Bab 20 ~ Tentang rasa

7 5 2
                                        

Bulan duduk di samping Mama Shena, mereka berbincang-bincang dan saling memaafkan satu sama lain. Sedangkan Langit kini duduk di samping ranjang Shena.

"Tadi makan apa?" tanya Langit.

"Makan bubur, gak enak banget, rasanya hambar. Shena maunya cepet pulang," celetuk Shena yang membuat langit terkekeh.

"Mau buah gak?" tanya Langit lagi yang dibalas anggukan oleh Shena.

Kegiatan kedua itu menjadi pemandangan yang sangat tidak baik untuk Bulan. Namun, Bulan tak bisa melarangnya karena status mereka akan diketahui jika ia melarangnya dan Bulan juga tak mau membuat Langit marah.

"Kamu kenapa?" tanya Mama Shena yang membuat Bulan menjadi salah tingkah.

"Gak kenapa-napa, tante," jawab Bulan tersenyum canggung.

Shena yang mendengar itu langsung saja menoleh ke arah Bulan yang juga kini menatapnya. Shena lalu beralih menatap Langit yang masih fokus mengupas apel.

"Eekhmm kak Bulan, sini deh!" panggil Shena.

"Aku?" tanya Bulan.

"Iya, kak," jawab Shena.

Bulan pun beralih menatap Mama Shena yang malah tersenyum ke arahnya. Dengan ragu Bulan pun melangkah ke arah ranjang sebelah kanan Shena.

"Kak, jangan disebelah kanan. Kepala Shena sakit kalo nengok kanan," jelasnya.

Bulan yang mengerti pun langsung berpindah disebelah kiri Shena yang bertepatan disamping Langit. Bulan merasa canggung.

"Kak, Shena mau nanya ... disekolah, ada gak cowok yang kakak suka?" tanya Shena.

Mendengar itu, Langit langsung mengangkat pandangannya lalu melirik ke arah Bulan yang juga menatapnya.

"Mmm ... gak ada Na," jawab Bulan. Tak mungkin jika Bulan menjawab Langit.

"Bohong, lo pasti suka sama Raja kan? Atau sama Karang?" timpal Langit tiba-tiba.

Bulan mengernyit. "Gak! dekat dengan mereka aja baru dua hari lalu. Masa iya langsung suka," jelas Bulan yang entah kenapa dia semakin berani membalas ucapan-ucapan Langit.

"Berarti kalo udah lama, kamu udah suka?" tanya Langit lagi dengan nada kesal.

"Apaan sih. Kok kamu jadi gini?"

"Terserah gue lah."

"Kok kalian jadi berantem? Kalo kakak saling suka, yah pacaran aja, kenapa saling diam trus marah kalo kak Bulan dideketin cowok lain?"

Bulan dan Langit langsung saling bertatapan, merasa terkejut dengan apa yang Shena katakan.

"Kamu apaan sih, Na," titah Bulan.

"Jujur aja deh?" ucap Shena dengan senyum yang tertahan.

Sedangkan Langit malah meletakkan potongan apel itu lalu berdiri hendak keluar. "Mau kemana, kak?" tanya Shena.

"Keluar," balas Langit.

Sikap dinginnya seakan kembali lagi. Mama Shena yang melihat itu hanya geleng-geleng mendengar interaksi mereka tadi. Dasar anak muda.

Langit kini berjalan dengan langkah cepat, setelah sampai di taman rumah sakit, Langit pun langsung duduk disana.

"Lia," monolog Langit.

"Gue rindu sama lo, lo sedang apa sekarang? Apa lo bahagia disana?" monolog Langit lagi.

Langit benar-benar merindukan Lia. Kalau saja Shena tidak membahas tentang pacaran, sepertinya Langit tidak akan kembali mengingat Lia. Langit benar-benar terjebak dengan masa lalunya. Lalu sampai kapan masa lalu itu menghilang.

Diantara Bulan dan LangitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang