Bab 45 ~ tanggung jawab?

7 3 0
                                        

Sudah sejam berlalu, Langit dan Bulan kini memutuskan untuk balik ke Villa karena masih belum menemukan keberadaan Devan dan Shena. Baru saja mereka sampai di depan Villa, dari jauh terlihat Sastya dan Raja yang juga kembali.

"Masih belum ketemu?" tanya Raja pada Langit.

Langit menggeleng lesu, ia merasa bersalah pada Mama Shena karena dia berjanji untuk menjaga Shena seperti adiknya sendiri, namun ternyata Shena malah hilang saat ini.

Mereka berempat pun memilih untuk masuk, baru saja menginjakkan kaki ke dalam Villa, keempatnya terkejut bukan main melihat Devan yang malah terduduk lemah di sofa, dengan Riky yang menatapnya nyalang.

"Devan kenapa?" tanya Sastya bingung.

Devan hanya diam dengan mata tertutup, sedangkan Riky buka menjawab malah ingin berdiri dan memukul Devan, hal itu membuat Langit langsung menahannya.

"Dimana Shena?" tanya Bulan.

"Kamar," jawab Riky dengan tatapan yang masih tertuju pada Devan.

Setelah kepergian Bulan. Langit, Raja dan juga Sastya kini duduk di sofa kosong.

"Kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Raja karena ia benar-benar penasaran kenapa Riky semarah itu kepada Devan.

"Di-a ... dia telah nodai Shena, dia telah mengambil mahkota Shena. Dasar ANJ**!!!" pekik Riky dan hendak bangkit dan lagi-lagi Sastya menahannya.

Langit yang mendengar jawaban dari Riky itu terdiam. Ia masih tak percaya kalau Devan melakukan itu. Dia sudah mengenal Devan sejak dulu sebelum Raja, Sastya dan Riky menjadi temannya juga.

"Gak mungkin," ucap Langit tanpa mengalihkan pandangannya dari Devan. Tatapan Langit masih terlihat ada segurat kepercayaan kepada Devan, ia masih percaya kalau Devan tak melakukan itu.

"Dia benar, Lang. Gue udah rebut mahkota Shena," ucap Devan lemah karena dia telah dipukul habis-habisan oleh Riky tadi.

Langit terdiam seribu bahasa. Matanya lalu merah dengan tangan yang mengepal.

"KENAPA LO LAKUIN ITU, VAN!!" teriak Langit sembari mencengkram kerah baju Devan.

"Maaf."

Hanya kata itu yang bisa Devan katakan. Jujur, Devan tak berniat melakukan itu, tapi ketika dia marah, maka apa yang dia lakukan semaunya tanpa kendalinya. Ia juga tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dulu orang tuanya menebak kalau itu adalah penyakit mental yang biasa disebut kepribadian ganda, tapi setelah memeriksa ke dokter ternyata itu bukanlah kepribadian ganda melainkan ia mengalami mental illness.

Dan tak lama dari situ, kedua orang tuanya malah bercerai dan Devan ikut Ayahnya dan dia malah di kekang. Hal itu membuat mental illness nya tak kunjung sembuh. Karena merasa lelah, Devan memilih berhenti ke psikiater dan menanganinya sendiri. Dan itu berhasil.

Sebelum pergi liburan, Devan sempat berdebat dengan sang ayah. Devan benar-benar marah besar kepada sang Ayah dan memilih untuk pergi saja bersama Langit dan yang lain. Emosinya masih terus terbawa sampai di Villa dan ditambah lagi dengan Shena yang tak mengerti dengan perasaanya, jika dirinya cemburu dan malah membuat Devan marah.

....
Tiba-tiba pukulan keras mendarat di pipi Devan yang sudah semakin babak belur sebelum Langit memukulnya seperti saat ini.

"Udah, Lang. Lo gak kasihan lihat Devan yang udah lemah kayak gitu," lerai Sastya.

Langit yang merasa kesal pun memilih untuk pergi dari sana, ia tak mau menyakiti sahabatnya itu.

....
Disisi lain Villa, terlihat tiga gadis tengah duduk di atas ranjang dengan Shena yang menangis di pelukan Bulan, ia tak menyangka jika orang yang ia cintai secara diam-diam itu malah menghancurkan masa depannya. Devan malah mengambil kesuciannya.

"Kenapa bisa kayak gini. Padahal selama ini kak Devan kelihatan baik, aku gak nyangka dia bisa ngelakuin hal bejat sama kamu," ucap Salsa kecewa.

Yah, Salsa dan Riky adalah orang pertama yang mengetahui hal ini. Dimana ketika mereka mencari, tanpa sengaja di sebuah rumah kecil berlapisan kaca dan sebagian tembok yang terletak enam meter di belakang Villa yang katanya itu tempat istirahat Langit ketika ingin sendiri, mereka mendengar suara isakan disana.

Salsa melirik bagian pintu yang sedikit terbuka. Keduanya saling berpandangan lalu memilih masuk dan mendapatkan kedua insan yang tidur seranjang dengan satu selimut. Siapa lagi kalau bukan Shena dan Devan.

****

Sekarang ini, Langit tengah duduk sembari memijat pelipisnya, hal itu membuat Bulan menghampiri Langit lalu duduk disampingnya. Bulan mengusap-usap lengan kekar Langit, seakan memberi isyarat untuk bersabar.

Langit benar-benar bingung harus bagaimana, apa yang ia katakan kepada Mama Shena, disisi lain ia juga kecewa pada temannya yang teganya melakukan hal itu.

"Sholat." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Bulan. Ia masih tak mau banyak bicara dulu.

Langit pun menatap sang istri yang sedang menunjukkan senyum hangatnya. Langit pun tersenyum tipis lalu menge*cup kening Bulan cukup lama. Setelah itu, Langit langsung berlalu ke kamar mandi untuk mengambil wudhu, guna melaksanakan sholat Dzuhur.

Setelah sholat berdua dengan sang Istri. Langit kembali berbaring dan memanggil Bulan untuk tidur juga di sampingnya. Bulan hanya menurut. Toh, disini suaminya sedang bimbang, dia tak mau jika Langit makin pusing.

Langit langsung memeluk Bulan ketika gadis itu sudah berbaring di sampingnya. Menge*cup puncuk kepala Bulan berkali-kali lalu memeluknya erat.

Langit benar-benar malas untuk keluar kamar, masih tak mau melihat wajah Devan. Ia takut jika dirinya hilang kendali dan malah memukul Devan lagi yang nyatanya sudah babak belur. Dan mungkin saja dia sedang menahan sakit di dalam kamar.

****
Sore telah tiba, niat mereka yang akan bersenang-senang untuk tiga hari di Villa kini hancur. Dan sore ini mereka pun berniat pulang, Langit masih tak perduli dengan wajah lebam Devan.

Mereka pun mengangkat barang-barang mereka dan membawanya ke dalam mobil, setelah selesai, Langit langsung menyuruh sang istri untuk membawa Shena ke dalam mobil dan diikuti oleh Salsa.

Tak lama terlihat Devan yang baru saja keluar dari kamar dengan Sastya yang memapahnya, sangat miris.

"Lo harus tanggung jawab," titah Langit yang membuat Devan mengangkat pandangannya.

"Gue akan tanggung jawab," balas Devan.

"Bagus, pulang nanti lo jangan langsung balik ke rumah. Ikut gue ke rumah Shena," ucap Langit tanpa ekspresi.

Devan hanya mengangguk pasrah. Mereka pun menuju mobil masing-masing dan Raja langsung menaiki motornya.

Di dalam mobil milik Langit, Shena masih terdiam dengan pemandangan kosong, hal itu membuat Salsa langsung memeluk Shena. Shena terkejut tapi di detik berikutnya ia kembali diam. Padahal sebelum ini, Shena dan Salsa tak pernah dekat tapi karena kejadian itu entah kenapa Salsa tak tega melihat wajah sedih dari Shena.

"Devan akan ikut ke rumah kamu, Shena," ucap Langit tiba-tiba.

Mata Shena melotot kaget. Shena yang tadinya menunduk kini mengangkat pandangannya.

"Kenapa harus ikut? Shena gak mau Mama tau kejadian itu." Isak Shena terdengar lagi.

"Tapi Devan akan bertanggung jawab. Apa kamu gak takut hamil dan menjadi bahan bicara buat orang-orang," kata Langit dengan pandangan yang terus tertuju di depan, ia tak mau melihat wajah Shena.

"Langit!" tegur Bulan, karena merasa kata-kata Langit terdengar menyakiti Shena.

Diantara Bulan dan LangitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang