Nevermind, Next

166 8 2
                                        

Restoran itu dipenuhi cahaya temaram berwarna keemasan yang memantul lembut di permukaan meja marmer

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Restoran itu dipenuhi cahaya temaram berwarna keemasan yang memantul lembut di permukaan meja marmer. Alunan musik jazz instrumental mengalir pelan, berpadu dengan denting peralatan makan dan percakapan rendah para tamu yang datang dari berbagai latar belakang. Di salah satu sudut restoran, empat orang wanita duduk mengelilingi meja bundar, hidangan fancy yang tersaji di hadapan mereka hampir tak tersentuh karena fokus mereka tertuju pada satu hal—pernikahan Kaluna yang sebentar lagi akan diselenggarakan.

Kaluna duduk dengan postur tenang, gaun sederhana berpotongan elegan membalut tubuhnya dengan sempurna. Wajahnya memancarkan ketenangan khas seseorang yang sudah berdamai dengan banyak hal dalam hidup. Di sisi kirinya, Gigi menyilangkan tangan di depan dada, sesekali melirik layar ponsel sebelum kembali ikut menimpali pembicaraan. Winara, yang duduk berhadapan dengan Kaluna, tampak paling ekspresif; senyumnya mudah merekah setiap kali topik pernikahan itu disinggung.

Sementara itu, Ningsih—yang paling muda di antara mereka—lebih sibuk dengan makanannya. Ia mengunyah tanpa beban, matanya bergerak bergantian memperhatikan tiga wanita di depannya yang tampak serius membicarakan daftar tamu, konsep dekorasi, hingga detail kecil yang menurut Ningsih terlalu ribet untuk dipikirkan sekarang.

Sendok Ningsih berhenti di udara. Ia menelan makanannya, lalu tanpa aba-aba, melemparkan pertanyaan yang membuat suasana meja sejenak membeku.

“Kak,” katanya sambil masih memegang garpu, “lo kenapa sih akhirnya milih Seno? He looks… not really your type. Kayak nggak cocok aja gitu.”

Tidak ada ekspresi terkejut dari tiga wanita lainnya. Mereka hanya saling bertukar pandang singkat—maklum, Ningsih memang selalu berbicara lebih cepat daripada pikirannya sendiri.

Kaluna tersenyum kecil. Ia melirik Gigi dan Winara bergantian, lalu menghela napas pelan seolah sedang menyusun kata. Tangannya terangkat, menyibakkan sehelai rambut ke belakang telinga dengan gerakan santai.

“Emh… gimana ya ngomongnya,” ujarnya pelan, sedikit bertele-tele.

Belum sempat Kaluna melanjutkan, Gigi sudah mendengus tidak terima. Tatapannya langsung mengarah tajam ke Ningsih.

“Heh,” katanya dengan nada kesal, “maksud lo adik gue jelek buat Kaluna?”

Ningsih refleks menggeleng cepat, hampir tersedak karena panik. “Eh, gue nggak ada ngomong gitu, mommy,” bantahnya. “Kok gitu sih? Gue cuma mikir aja. Kak Kaluna kan dewasa banget, calm, mature, you know? Sedangkan Seno tuh… kayak Upin Ipin. Nakal amattt. Sering banget jahilin gue. Tapi giliran sama Kak Luna, dia malah manja dan—sorry to say—agak bikin mual gitu. Kak, lo nggak salah pilih calon suami kan?”

Winara langsung tertawa, suaranya cukup keras hingga menarik perhatian meja sebelah. “Mentang-mentang bestie gue dulu sering jahilin lo pas SMA, sekarang lo dendam dan jadi devil buat misahin Seno dari Kaluna ya?” godanya sambil mengangkat alis.

Ningsih mendengus, wajahnya langsung manyun. “Apasih,” katanya kesal. “Kan tinggal jawab. Kenapa jadi jauh banget sih ceritanya.”

Ia kembali menyuap makanannya, kali ini dengan suapan besar dan ekspresi ngambek yang sama sekali tidak berusaha ia sembunyikan.

AmaranthineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang