Bab 41 ~ Lamaran

10 4 0
                                        

Sepulang dari rumah baru mereka, Bulan pun langsung menemani Zaiya, ia tak mau jika berduaan dengan Langit. Masih ada rasa canggung ketika bersama Langit apalagi mengingat kejadian tadi. Bulan benar-benar malu.

Kini perut Zaiya baru mulai kelihatan walaupun masih belum terlalu besar. Bulan juga duduk disamping Zaiya yang terus saja menatap layar tv semabri mengusap-usap perutnya.

"Ma, gimana rasanya ha*mil?" tanya Bulan tiba-tiba yang membuat Zaiya mengernyit.

"Biasa aja. Yang paling tersiksa sih, pas ngidamnya aja," jawab Zaiya. "Kamu mau ha*mil juga?" tanya Zaiya.

Bulan yang mendengar pertanyaan itu menjadi salah tingkah sendiri. Ia lalu menggeleng cepat.

"Gak kok, Mah. Bulan cuma nanya doang," jawab Bulan.

"Bulan ke kamar sebentar ya, Ma," ucap Bulan karena tiba-tiba ia teringat jika ia belum sholat Dzuhur.

Bulan cepat-cepat melangkah masuk ke dalam kamar. Matanya berkeliaran mencari sosok Langit, namun tak ada. Bulan pun hanya menghela napas semabri melangkah menuju kamar mandi lalu berwudhu. Setelah berwudhu ia lalu keluar dan melihat Langit yang sedang berbaring di tempat tidur.

"Kamu dari mana, Lang?" tanya Bulan penasaran.

"Dari masjid, habis sholat Dzuhur. Kamu mau sholat? Kenapa gak sholat dari tadi. Ini kan udah jam satu lewat," ucap Langit.

"Tadi keasikan ngobrol sama mama sampe lupa sholat," ucap Bulan sembari cengengesan.

"Astaghfirullahaladzim," ucap Langit.

****
Disisi lain kota Raja tengah bekerja disebuah bengkel. Raja bisa dibilang orang kaya, namun ia memilih untuk mencari uang sendiri untuk jajannya, ia tak mau terlalu menyusahkan sang Ayah.

"Hai, Raja!" Raja mendongak kala seorang gadis menghampirinya.

Teman-teman bengkel Raja kini saling melempar pandangan satu sama lain sembari tersenyum. Karena baru kali ini mereka melihat Raja di hampiri seorang gadis.

"Lo ternyata kerja disini?"

"Hmm," jawab Raja singkat.

"Kaka gue mau ketemu sama geng BT," ujar gadis itu lagi yang membuat Raja menghentikan aktivitasnya.

"Buat apa?"

"Katanya, dia mau minta maaf sama kalian, karena selama ini dia sudah banyak buat masalah," jelas gadis itu.

"Nanti gue kasih tau sama Langit," balas Raja lalu kembali melanjutkan apa yang tadi sempat terhenti.

"Raja!" panggil gadis itu lagi karena Raja terus saja cuek padanya.

"Apa lagi, Cana? Gue lagi sibuk," kesal Raja.

Ya, gadis itu adalah Cana, adik dari Alta. "Bisa gak kita jalan sebentar malam?" tanya Cana.

"Gue sibuk," balas Raja tanpa berpikir lebih dulu.

"Ya udah, kapan-kapan aja. Boleh ya?" mohon Cana.

Raja hanya mengernyit bingung. Kenapa gadis ini malah memohon padanya, padahal mereka tak sedekat seperti yang dikira teman-teman bengkelnya.

"Gue gak janji," balas Raja dengan tangan yang terus mengotak-atik mesin mobil.

****
Di sebuah ruang tamu terlihat Sastya, Mam Sastya, Laila dan juga Fatima alias anak Laila tengah duduk bersama karena ajakan dari Sastya sendiri.

"Mbak Laila, saya serius. Apa mbak Laila mau menerima lamaran saya?" tanya Sastya yang tentu saja hal itu membuat Laila dan juga Fatimah terkejut buka main.

Apa Sastya tidak salah mengatakan hal itu.  Tanpa sadar, lamaran itu membuat salah satu hati sakit, siapa dia? Tentu saja anak Laila yaitu Fatimah.

Selama ini gadis kecil yang akan beranjak remaja itu benar-benar menyukai Sastya. Ia mengagumi Sastya secara diam-diam, tapi sebuah kenyataan menamparnya begitu keras. Ternyata orang yang Fatimah kagumi malah melamar Umi nya sendiri.

Fatimah hanya menunduk karena merasa sesak di dadanya. Selama ini ia tak pernah mengagumi lawan jenis, tapi semenjak mereka pindah setahun yang lalu di komplek ini, hati Fatimah malah nyantol kepada seorang remaja SMA yaitu Sastya.

"Gimana, mbak?" tanya Sastya lagi.

Laila nampak bimbang dengan pertanyaan mendesak itu. Jantungnya pun ikut berdebar, merasa gugup dengan situasi sekarang ini.

"Berikan saya waktu untuk berpikir," jawab Laila setenang mungkin.

Fatimah yang mendengar jawab dari sang Umi, ia malah mengernyit bingung. Pasalnya, selama beberapa orang melamar Uminya, sang Umi langsung menolak secara halus tanpa meminta waktu untuk berpikir, namun kali ini berbeda. Apa Uminya menyukai Sastya juga?

"Baiklah. Saya minta maaf mbak karena sudah lancang menyukai mbak Laila," ucap Sastya.

Laila hanya mengangguk. Sedangkan Fatimah kini berdiri lalu berpamitan untuk keluar, katanya ada tugas sekolah mendadak. Laila hanya mengangguk memberi izin tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

****
Di sebuah cafe terlihat Karang yang sedang duduk bersama seorang gadis yang tak lain adalah kekasihnya. Ya, Karang sekarang sudah tak mengejar Bulan karena mengetahui kalau Bulan adalah tunangan dari Langit. Karang sadar diri kalau dirinya tak pantas untuk merebut Bulan dari Langit.

Dan hati Karang kini sudah benar-benar untuk sang kekasih yang bernama Serya. Gadis manis dari sekolah tetangga.

Setelah lama berbincang-bincang di cafe, Karang pun mengantar Serya balik. Setelah mengantar Serya, Karang langsung saja pamitan. Di sebuah persimpangan tiba-tiba seorang gadis kecil dengan hijab cream melintas begitu saja membuat Karang refleks membanting setir mobilnya dan dia malah menabrak beton tinggi.

Hal itu membuat gadis kecil tersebut terbelalak lalu berlari menghampiri mobil milik Karang.

"Astaghfirullahaladzim ... kak!" ucap gadis kecil itu lalu membantu Karang untuk keluar dari mobil.

Dengan tubuh yang sedikit lemah akibat benturan di kepalanya, Karang berusaha mengikuti langkah gadis itu untuk duduk sebentar di pinggir jalan. Gadis kecil itu langsung berlari meninggalkan Karang.

"S1al ... dia yang buat gue kek gini, dia yang malah kabur," gerutuh Karang.

Namun, tak disangka gadis itu kembali dengan sebotol air dan memberikannya kepada Karang. Karang lalu menerima botol air minum itu lalu meneguknya.

"Maaf kak, karena saya, kakak jadi kayak gini," ucap gadis itu menunduk.

"Siapa namamu?" tanya Karang ketus.

"S-saya Fatimah," jawab Fatimah.

"Ok Fatimah, beritahu kepada kedua orang tua mu untuk membayar ganti rugi mobil saya yang rusak," tegas Karang sembari menunjuk mobilnya yang benar-benar rusak di bagian depan.

"Abi saya sudah meninggal dan Umi saya pasti gak mampu bayar ganti rugi, karena mobil kakak pasti mahal," cicit Fatimah tanpa menatap wajah Karang.

"Bagaimana kalau saya jadi pembantu atau bekerja membantu Kakak," ucap Fatimah menawarkan. Ia berharap dengan cara itu, ia tak membuat Uminya susah.

"Memangnya apa yang kamu bisa lakukan? Kamu masih anak kecil yang tentu saja masih harus fokus dengan sekolah." Karang menatap Fatimah dari atas sampai bawah, "Lebih baik beritahu Umi kamu," lanjut Karang.

"Tapi saya gak bisa kasih tau Umi. Dia sudah cukup lelah mengurus saya dari kecil sendirian ... saya mohon, apa yang haru saya lakukan agar bisa mengganti rugi?"

Dia bertanya seperti itu karena merasa bersalah tapi dia masih anak kecil yang belum bisa mencari pekerjaan.

Karang terlihat berpikir keras. "Ya sudah, kamu bisa bantu saya mencatat tugas atau menyalin materi dan sedikit membantu pekerjaan rumah yang kamu bisa saja. Dan satu lagi, karena ganti ruginya sangat mahal, jadi kamu bekerja sama saya selama setahun," putus Karang yang membuat Fatimah membolakan matanya.

Setahun? Apa itu tidak kebanyakan? Tapi Fatimah tetap menerimanya. Toh, dia memang salah, kalau saja dia tidak melamun hanya karena perkara lamaran Sastya kepada Laila, ini pasti tidak terjadi.

Diantara Bulan dan LangitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang