Kabut tipis menggantung di udara ketika langkah mereka akhirnya terhenti.
Di hadapan sana, terbentang batas yang tak kasat mata—perbatasan antara dunia manusia dan hutan Immortal. Pepohonan menjulang tinggi, udara berubah dingin, lebih pekat.
Bella menarik napas pelan. Ia melangkah maju, tapi langkahnya terhenti ketika Lucius justru berbelok ke arah lain.
Bella mengernyit. "Bukannya ke arah sana?"
Lucius tetap berjalan tanpa menoleh.
"Lucius?
Lucius berhenti. Menoleh pelan. Tatapannya datar seperti biasa, tapi ada sesuatu yang disembunyikan. Bella tentu menatapnya curiga.
"You said you want to go back to your castle to deal with something ... kau tidak membohongiku kan?"
Lucius tersenyum tipis. "Tidak sepenuhnya Bella."
Bella mengernyit semakin dalam. Ia pun mengejar langkah pria itu yang semakin jauh.
"Lucius!" Bella sedikit berteriak.
"Kau pasti lelah." Tanya Lucius saat napas Bella tak beraturan. "Kemari," pria itu sedikit menunduk membelakanginya.
"Huh? T-tunggu, sebenarnya kita mau ke mana? Jawab dulu pertanyaanku!"
Lucius kembali menoleh ke arahnya, "aku harus menemui seseorang lebih dulu. Kita tak punya banyak waktu sebelum malam tiba, Bella."
Entah perasaannya saja atau bagaimana, ada sesuatu yang membuat Bella keberatan kali ini.
"Tapi–"
Lucius kembali berjongkok di depannya. Dengan terpaksa Bella mendekat lalu melingkarkan tangannya pada leher pria itu. Lucius pun berdiri dan kembali melanjutkan perjalanan dengan Bella yang kini berada di gendongannya.
_____________
Kastil pack Darker mulai tampak dari balik pepohonan. Bangunan itu terhampar luas di tengah hutan Immortal, berdiri kokoh dengan arsitektur batu hitam pekat yang tampak menyatu dengan bayangan pepohonan di sekitarnya.
"... benar saja perasaanku tidak enak sejak tadi, apa yang membuatmu melangkah ke tempat ini?!"
"Apa kau mau cari mati? Bagaimana kalau Alaric menghabisimu?" Bella mengerang frustasi. "Aku tak bisa menahan alpha itu kalau sudah mengamuk!"
"Berbalik Lucius! Kita pergi dari sini sebelum Alaric mengetahui kehadiranmu!"
Bella yang berada digendongannya tak bisa diam sejak tadi. Hingga akhirnya Lucius menurunkan gadis itu.
"Lucius!!!"
"Tenanglah Bella."
Pintu kastil terbuka dengan keras.
Sosok tinggi dengan aura dominan keluar. Raut dan tatapannya masih sama, tajam dan dingin.
Alaric.
Tatapan langsung tertuju pada Lucius … lalu bergeser ke Bella yang berdiri sangat dekat di sampingnya.
Bella langsung maju menutupi tubuh Lucius saat Alaric semakin mendekat. Tak lama setelah ketegangan itu, Lexy muncul bersama dengan Edward.
"Hai Bella, Wellcome home!!" Sapa Lexy dengan riang. "And ... your soulmate."
Senyum gembira Lexy justru membuat Bella terheran-heran. Apalagi saat perempuan itu mengatakan 'soulmate'
"Masuklah, kita bicarakan di dalam." Alaric akhirnya bersuara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Red Cold
Fantasy»Sequel of 'Switch Over' Sorot matanya yang tajam serta iris merahnya yang pekat mampu membuat siapa saja yang menatapnya akan terhipnotis olehnya. Tak hanya itu, auranya yang begitu dingin dan mencekam mampu membuat siapa pun yang berhadapan seketi...
