Happy Reading!
Vote dulu, lalu komennnya jangan lupa.♥️
___
"Anindya Githa!"
Suara khas Ezra yang sudah sangat kuhafal terdengar jelas di telinga. Begitu aku menoleh, anak itu sedang berlari menghampiriku.
"Hawa-hawanya lagi bahagia, ini." Aku berhenti dan menunggunya.
"Oh, jelas!" Senyumnya tercetak lebar, menujukkan dua gigi taringnya yang terlihat seperti gigi vampir. Vampir versi Ezra, itu membuatnya tampak lebih manis. Aku serius.
"Kenapa memangnya? Ada berita bagus apa?"
"Enggak ada, sih-"
"Lah! Atau cinlok?"
"Anjir, tebakan lo bener."
Mataku mendelik. "Serius, Zra?"
"Iya. Gue akhirnya tidak menjomblo lagi setelah tiga tahun."
"Wah, selamat-"
"Buset, Anin! Enggak! Gue bercanda aja. Percayaan banget jadi orang. Tiati!"
Aku meringis. "Ya soalnya orang pulang KKN kan rawan cinlok."
Lagi pula, Ezra ini tampan. Aku tahu dia disukai banyak teman jurusan. Bahkan, adik tingkat pun tidak mau kalah. Jadi, kalau dia sampai disukai teman KKN, aku jelas langsung percaya. Pesona seorang Ezra tidak bisa dipandang sebelah mata.
"Atau lo, kali?"
"Kalau aku mau, iya, sih. Sama temennya Satya. Anak Teknik Mesin."
"Kenapa enggak mau?"
"Ya kan kamu tahu sendiri aku enggak mau pacaran."
"Oh iya, bener." Ezra manggut-manggut sembari menggosok dagunya.
Itu adalah gaya yang sebetulnya paling tidak aku suka dari seorang Ezra Arsenio Wijaya. Raya dan Satya pun begitu, mereka juga tidak menyukai gaya Ezra yang satu ini. Namun, prinsip Ezra itu menyebalkan. Semakin kami bertiga tidak suka, semakin dia akan sering melakukannya. Sepertinya, membuat kami protes adalah sebuah keharusan.
"Dagumu itu ada kutunya atau gimana, sih? Digosok mulu!"
"Supaya makin mulus, Baby."
"Hueks!" Aku pura-pura muntah. "Jadi kenapa kamu tadi senyum-senyum kaya orang gila?" seperti biasa, membelokkan pembahasan adalah cara paling ampuh untuk menghentikan aksi Ezra yang menyebalkan itu.
"Judul gue akhirnya Acc, Nin!" berhasil, Ezra langsung menurunkan tangannya. Senyumnya juga kembali merekah.
"Itu yang kemarin kamu bilang lagi bikin ulang judul karena yang lama ditolak?"
"Yes. Yang ini langsung Acc. Masih bonus pujian dari Pak Santoso"
"Wow! Selamat, ya, Zra!"
"Makasih, Nin."
Aku dan Ezra kompak duduk di meja lebar yang ada di lobi fakultas. Hari ini Ezra mengenakan tas ransel, itu artinya dia memang niat ke kampus untuk bimbingan. Ini anak sejak dulu jarang sekali membawa tas ransel kecuali memang dibutuhkan. Biasanya dia mengenakan tas selempang warna hitam yang diisi dua buku saja langsung penuh.
"Dosen lo, tuh, Nin!" Ezra tiba-tiba menyenggol lenganku. Aku reflek menoleh, mengikuti ke arah mana matanya tertuju. Ternyata dia menatap Pak Rafiq yang sedang menuruni tangga bersama Bu Siska.
"Hari ini aku sebenarnya enggak ada kuliah, Zra. Aku ke kampus karena mau ketemu dia."
"Kapan?"
"Nanti jam setengah dua." Aku melirik arloji di tangan kiri. "Ini masih setengah satu. Jadi masih lama."
KAMU SEDANG MEMBACA
Inevitable Feelings
RomanceAnindya Githa Prameswari (Anin), mahasiswa matematika semester tujuh yang sedang bergelut dengan tugas akhir. Di masa-masa terakhir kuliahnya, dia ditunjuk menjadi ketua angkatan oleh teman-teman satu jurusan. Itu mengharuskan dia sering berurusan d...
