Delapan remaja kini tengah duduk melingkar, menikmati hidangan yang telah mereka buat. Canda tawa terdengar begitu indah. Angin sepoi-sepoi malam ini menjadi saksi dimana delapan remaja itu tengah bahagia.
"Sas, lo gak bohong kan soal lamaran lo sama mbak janda?" tanya Riky masih tak percaya dengan apa yang Sastya katakan tadi.
"Beneran lah, ngapain juga gue bohong sama kalian berdua," jawab Sastya kesal.
Raja yang tadinya diam kini menatap Sastya dengan alis berkerut.
"Lo lamar mbak Laila?" tanya Raja yang memang masih belum tau soal lamaran Sastya.
"Iya," jawabnya santai.
"Lo kasih makan apa? Kerja aja belum punya. Apalagi, Mbak Laila itu wanita dewasa, mana mungkin mau sama lo," sarkas Langit sembari menerima suapan dari Bulan.
"Yah, takdir kan gak ada yang tau. Kenapa sih, pada sewot gitu? Ini kan hidup gue," ucap Sastya lalu hendak berdiri dari sana.
"Mau kemana?" tanya Devan.
"Masuk," jawab Sastya ketus lalu pergi begitu saja meninggalkan teman-temannya.
Shena yang melihat kejadian itu hanya menghela napas, "Kok kalian nyudutin Kak Sastya sih?"
Mendengar itu, semua mata langsung tertuju pada Shena, terutama Devan. Shena pun langsung berdiri dan mengejar kepergian Sastya.
"Gue ke toilet bentar," kata Devan lalu pergi dari sana.
Semuanya hanya menggeleng-gelengkan kepala. Raja dan Langit bukan bermaksud untuk menyakiti Sastya, hanya saja mereka takut jika Sastya akan sakit hati jika cintanya di tolak oleh Laila yang notabenenya seorang janda yang mungkin saja menginginkan lelaki yang lebih mapan dan bisa menjaganya. Sedangkan Sastya, dia masih remaja SMA yang masih butuh banyak bimbingan, apalagi urusan rumah tangga.
Kalau bukan karena kesalahan, Langit pun tak mau menikah muda dan memilih untuk menjomblo sampai ia menggapai cita-cita. Namun ini sudah takdir, untuk apa menyesalinya.
"Keknya, kalian berlebihan deh. Sastya tuh orangnya bo*doh amat, tapi kalau udah kayak gitu, artinya kata-kata kalian udah nyakitin hati dia," ucap Riky tiba-tiba.
"Kita gak bermaksud kayak gitu Ky. Hanya saja, Mbak Laila itu wanita yang sudah dewasa, takutnya jika Sastya nanti akan sakit hati kalau Mbak Laila nolak," ujar Langit.
"Udah ah ... kita kan kemarin mau liburan, bukan saling marah-marah," sela Salsa karena merasa suasana semakin tak terkendali.
****
Malam yang katanya untuk bersenang-senang itu nyatanya salah, mereka malah terpecah bela. Devan dan Shena yang entah kemana, Sastya yang memilih ke kamarnya untuk tidur dan sisanya kini duduk di ruang tamu sembari memikirkan cara agar Sastya tidak merajuk.
Sebelum berkumpul, mereka juga sempat mencari Shena dan Devan yang tak kunjung kelihatan. Hal itu membuat Bulan khawatir kepada Shena.
"Jangan dulu mikirin masalah dengan Sastya. Kita harus cari Devan dan Shena dulu," sela Bulan khawatir.
Langit yang melihat kekhawatiran sang istri pun langsung mengusap kepalanya. "Ya udah, ayo kita cari mereka dulu," ucap Langit.
****
Sebelum Shena dan Devan menghilang, tepatnya disaat Shena menyusul kepergian Sastya, ternyata Devan malah mengikuti Shena dan langsung menarik Shena untuk berjalan keluar villa.
"Kak Devan apa-apaan sih?" tanya Shena kesal.
"Lo suka sama Sastya?" Buka mendapat jawaban, Devan malah bertanya balik dengan nada yang sedikit tinggi membuat Shena terkejut bukan main.
"Maksud kakak apa? Aku gak suka sama kak Sastya, aku kasihan karena gak ada yang kasih dukungan," jawab Shena dengan tangan yang menggeliat di bawah sana karena cengkraman Devan yang cukup kuat, membuat Shena merasa sakit.
"Kenapa lo peduli banget sama Sastya, hah?"
"Memangnya kenapa? Apa urusannya sama kak Devan?" Kali ini Shena tak tinggal diam, ia merasa heran saja, kenapa Devan malah memarahinya. Padahal jelas-jelas Shena hanya ingin menenangkan Sastya saja.
Devan yang mendengar pertanyaan itu sontak melepas genggaman tangannya. Setelah genggaman itu terlepas, Devan melirik Shena yang memegang tangannya. Tanpa izin Devan langsung meraih kembali tangan Shena dan melihat pergelangannya yang memerah.
"Maaf," ucap Devan dengan pandangan yang masih tetap fokus pada pergelangan tangan Shena.
Shena langsung menarik tangannya. Entahlah, jantungnya seakan mau copot saja. Tapi disisi lain, ia merasa kesal karena Devan terlihat kasar tadi.
"Maaf? Kak Devan gak tau apa? Tangan aku sakit. Kakak juga gak ada hak buat larang aku kalo dekat sama kak Sastya. Lagi pula kita gak ada hubungan apa-apa," ujar Shena ketus.
Amarah Devan kembali setelah mendengar kata yang keluar dari mulut Shena. Amarahnya semakin memuncak.
Ini adalah salah satu rahasia Devan yang tak di tahu oleh teman-teman lain. Devan memang terlihat lemah lembut tapi jika ia sudah marah, maka dia tak akan terkendalikan dan bisa saja ia tak sadar ketika melakukan sesuatu di luar nalar.
Mata Devan kini memerah, menatap Shena yang seakan meremehkannya.
"Lo milik gue, She-na," ucap Devan sembari menekan setiap kata yang ia ucapkan.
Shena sedikit merinding mendengar itu tapi ia tak mau terlihat lemah di depan Devan.
"Enak aja. Aku gak mau di klaim gitu aja, aku gak setuju," sarkas Shena.
Tiba-tiba saja Devan langsung menyerang b1b1r pink milik Shena, membuat sang empu terkejut bukan main. Shena berusaha melepaskan diri dari Devan, namun hasilnya nihil.
Tak lama akhirnya Devan melepaskan pagu*tannya tapi tidak dengan tangannya yang masih terus bertengger pada pinggang ramping milik Shena.
"Kakak apa-apaan, hah?" marah Shena.
Devan hanya tersenyum smirk lalu tiba-tiba ia menarik Shena pergi dari sana.
"Kak, lepas!!" teriak Shena tapi tak dihiraukan dan karena Shena terus memberontak, Devan pun langsung mengangkat tubuh Shena seperti karung beras.
Sepertinya dia bukan Devan.
****
Pagi telah tiba, semuanya kembali berkumpul di ruang tamu dan Sastya juga sudah tak merajuk lagi karena masalah mereka sudah terselesaikan. Namun, satu masalah lagi belum selesai yaitu Shena dan Devan yang masih tak kunjung ditemukan. Tak tahu mereka berdua kemana sekarang ini.
"Salsa. Shena beneran gak ada di kamarnya?" tanya Bulan yang dibalas anggukan oleh Salsa.
Memang sedari semalam mereka mencari Shena dan Devan sampai di luar Villa, namun mereka tak kunjung menemukan keduanya. Aneh, padahal Devan semalam mengatakan kalau dirinya buang air kecil lalu Shena memilih menyusul kepergian Sastya. Tapi Sastya mengatakan jika Shena tak pernah mendatanginya.
Kini mereka hanya diam, berpikir keras kemana mereka harus mencari keduanya.
"Gini deh, kita mencar aja. Aku takut kalo mereka ternyata masuk jurang atau gimana," ucap Bulan gelisah.
"Huss ... gak boleh ngomong gitu, mereka pasti gak pa-pa," sela Langit membuat Bulan menunduk.
"Ya udah, Raja dan Sastya kalian cari di sebelah Utara trus aku sama Bulan cari disebelah Barat, dan Riky sama Salsa di sebelah selatan, tapi kalian jangan jauh-jauh. Terutama Riky sama Salsa."
Semuanya mengangguk lalu berpencar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Diantara Bulan dan Langit
Novela Juvenil"Mungkin kamu tak akan melirikku walaupun sesaat. Tetapi setidaknya, jangan kamu tunjukkan sesuatu yang membuatku sakit" ~ Bulan Aisyah Willano
