Bab 56 ~ buka mata hanya untuk pergi

15 3 0
                                        

Waktu sudah banyak berlalu, bayi kembar kini telah tumbuh menjadi anak-anak manis, usia mereka sudah 10 tahun. Abyasa sifatnya cenderung pendiam, sedangkan Anindita sifatnya pecicilan. Entah dari mana Anindita memiliki sifat itu.

"Yasa!" panggil Anindita yang baru saja selesai dengan mata pelajaran terakhir.

"Hmm," balas Abyasa.

"Ayah belum datang?" tanya Anindita karena melihat belum ada mobil sang Ayah.

"Belum," jawabnya.

"Yasa, kalo aku pulang bareng teman, kamu gak pa-pa?"

Pertanyaan Anindita membuat Abyasa menoleh dengan alis mengerut.

"Pulang sama siapa? Ayah ngelarang kita buat pulang sendiri-sendiri, lebih baik tunggu Ayah," jelas Abyasa yang membuat Anindita cemberut.

Tak lama mobil berwarna hitam berhenti di hadapan anak kembar itu. Kaca mobil pun terbuka menampakkan Langit disana.

"Ayah!" pekik Anindita berlari ke arah mobil dan disusul oleh Abyasa.

Anindita pun masuk ke dalam mobil dan duduk di depan sedangkan Abyasa memilih duduk di belakang sendiri.

"Ayah kok lama sih? Dita capek nunggu," ucapnya manja.

"Maafin Ayah, tadi ada pekerjaan mendadak soalnya."

"Selalu saja begitu," sarkas Abyasa yang membuat Langit menoleh ke arah sang putra.

Helaan napas terdengar keluar dari mulut Langit. Langit pun memilih untuk menjalankan mobilnya, ia tak mau meladeni ucapan Abyasa tadi. Toh, dia memang benar.

"Kita ke rumah sakit dulu ya?" ucap Langit tanpa menoleh pada anaknya.

"Ngapain?" tanya Anindita.

Langit mengernyit mendengar pertanyaan yang dilontarkannya oleh putrinya itu. Tak tahu kenapa anak-anaknya seakan berani bertanya yang tidak-tidak kepada sang Ayah. Bukankah itu tidak sopan?

"Kita jenguk Bunda," jawab Langit.

"Buat apa jenguk, kalo Bunda gak mau bangun. Dita capek lihat Bunda gitu terus. Apa Bunda gak sayang sama kita?" ucap Anindita kesal.

"Yasa juga capek. Iya kan?" tanya Anindita pada Abyasa guna meminta dukungan dari saudara kembarnya itu.

"Gak tau," jawab Abyasa datar.

****
Beberapa menit berlalu akhirnya mobil Langit pun berhenti di rumah sakit besar itu. Langit lalu mengajak kedua anaknya untuk turun dan mengikutinya. Anindita terus saja komat Kamit, karena merasa kesal.

Sesampainya di dalam ruangan Anindita hanya berdiri sejauh lima langkah dari jarak ranjang Bulan sedangkan Abyasa kini memilih ikut Langit untuk duduk samping Bulan.

"Sayang! Kita datang jenguk kamu. Ada Abyasa disini dan juga ...." Langit menoleh melihat Anindita yang nampak cuek. "Dan juga ada Anindita. Ayo bangun, sayang!" ucap Langit.

Lagi-lagi Langit berharap Bulan untuk segera bangun. Sudah sepuluh tahun berlalu tapi semua masih tetap sama, tak ada perubahan dari Bulan.

Tak lama seorang dokter masuk dan memeriksa Bulan, setelah diperiksa dokter itu beri isyarat kepada Langit agar mereka lebih baik bicara di luar karena takut kedua anaknya bisa mendengar pembicaraan ini.

Setelah sampai di luar, dokter itu terlihat menghela napas lebih dulu.

"Begini Langit ... Setelah dilakukan pemeriksaan berkali-kali ditambah pemeriksaan terakhir tadi, disimpulkan bahwa Bulan telah mengalami mati otak."

Diantara Bulan dan LangitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang