Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Enjoy guys!
***
Dari tempatnya berdiri, Samira menatap tak percaya pada William. Pemuda yang datang-datang langsung menjatuhkan pukulan pada Neko, temannya. Sesuatu yang sebenarnya bisa dibicarakan baik-baik terlebih dahulu, malah ia rusak dengan mengambil keputusan sepihak. Mencampurtangankan ego dalam hal ini.
“Ini kenapa sih? Ada apa?” tanya gadis di sampingnya, entah dari mana asalnya orang itu.
“Tanya sama dia!” sungut Samira dengan yang ditujukan pada William.
“Ikut gue.” William mengambil tangan Samira.
“Enggak!” tolak Samira cepat.
“Jangan maksa kalau Samira gak mau.” ujar Neko, tak tega melihat Samira di paksa oleh William. Neko cukup tahu seperti apa watak William sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa pemuda itu akan menarik paksa Samira untuk pergi.
“Jangan ikut campur atau—,”
“Atau apa?” jawab Samira, segera ia mendapat tatapan dari William kembali. “Kak Will kan yang udah bikin wajah Neko babak belur? Ancaman apa yang kak Will kasih ke dia?” tanya Samira berani.
Baru kali ini ia kecewa dengan William. Sebelumnya, Samira maklum saja jika William memperlakukannya dengan tidak baik, tetapi untuk sekarang, Samira rasa William sudah keterlaluan. William tidak berpikir dampak bagi orang lain atas perbuatannya. Egois.
“Fuck!” William menggeram di tempatnya. Menjambak rambutnya kasar. Kenapa Samira malah terlihat menggemaskan di matanya.
“Ikut dan gue akan jelaskan semuanya.” bujuk William dengan nada selembut mungkin. Berharap Samira menurut jika seperti itu.
Samira berpikir sejenak. Benar, ada beberapa hal yang ingin Samira selesaikan dengan William. Oleh karenanya, Samira menurut.
Mereka berjalan tak jauh dari lorong tadi, berbelok ke balkon sepi untuk mereka gunakan sebagai tempat berbincang saat ini.
“Jelasin sekarang.”
“Okay, gue yang lakuin itu ke Neko.”
“Karena?”
“Dia adik Nadav, Ra. Lo harusnya bisa memilah orang-orang di sekitar lo.” Samira tertawa sinis mendengar tuturan William.
“Emang kak Will lebih baik dari Neko?” telak. William bergeming.
“Dia bawa lo ke atap sore kemarin, Ra. Itu bahaya buat lo.”
“Aku yang mau ke sana. Aku tau Neko akan bawa aku ke sana. Dan buktinya aku baik-baik aja sampai sekarang.”
“Gue tau lo gak bisa tidur semalam karena itu.”
“Masih aja. Kapan sih kak Will berhenti ikut campur masalah aku? Ini kan yang kak Will mau? Aku udah pergi. Udah aku turutin mau kak Will.” tutur Samira berapi-api. Akhirnya ia bisa meluapkan emosinya.