Hari ini, Bulan sudah bisa pulang. Ia juga bahagia karena tak sabar untuk bersekolah kembali. Malam ini, tepatnya jam 20.04, Bulan tengah menuju supermarket yang cukup jauh dari rumahnya.
Bulan terus mencari-cari keperluannya tapi tiba-tiba.
Brukh!
Bulan tak sengaja menyenggol seseorang, membuat barang belanjaannya jatuh berserakan. Bukan dengan rasa bersalah langsung berjongkok memunguti barang-barang yang berserakan itu.
"Maafkan saya!" ucap Bulan.
"Gak pa-pa," jawab wanita paruh baya itu sembari membantu Bulan.
Bulan yang mendengar suara itu, sontak mengangkat pandangannya melihat siapa yang ada didepannya ini. Mata Bulan memicing, ia mengenal suara ini, tapi dia tak tahu siapa orang yang ada di hadapannya saat ini.
Wanita itu menyadari keterdiaman Bulan, ia pun mengangkat pandangannya untuk menatap Bulan. Matanya melebar sembari mengerjab-ngerjab.
"Kamu Bulan?" tanya wanita itu yang dibalas anggukan kaku.
"Kamu sudah bisa melihat ... Alhamdulillah!!" Syukur terucap dibibir wanita itu begitu saja.
Wanita itu langsung memeluk Bulan cukup erat lalu melepas pelukan mereka dengan senyum yang terus mengembang.
"Tante siapa?" tanya Bulan bingung.
Yah, walaupun suara itu tak asing di telinga Bulan, tapi tetap saja, Bukan tak mengenal orang yang ada dihadapannya ini.
Senyum wanita itu tiba-tiba memudar kala mendengar pertanyaan dari Bulan. Wanita itu pun menepuk jidatnya, ia lupa jika pertemuan mereka itu, Bulan sedang buta dan tentu saja Bulan tak mengenalnya.
"Ini tante, Mamanya Langit," jawab wanita itu yang tidak lain adalah Zaiya.
Bulan yang mendengar itu langsung saja melebarkan matanya. "Astaghfirullah, maafin Bulan, karena Bulan gak kenal tante," ujar Bulan dengan penuh rasa bersalah.
"Gak pa-pa kok."
Setelah mengumpulkan barang-barang Zaiya yang tadinya berserakan, dan membayar belanjaan mereka. Zaiya pun mengajak Bulan untuk main ke rumahnya. Awalnya Bulan menolak, karena ini sudah malam, tapi Zaiya memaksa, katanya dia yang akan mengantar Bulan balik di jam sepuluh. Zaiya juga sudah berbicara dengan Mama tiri Bulan dan diizinkan.
Sebenarnya itu, adalah keinginan Mama tiri Bulan agar Bulan tak perlu balik sekalian.
Sesampainya di rumah Zaiya, Bulan terus saja menatap kagum rumah itu, sangat bagus menurutnya. Ia terus mengekori Zaiya sampai akhirnya, mata Bulan beralih pada sebuah foto remaja laki-laki.
"Itu Langit," ujar Zaiya tiba-tiba yang membuat Bulan tersentak.
"Ooh," balas Bulan sembari manggut-manggut.
Mereka terus saja berbincang-bincang layaknya Mama dan anak. Hal ini membuat Bulan nyaman karena ia pun membutuhkan sosok Mama yang bisa memperhatikan dirinya seperti perlakuan Zaiya saat ini. Dan Zaiya pun senang, ia merasa jika Bulan sudah seperti anaknya sendiri.
"Tunggu sebentar disini ya? Tante siapin air hangat buat suami tante, kalo kamu bosan bisa nonton TV aja." Bulan hanya mengangguk lalu memilih untuk mengambil remot TV lalu menyalakan TV.
Satu menit
Dua menit
Tiga menit
Zaiya belum juga datang-datang. Hal itu membuat Bulan bosan.
***
Disisi lain kota, dibawah langit hitam yang diterangi lampu-lampu jalan, segerombolan anak mudah kini bersorak meneriaki nama-nama jagoan mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Diantara Bulan dan Langit
Teen Fiction"Mungkin kamu tak akan melirikku walaupun sesaat. Tetapi setidaknya, jangan kamu tunjukkan sesuatu yang membuatku sakit" ~ Bulan Aisyah Willano
