Langit m3lum4t bibir Bulan dengan kasar. Sedangkan Bulan kini menangis, ia sudah berusaha untuk melepaskan diri, tapi nyatanya itu tak bisa.
Sampai akhirnya Bulan dengan sekuat tenaga mengambil benda yang ada di atas nakas tak jauh dari pembaringannya. Setelah menggapai benda itu, Bulan dengan terpaksa memukul kepala Langit sampai tautan bibir mereka terlepas.
"Aakhh!!" ringis Langit kala merasakan sakit di kepalanya.
Bulan yang memanfaatkan keadaan langsung berlari keluar. Ia berlari keluar dengan air mata yang bercucuran.
Zaiya yang baru saja turun dari lantai atas pun bingung. Apa yang terjadi pada Bulan? Kenapa dia malah berlari?
"Bulan?" panggil Zaiya yang membuat Bulan berhenti, ia tak berani membalikan tubuhnya, takut jika Zaiya tau apa yang terjadi tadi.
"Kenapa lari-larian?" tanya Zaiya sembari mendekati Bulan.
"B-Bulan mau pulang, tante," jawab Bulan seadanya. Ia berusaha menahan isakannya.
"Ya udah, Tante anter kamu ya?"
"Gak usah, Bulan pulang saja sendiri. Terimakasih ... Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumussalam."
Zaiya hanya melihat kepergian Bulan, ia merasa aneh, namun, ia berusaha berpikir positif.
Bulan kini berlari di jalan, ia tak tahu harus pulang bagaimana, ia tak membawa uang, karena uangnya sudah habis membeli peralatan untuk sekolah besok.
Bulan menatap kantung yang berisi buku itu dan hal itu membuatnya semakin menangis.
"Ya Allah, maafkan Bulan. Maafkan Bulan karena gak bisa jaga diri. Ya Allah, Bulan telah kotor," ucapnya terisak.
Takut menghadap Tuhan, ia merasa malu. Dia membenci Langit tapi dia lebih membenci dirinya sendiri.
Bulan langsung berjongkok dipinggir jalan sembari memeluk lututnya. Ia menangis sekencang-kencangnya.
"Papa, Maafin Bulan!" ucap Bulan lagi dengan air mata yang terus saja bercucuran.
***
Disisi lain, Langit kini tengah menetralkan rasa sakit di kepalanya itu, dia sudah sedikit sadar setelah kepalanya dipukul oleh Bulan. Setelah merasa lebih baik Langit langsung memilih ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Ia seakan-akan tak merasa bersalah sama sekali. Laki-laki macam apa itu.
Setelah membersihkan diri, Langit pun keluar dengan handuk yang melingkar di pinggangnya. Sebuah kain kecil ia gosok-gosokkan ke rambutnya yang basah.
Tiba-tiba Langit mengernyit, matanya memicing melihat sebuah sobekan kain di tempat tidurnya yang berwarna merah dan juga ada rambut rontok di seprei yang berwarna putih itu.
"Rambut gue gak sepanjang ini," gumam Langit bingung.
Lama berdiam diri mengingat apa yang terjadi, lalu memegang kepalanya yang entah kenapa bisa sakit. Tiba-tiba Langit teringat dengan kejadian yang tanpa sadar ia lakukan.
Matanya melebar, ia ingat dengan jelas, bagaimana dirinya menyentuh Bulan seenaknya. Buka cuma menyentuh, ia juga sudah mengambil first kiss nya dan itu jga termasuk first kiss langit.
Langit kini terduduk di ranjangnya, ia merasa bersalah kepada Bulan dan juga kecewa pada dirinya sendiri. Tangannya mengepal, ia yakin jika ini adalah ulah Alta.
KAMU SEDANG MEMBACA
Diantara Bulan dan Langit
Fiksi Remaja"Mungkin kamu tak akan melirikku walaupun sesaat. Tetapi setidaknya, jangan kamu tunjukkan sesuatu yang membuatku sakit" ~ Bulan Aisyah Willano
