Kini Bulan tengah membereskan bukunya karena mata pelajaran terakhir telah usai. Guru pun telah keluar dari kelas dan juga beberapa murid.
Bulan pun hendak berdiri tapi tiba-tiba tangannya di tahan oleh Langit. Bulan menoleh ke arah tangannya lalu menatap Langit.
"Pulang bareng aku," ucap Langit yang terkesan memaksa.
"Gak usah, Lang. Aku bisa pulang sendiri. Lagian, aku bawa motor sendiri gak mungkin aku tinggalin disini," balas Bulan dan berusaha melepas genggaman Langit.
"Soal motor, nanti aku nyuruh Devan anterin ke rumah. Kamu pulang bareng aku," ucap Langit yang membuat Bulan menghembuskan napas malas.
"Ya sudah," kata Bulan. "Tapi tangannya lepas," lanjut Bulan ketus.
Langit hanya bisa menatap Bulan. Entah kenapa ia merasa tak suka dengan sikap Bulan dari pagi tadi sampai siang ini. Bulan terlihat ketus dan seakan tak mau bersama Langit.
"Kamu marah?" tanya Langit.
Oh tuhan, bukankah dia yang membuat Bulan marah? Kenapa dia malah bertanya?
"Aku gak marah, hanya merasa kecewa saja," jawab Bulan seadanya.
Bulan ingin sekali tak mau menegur Langit sepanjang hari, namun ia sadar, kalau dirinya hanyalah benalu yang tiba-tiba saja menyangkut di kehidupan Langit. Tapi itu juga salah Langit sendiri, siapa suru menyentuh tubuh Bulan.
Kali ini Bulan berniat untuk merubah sikap lemahnya, ia tak mau terus-terusan memendam rasa sakit tanpa mengungkapkan.
"Kenapa gak marah? Padahal aku jelas menyakitimu karena masih mencintai Lia," titah Langit.
"Apa untungnya aku marah. Cintamu hanya untuk Lia, aku gak bisa memaksa hati orang untuk mencintaiku," balas Bulan tapi terdengar ketus.
"Mari kita bercerai saja!" lanjut Bulan.
Entah setan dari mana, Bulan benar-benar tak sadar mengungkapkan hal itu. Dia seakan dirasuki jin jahat. Setelah mengatakan itu, Bulan langsung berlalu dari sana. Tapi sebelum itu Bulan..
"Aku menunggumu di parkiran, kalau gak berniat pulang bareng, aku langsung balik sendiri," lanjut Bulan lalu ia benar-benar pergi.
Tak disangka, setelah keluar dari kelas, pertahanan Bulan benar-benar runtuh. Buliran bening berusaha Bulan sembunyikan kini terjatuh begitu saja. Hatinya sakit, ia juga tak tega berbicara ketus kepada Langit.
Setelah Bulan keluar dari gedung sekolah tiba-tiba seseorang berdiri di hadapannya membuat Bulan terhenti dan mendongak menatap siapa dia.
"Kak Raja?" ucap Bulan melihat Raja yang menghalangi jalannya.
"Langit nyakitin kamu?" tanya Raja.
"Gak ... hari ini aku pulang bareng Langit," balas Bulan karena ia tak mau jika orang luar mengetahui masalah keluarga kecilnya. Sekalipun itu keluarganya.
Yah, kali ini Bulan tak lagi mengadu kepada siapapun termasuk kepada Papa. Ia ingin menyelesaikan masalahnya sendiri.
"Mana dia?" tanya Raja dengan alis yang mengerut.
"Masih di kelas, kak," jawab Bulan dan tiba-tiba tangannya di tarik oleh orang yang baru saja datang dan membawanya pergi. Siapa lagi kalau bukan Langit.
"Gue duluan, Ja," ucap Langit tanpa menoleh ke arah Raja.
Terlihat jelas kepalan tangan Langit terlihat begit kuat dengan wajah yang nerah. Setetes dara mengalir di jarinya karena kuku yang menancap ke telapak tangan akibat kepalan kuat itu.
Ia tak suka jika Bulan berdekatan dengan Raja. "Jangan dekat-dekat dengan Raja," ucap Langit tiba-tiba.
Bulan hanya diam. Dia tak mengatak ia ataupun tidak. Bulan merasa sedih karena Langit kembali lagi seperti yang dulu. Padahal, beberapa hari setelah gugatan cerai yang Bulan lakukan, Langit telah berubah menjadi romantis dan ternyata itu hanya kepalsuan menurut Bulan.
"Naik," ucap Langit membuyarkan lamunan Bulan.
Bulan pun naik ke motor sport itu. Setelah motor berjalan. Pikiran Bulan juga ikut berjalan. Apa dia tetap bertahan dengan suami yang masih terjebak dalam masa lalunya ataukah bertahan. Lama berpikir akhirnya Bulan menemukan jawabannya, walaupun ia masih ragu.
"Ok, mulai saat ini, aku akan berjuang mendapatkan cinta kamu," putus Bulan dalam hati.
Tiba-tiba Bulan melingkarkan tangannya ke pinggang milik Langit yang membuat Langit terkejut, tapi di detik berikutnya ia berusaha biasa saja.
"Langit! Aku minta maaf!" ucap Bulan yang tentu saja menyentil hati Langit.
"Kenapa minta maaf? Aku yang salah. Harusnya aku yang minta maaf," balas Langit karena ia sadar kalau dirinya salah. Seharusnya tidak mencintai Lia lagi, tapi mau bagaimana lagi, Langit sudah berusaha tapi tetap tak bisa.
****
Setelah sampai di rumah, Bulan langsung turun dari motor.
"Bulan!"
Bulan pun menoleh ke arah Langit. Terlihat ekspresi Langit yang terlihat sendu.
"Bantu aku untuk mencintai kamu," ucap Langit.
Bulan sedikit terkejut mendengar itu. Apa ini jalan Tuhan agar mereka bisa dekat. Padahal Bulan baru saja ingin berjuang sendiri dan sekarang seakan pintu perjuangan itu terbuka begitu lebar. Bulan tersenyum kemudian menyalimi tangan Langit.
"Aku akan berusaha, Lang. Makasih udah kasih jalan terbaik untuk aku berjuang," balas Bulan dengan senyum manisnya. Walaupun masih ada rasa sakit karena kenyataannya Langit masih tetap mencintai Lia.
Bulan pun langsung pergi tanpa memperdulikan Langit yang masih terdiam di luar rumah. Langit pun turun dari motor lalu masuk ke dalam rumah. Matanya memicing melihat Papanya yang tidak berangkat kerja hari ini dan malah duduk berduaan dengan Mamanya dan tentu saja Bulan juga sudah ikut nimbrung disitu.
"Papa gak kerja?" tanya Langit sembari menyalimi tangan Papa dan Mama bergantian.
"Gak. Papa lagi jagain mama kamu," jawab Abi.
"Memangnya mama kenapa? Sakit?"
"Mama kamu sedang ham1l dan lagi ngidam, dia gak mau papa pergi," ucap Abi yang membuat Langit melotot.
"APA!"
Semua yang ada disitu langsung menoleh karena terkejut dengan teriakan Langit.
"Langit! Kamu ya, buat orang jantungan aja," gerutu Zaiya.
"Mama kok bisa ham1l sih? Aah masa Langit udah gede begini harus punya adek lagi," kesal Langit yang membuat Bulan terkekeh melihat wajah lucu sang suami.
"Memangnya kenapa kalo punya adek?" tanya Abi bingung.
"Yah, nanti kalo seandainya Langit jagain dia malah dikira aku nih Papa muda lagi," jawab Langit.
"Yah, gak pa-pa, dong. Lagian kamu juga sudah menikah. Kapan punya anak? Kapan biar Papa gendong anak kamu."
Kata-kata Abi seakan menantang anaknya untuk membuat debay. Hal itu membuat Zaiya melotot lalu memukul lengan Abi sedikit kuat membuat sang empu meringis.
"Kamu ya! Langit itu masih sekolah, ngapain nantangin anak kayak gitu, hah?" marah Zaiya yang membuat Abi terkekeh.
Sedangkan Bulan kini menunduk malu, kenapa mertuanya sefrontal itu. Sedangkan Langit dan Bulan belum saling cinta.
"Dua bulan lagi, Langit udah punya anak," gerutu Langit dan langsung menarik tangan Bulan untuk pergi dari ruang keluarga.
"Eh eh ... mau kemana?" teriak Abi.
"Mau buat debay seperti Papa!" balas Langit tak kalah kencang.
Sedangkan Bulan hanya melongo tak percaya. Papa sama anak sama saja. Tapi didetik berikutnya, Bulan kembali murung karena ia sadar jika Langit masih belum mencintainya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Diantara Bulan dan Langit
Teen Fiction"Mungkin kamu tak akan melirikku walaupun sesaat. Tetapi setidaknya, jangan kamu tunjukkan sesuatu yang membuatku sakit" ~ Bulan Aisyah Willano
