyaratkan: "lo benar-benar bikin gue emosi, lihat aja nanti, habis lo di tangan gue!"
Namun, bukannya takut, Geo malah menyeringai. Senyumnya lebar, penuh jahil, seperti sengaja memancing emosinya.
"Maunya apa sih nih orang?" desis Raka pelan. Rahangnya mengeras, kedua tangannya mengepal.
Dari samping, Bian mencuri pandang ke arah saudaranya. Ia mengenal ekspresi itu dengan baik. Ini adalah tanda-tanda bahwa Raka berada di ambang kemarahan. Dengan sigap, Bian menepuk pelan bahu Raka.
"Biarin aja, Jangan ditanggapin. Nanti juga capek sendiri," bisiknya pelan, mencoba menenangkan.
Raka mendengus kecil. Matanya kembali ke depan, berusaha fokus pada pelajaran. Tapi di belakang, Geo tak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Kakinya kembali menendang kursi Raka, berkali-kali.
Bian menoleh ke belakang, memperhatikan Geo. Anak itu terlihat santai, sibuk menggigit ujung pulpen sambil membaca buku. Tapi kakinya terus saja bergerak, seolah dia tidak peduli bahwa aksinya sedang menguji kesabaran orang lain.
"Nih orang bener-bener cari mati," gumam Raka sambil mengusap wajahnya.
"Cukup!" gumam Raka dalam hati. Tangannya mengepal, wajahnya memerah. Hingga akhirnya...
"LO BISA DIEM NGGAK, SIH!?" Suara Raka menggema di seluruh kelas. Ia berdiri dengan ekspresi penuh amarah, tangan terkepal, matanya menatap tajam Geo yang tampak sedikit terkejut, tapi masih berusaha mempertahankan wajah santainya.
Seluruh kelas mendadak hening. Pulpen-pulpen terhenti, pandangan tertuju pada Raka dan Geo.
Bian berdiri, menatap wajah Raka yang penuh amarah, dan berucap dalam hati, "udah gue bilang, gak usah di tanggapin, ngeyel aja nih anak," batin nya.
Namun, masalah itu sudah terlanjur besar. Bu Nia, yang terkenal dengan aura mengintimidasi, mulai melangkah ke arah mereka.
"Ada apa ini?!" tanyanya tegas, dengan nada yang langsung membuat murid-murid lain menunduk takut.
Raka, yang tadinya tersulut emosi, langsung menunduk. Ia tau betul ini bukan guru yang bisa diajak kompromi.
Dalam hati, ia mengutuk dirinya sendiri. 'Tamat riwayat gue.''
"Raka, Geo, apa yang kalian lakukan sampai mengganggu jam pelajaran saya?" Suara Bu Nia dingin, menusuk seperti es.
Geo, yang awalnya bersikap santai, kini mulai gugup. Ia berdiri dari kursinya dengan kepala tertunduk. Raka hanya diam, berusaha menghindari tatapan guru itu.
Karena merasa tidak ada pembelaan yang masuk akal, Bu Nia langsung menjatuhkan hukuman. "Keluar dari kelas sekarang juga! Kalian berdua lari keliling lapangan sepuluh kali!!!"
"Sepuluh kali?!" gumam Raka dalam hati. Namun ia tidak berani membantah.
"CEPAT!" bentak Bu Nia lagi, membuat keduanya langsung mengangguk serempak."B-baik, Bu," jawab mereka dengan suara kecil.
Bu Nia kembali ke depan kelas, dan suasana belajar berangsur normal. Tapi bagi Raka, hari ini adalah hari yang sial untuknya.
Di luar kelas, Raka berjalan dengan wajah kesal. Namun Geo, alih-alih menyesal, malah menahan tawa kecil.
"Lucu juga, ya. Lo gampang banget marah," bisik Geo, yang langsung mendapat tatapan tajam dari Raka.
"Gue sumpahin lo jatuh pas lari!" balas Raka kesal.
"Coba aja." Geo hanya terkekeh, jelas menikmati situasi itu.
Sambil berjalan keluar, Geo menahan tawa kecil, merasa hukuman ini tidak terlalu berat. Sebaliknya, Raka hanya bisa mendengus sebal, membayangkan bagaimana lelahnya nanti di lapangan.
Next..
Ig: wp_ayayti1
Tt: ayayti
KAMU SEDANG MEMBACA
KARAFERNELIA
Teen FictionCerita ini menggambarkan perjalanan emosional Bryan dan Alesha serta dampaknya pada anak-anak mereka, menggambarkan kebahagiaan di tengah kesedihan dan harapan untuk masa depan. .... Raka berdiri di tengah kamar, wajahnya merah dan napasnya memburu...
