"Dia adalah bintang yang terlempar di antara dua galaksi dunia yang berbeda."
▶️ Saya hanya meminjam tokoh, namun nama dan ide cerita adalah murni dari pemikiran saya.
▶️ Cerita berpusat pada Arsean (Hyunjin).
▶️ Saya membuat cerita karena hobi, buk...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Arsean Samantha Baizhan.
Siapa?
Bukankah dia anak konglomerat Baizhan yang sering disebut-sebut namanya?
Lalu kenapa wanita yang menyebut dirinya mama itu memanggilnya dengan nama Sam?
Dia Harsa. Harsa Bagaskara.
Kenapa orang-orang juga ikut memanggilnya Sam atau Sean?
Sepertinya mereka salah orang.
Arsean habis mengalami kecelakaan. Dia juga baru saja mengalami kecelakaan seingatnya.
Apa jiwa mereka tertukar?
Kalau benar, lalu dimana tubuhnya? Tubuh Harsa?
Tapi ini bukan cerita fantasi. Mana mungkin ada jiwa yang tertukar?
Siapa Arsean? Dimana Harsa?
Pikiran-pikiran itu memenuhi otak Arsean yang kini sedang sendirian di kamar rawatnya. Wanita yang mengaku sebagai mamanya itu pergi bersama seorang yang juga menyebut dirinya papa, setelah dokter mengatakan jika ingin membicarakan sesuatu dengan keduanya.
Dia bukan tak tahu siapa kedua orang itu. Tak terhitung berapa banyak media yang sering mengabadikan visual kedua orang tersebut. Meski sering muncul di banyak media, tapi keduanya tertutup tentang masalah keluarga dan anak-anaknya. Hanya si sulung yang beberapa kali muncul karena kini sedang menekuni bidang yang sama dengan sang papa.
Tapi sesungguhnya, dia masih bingung dengan kondisi sekarang. Kenapa dia bisa dipanggil sebagai Arsean yang merupakan bungsu keluarga Baizhan? Pikirannya mengatakan tentang jiwa yang tertukar. Namun sisi rasionalnya menolak percaya jika ada hal tersebut di dunia nyata.
"Sam..."
Panggilan dengan suara sedikit berat itu menyapa pendengaran. Seorang dengan wajah kecil mengintip dari balik pintu.
"Boleh masuk?"
Entah kenapa dia malah mengangguk saja. Membiarkan pemuda yang masih mengenakan seragam sekolah itu masuk dan duduk di kursi di sebelah ranjangnya.
"Kirain tidur tadi. Aku ganggu ya?"
Gelengan ia berikan sebagai jawaban. Rasanya canggung sekali berinteraksi dengan seorang yang tak pernah dikenalnya. Dia tidak tahu siapa pemuda itu. Namun sepertinya masih kerabat Arsean.
"Sam...inget...abang?"
Ah...ternyata abangnya.
Dia hanya memandang bingung. Jangankan ditanya orang lain, dia saja bingung dengan dirinya sendiri.
"Ah...kayaknya enggak ya?"
Raut kecewa dari yang mengaku abang membuatnya merasa tidak enak. Tapi apa mau dikata, ia memang tidak tahu siapa pemuda di sampingnya.