Bulan kini telah berbaring di ranjang miliknya, ia baru saja selesai membersihkan diri. Beberapa kali terdengar helaan napas dari Bulan. Masih tak menyangka, kejadian kemarin membuatnya harus menikah dengan Langit. Tapi bukankah itu lebih mudah ketika Bulan ingin menjaga Langit seperti permintaan Lia?
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka menampakkan langit yang hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya. Bulan yang tak sengaja melihat itu langsung cepat-cepat berdiri dan keluar dari kamarnya.
Malam ini, Langit masih tetap menginap di rumah Bulan dan besoknya mereka akan pindah ke rumah Langit. Sedangkan Abi dan Zaiya sudah pulang lebih dulu, sore tadi.
Langit yang melihat kepergian Bulan hanya acuh, dia lalu memakai kembali bajunya tadi. Setelah selesai Langit pun merebahkan tubuhnya di atas kasur milik Bulan. Matanya terus menerawang langit-langit kamar.
"Maafin aku, Lia. Aku melakukan ini semua karena terpaksa," ucap Langit penuh rasa bersalah.
Yah, walau bagaimanapun, Langit masih tetap mencintai Lia. Lia masih tetap bertahta di hati Langit yang paling terdalam. Dia juga sedikit tak menyukai Bulan, tak tahu apa alasannya.
....
Pagi telah tiba, Bulan dan juga Langit sudah berada di rumah Langit dari setengah jam yang lalu.
Ya, selepas sholat subuh mereka langsung meminta izin untuk pindah ke rumah Langit. Karena Bulan sekarang telah menjadi tanggung jawab Langit pun membuat Rudri pasrah jika Bulan dibawa oleh Langit.
Kini Bulan telah siap dengan seragam putih abu-abunya, begitupun juga dengan Langit.
"Kalian berangkat bareng?" tanya Zaiya.
Zaiya tidak melarang jika mereka berangkat terpisah. Toh, dia dan Abi juga pernah menikah ketika Abi masih berstatus siswa SMA dan mereka menyembunyikan status mereka sebagai suami istri dengan cara jaga jarak.
Jadi, kalau Bulan dan Langit bersikap seolah-olah sebagai orang asing, maka itu hal yang wajar. Zaiya tidak memaksakan jika dua remaja itu harus bersama-sama. Cukup saling menjaga dari jarak jauh.
"Aku berangkat naik ojek online saja, tante," balas Bulan.
"Kok tante sih. Sekarang kan, Bulan udah jadi istri Langit, jadi, bulan harus panggil Mama," sela Zaiya yang membuat Bulan cengengesan.
"Iya, ma," ucap Bulan.
"Kamu tau bawa motor?" tanya Zaiya yang dibalas anggukan oleh Bulan.
"Kamu pake motor mama aja. Udah beberapa minggu mama gak pake motor Mama, takut rusak karena gak pernah kepakai."
"Beneran, Ma?" tanya Bulan tak percaya.
"Iya, ayo!" Zaiya pun mengajak Bulan untuk ke garasi dan mengambil motor Zaiya.
Langit yang melihat interaksi antara Mamanya dan juga istrinya itu, membuat rasa cemburu tiba-tiba saja muncul begitu saja.
"Disini yang anak itu siapa? Gue apa Bulan?" gerutu Langit lalu menyusul kedua wanita itu ke garasi.
"Ma, Langit berangkat!" ucap Langit sembari menyalimi tangan Zaiya lalu pergi tanpa melihat jika Bulan juga hendak menyalimi tangannya.
"Ma, Bulan juga berangkat!" ucap Bulan sembari menyalimi tangan Zaiya.
Bulan pun pergi setelah motor itu selesai dipanaskan. Sepanjang perjalanan Bulan tersenyum, sudah cukup lama ia tak mengendarai motor setelah motornya di jual oleh Mama tirinya. Karena terlalu asik, Bulan sampai tak memperhatikan jalan dan malah menyenggol seorang gadis dan setelahnya Bulan juga nyungsep di tanah.
Brukh!
"Aiss," kesal Bulan.
Bulan pun mengalihkan pandangannya kepada korban. Dengan langkah tertatih, Bulan pun menghampiri gadis itu yang masih duduk di aspal.
"Dek, kamu gak pa-pa?" tanya Bulan khawatir.
"Maafin aku!" lanjut Bukan lagi.
"Gak pa-pa kok, kak," jawab gadis itu sembari mengangkat pandangannya.
Bulan terkejut bukan main, wajah ini. Wajah ini sangatlah mirip dengan wajah Lia. Namun, masih terlihat ada perbedaan di bagian pipi. Gadis ini, memiliki pipi gembul, berbeda dengan Lia yang memiliki pipi tirus.
"L-Lia?" ucap Bulan terbata dengan mata yang berkaca-kaca.
Seketika rasa bersalah menguasai dirinya. Bulan merasa telah mengkhianati Lia. Bukankah Lia hanya meminta untuk menjaga Langit, bukan meminta untuk menikah dengan Langit.
"Maafin aku, Lia," ucap Bulan sembari memeluk tubuh mungil dihadapannya.
"Aku bukan Lia, kak. Aku Shena," ucap gadis itu dengan mata yang di kerja-kerjabkan.
Wajahnya terlihat begitu imut. Bulan pun terkejut mendengar jawab dan melihat ekspresi gadis itu yang terlihat begitu polos.
"Bener, kamu bukan Lia," kata Bukan sembari terkekeh.
"Siapa nama kamu tadi?" tanya Bulan.
"Shena, kak," jawabnya.
"Kamu sekolah dimana? Dan kelas berapa?"
"Sekolah di SMA MM dan kelas X kak," jawab Shena.
Bulan mengernyit bingung, kenapa dia tak pernah melihat Shena sebelumnya.
"Tapi ak ...."
"Shena murid pindahan, kak. Baru hari ini masuk," potong Shena yang langsung paham dengan tatapan dari Bulan.
"Ooh, kirain sudah lama."
"Yasudah, ayo bareng kakak aja. Panggil aja aku, kak Bulan atau terserah kamu saja," titah Bulan sembari memperbaiki posisi motornya.
Mereka pun berangkat bersama. Namun, tak disangka mereka ternyata terlambat dan alhasil, mereka kena hukum yaitu hormat di tengah lapangan mini.
....
Disisi lain, Langit keluar dari kelas menuju toilet, namun, matanya tak sengaja melihat Bulan yang tengah dihukum.
"Dasar!" gumam Langit tak perduli.
Baru saja Langit melangkah, tiba-tiba terdengar suara jeritan dari lapangan. Langit lalu berbalik dan melihat Bulan yang pingsan. Langit pun berlari ke arah lapangan.
Baru saja Langit ingin mengangkat Bulan tapi tiba-tiba perhatiannya malah teralih kepada gadis mungil yang tengah menangisi Bulan.
"Ayo kak, bantu kak Bulan," ucap Shena sembari terisak.
Langit pun langsung menggelengkan kepalanya, berusaha menyadarkan kembali dirinya. Langit pun mengangkat tubuh Bulan menuju UKS. Hal itu, mengakibatkan gosip karena selama ini Langit masa b*d*h dengan lingkungan sekitar dan sekarang malah membantu Bulan.
Dibelakang ada Shena yang terus mengejar langkah Langit. Walaupun Bulan baru saja ia kenal, tapi tetap saja, Bulan adalah orang baik. Jadi, Shena merasa khawatir.
Sesampainya di ruang UKS, Bulan pun langsung diperiksa oleh dokter UKS. Sedangkan Langit dan Shena kini berdiri tak jauh dari sana.
Shena terus saja menatap khawatir terhadap Bulan. Sedangkan Langit malah terus menatap Shena tanpa berkedip.
"Lia?" Lirih Langit yang ternyata masih didengar oleh Shena.
Shena lalu menoleh dengan alis yang bertautan. "Ini Shena bukan Lia. Kenapa Kakak panggil Shena dengan sebutan Lia. Kak Bulan juga tadi panggil Shena gitu," ucap Shena dengan b!b!r manyun.
Ah, Shena benar-benar terlihat imut. Langit pun tersenyum hambar, memang terlihat masih ada perbedaan di wajah gadis kecil itu. Shena terlalu imut sedangkan Lia, dia lebih ke gadis tangguh.
"Ooh, nama kamu Shena?" tanya Langit yang dibalas anggukan oleh Shena.
"Kenalin, aku Langit," lanjut Langit.
"Ooh kak, langit," titah Shena sembari membalas uluran tangan Langit.
KAMU SEDANG MEMBACA
Diantara Bulan dan Langit
Teen Fiction"Mungkin kamu tak akan melirikku walaupun sesaat. Tetapi setidaknya, jangan kamu tunjukkan sesuatu yang membuatku sakit" ~ Bulan Aisyah Willano
