Di markas, Sastya tengah mengompres lebam yang ada di perutnya. Ia juga membelakangi Laila karena bagaimana pun ia tak pantas menunjukkan tubuhya pada Laila.
Laila hanya duduk diam di sudut ruangan. Matanya terus menyapu dalam ruangan ini.
"Mbak, beneran gak di apa-apain?"
Suara itu membuat Laila langsung menoleh ke arah Sastya.
"Mereka hanya sempat memegang tangan saya. Syukurlah kamu datang kalau gak, saya sudah dilecehkan sama ketiga preman itu. Terimakasih karena sudah membantu saya," ucap Laila yang membuat Sastya menghela napas lega.
"Ya sudah, mbak. Saya anterin mbak balik sekalian pulang juga," ucap Sastya santai tapi tidak dengan jantungnya yang berdisko di dalam sana.
Laila pun mengangguk dan membiarkan Sastya berjalan lebih dulu. Baru saja Sastya keluar tiba-tiba melihat Langit dan Bulan yang baru saja datang.
"Loh, Sastya, tumben dateng siang-siang?" tanya Langit karena memang selama ini Sastya jarang kumpul siang hari di markas.
Tiba-tiba Laila keluar membuat Langit mengernyit bingung. Langit lalu menatap Sastya yang nampak biasa saja. Lalu kembali melirik Laila yang dengan kondisi lengan bajunya yang robek membuat Langit langsung berpikir jauh.
"Lo apain dia?" tanya Langit dengan tatapan mengintimidasi.
"Gue gak apa-apain. Ini gue mau anter pulang mbak Laila nya," jawab Sastya yang tak sadar jika Langit memperhatikan baju sobek Laila.
"Mbak Laila? Tetangga lo?" tanya Langit memastikan dan langsung dibalas anggukan oleh Sastya.
"Lo beneran gak ngapa-ngapain mbak Laila?"
Lagi-lagi Sastya hanya menggeleng. "Tapi kenapa baju mbak Laila sobek?" tanya Langit lagi.
Laila lalu menatap lengannya yang sobek. Ia baru sadar dan langsung menutupinya karena kulitnya terlihat.
"Astaghfirullah ... saya gak tau kalau ini sobek. Tadi saya hampir dilecehkan tapi syukurlah, Sastya datang menyelamatkan saya," balas Laila.
"Ooh gitu, maaf mbak. Tadinya aku hampir mikir yang aneh-aneh," titah Langit.
"Iya, gak pa-pa kok."
"Ya sudah, aku mau pulang anter mbak Laila, sekalian pulang," pamit Sastya lalu mengajak Laila untuk pergi dari sana.
Langit lalu menggenggam tangan Bulan, mengajaknya masuk ke dalam markas. Bulan kemudian menelisik setiap sudut ruangan dengan tatapan kagum.
"Ini markas kalian?" tanya Bulan dengan mata berbinar.
"Iya, kenapa?"
"Markas kalian besar. Jadi pengen punya rumah sendiri," lirih Bulan lalu mengalihkan pandangannya pada foto-foto yang terletak pada sebuah meja.
"Keknya foto ini udah lama ya?" tanya Bulan lagi.
"Hmm, kok tau?" heran Langit.
"Kelihatan dari wajah kamu. Masih kayak anak kecil," jawab Bulan sembari terkekeh.
Langit hanya menggeleng pelan mendengar jawab Bulan. Matanya terus memperhatikan gerak-gerik Bulan yang nampak bahagia, padahal Langit hanya menjawabnya ke markas.
Langit tadi, sebenarnya mendengar ucapan Bulan walaupun sangat lirih. Jadi, Langit ingin mewujudkannya, namun ia tak punya uang lebih untuk membeli rumah atau membuat rumah.
Langit tak mungkin meminta uang kepada Abi. Biar bagaimanapun, Langit sudah berumah tangga dan tak mungkin harus bergantung kepada kedua orang tuanya.
****
Dua Bulan sudah berlalu dan ini adalah hari terakhir ujian tengah semester untuk semester dua ini. Tak lama mereka takan lulus SMA. Langit baru saja keluar kelas dan menghampiri Bulan yang sedang menunggunya di depan kelas karena tadi Bulan keluar lebih dulu setelah selesai mengerjakan soal ujian.
Dan hubungan keduanya sudah semakin erat. Langit juga sudah benar-benar bucin kepada Bulan. Di sekolah, status mereka dikenal sebagai sepasang kekasih yang sudah bertunangan padahal mereka sudah menikah.
"Sayang, aku punya hadiah buat kamu," ucap Langit yang membaut Bulan mengernyit.
"Hadiah apa?" tanya Bulan penasaran.
"Ada deh. Yuk!" ajak Langit sembari menggenggam tangan Bulan.
"Mau kemana?"
"Mau kasih tunjuk hadiahnya," jawab Langit.
Dengan wajah bingung, Bulan hanya bisa mengikuti langkah Langit. Baru saja mereka keluar dari gedung sekolah itu, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kedatangan keempat inti BT.
"Mau kemana? Kayaknya buru-buru banget. Kita makan-makan dulu yuk!" ajak Riky kepada inti BT dan juga Langit.
"Gue gak bisa. Gue ada urusan bentar sama Bulan," balas Langit.
"Mentang-mentang udah bucin, udah gak mau ngumpul," kesal Riky.
Sedangkan Raja dan juga Devan hanya terkekeh menanggapi wajah lucu dari Riky.
"Biasa aja dong muka lo, jijik gue anj**," ucap Sastya semabri bergidik ngeri.
"Kapan-kapan deh. Atau gini deh, dua hari lagi kan libur. Jadi, gue ajak kalian liburan ke villa peninggalan kakek gue," usul Langit yang membuat Riky dan Sastya membolakan matanya.
"Serius?"
"Iya, mau gak?" tanya Langit lagi pada teman lainnya.
Semaunya mengangguk dan mereka pun berpisah karena katanya Langit ada urusan bersama Bulan. Tapi, Bulan saja tidak tahu apa-apa tentang itu.
Di perjalanan Bulan benar-benar tak tahu Langit membawanya kemana. Tiba-tiba motor Langit berhenti disebuah rumah yang tak jauh beda dengan rumah mertua Bulan. Halamannya cukup besar membuat Bulan tertarik ingin tinggal disini lalu menanam bunga banyak-banyak dihalaman rumah ini.
"Kita ngapain disini?" tanya Bulan bingung.
"Ini adalah hadiah yang aku cerita tadi. Rumah untuk kita!" jawab Langit yang membuat Bulan terbelalak.
"Rumah untuk kita?" tanya Bulan dengan wajah tak percaya.
"Yah, ini rumah kita. Tapi ini adalah hadiah dari Papa. Maaf karena belum bisa beli rumah pakai uang hasil kerja kerasku, soalnya belum cukup," ucap Langit terkekeh.
Bulan hanya membalas dengan seulas senyum manis. Langit langsung menarik Bulan untuk masuk ke dalam rumah. Mata Bulan melebar melihat isi rumah itu yang nampak mewah.
"Lang, kayaknya ini berlebihan. Kita hanya tinggal berdua loh," ucap Bulan.
"Untuk saat ini gak pa-pa berdua. Kan berdua lebih baik, karena gak ada yang ganggu kita," balas Langit yang membuat Bulan tersenyum malu.
"Suatu hari nanti, rumah ini akan ramai dengan suara anak-anak kita," sambung Langit yang tentu saja membuat Bulan semakin malu. Wajahnya juga memerah bak kepiting rebus.
"Kamu ngomong apa sih? Malu tau," lirih Bulan.
Hal itu membuat Langit semakin ingin menggoda sang istri. Karena merasa Bulan begitu menggemaskan, Langit tiba-tiba memegang dagu Bulan untuk mendongak menatap Langit yang lebih tinggi.
Tiba-tiba saja Langit mendekatkan wajahnya ke wajah Bulan dan membuat Bulan semakin gugup. Jantung Bulan berdetak begitu cepat.
"L-Langit! Lebih baik kita balik, kasian Mama sendiri di rum ...."
Belum sempat Bulan menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja Langit mendaratkan b1b1rnya pada b1b1r Bulan. Hal itu membuat Bulan tersentak kaget. Bulan yang merasa tidak nyaman pun memilih untuk mendorong dada bidang milik Langit. Bukan terlepas, Langit malah memperdalam c1u*man yang tadinya hanya menempel itu.
Bulan semakin terkejut, lalu memaksa untuk melepaskan diri. Setelah terlepas, Langit hanya terkekeh melihat wajah memerah sang istri. Tanpa rasa bersalah, Langit langsung menge*cup pipi Bulan.
"Kamu lucu," ucap Langit terkekeh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Diantara Bulan dan Langit
Teen Fiction"Mungkin kamu tak akan melirikku walaupun sesaat. Tetapi setidaknya, jangan kamu tunjukkan sesuatu yang membuatku sakit" ~ Bulan Aisyah Willano
