Sepulang dari rumah makan, aku langsung bersih-bersih dan tidur. Fluku semakin menjadi-jadi karena sempat kehujanan saat naik ojek. Kepalaku pening, badan juga menggigil kedinginan.
Serius, air mataku sudah tak bisa keluar sekalipun sangat ingin. Hatiku sakit, dadaku sesak tak keruan. Penderitaanku rasanya lengkap sudah. Sakit badan, sakit perasaan, sakit semua-muanya. Aku sampai tidak tahu harus bagaimana lagi setelah ini.
Hal yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya adalah Pak Rafiq akan menikah secepat ini. Aku benar-benar kaget sampai-sampai aku merasa separuh diriku hilang.
Di saat aku belum lama meringkuk di bawah selimut, aku mendengar ponselku berdering. Aku lekas meraihnya meski dengan gerakan yang terbata-bata. Pak Rafiq menelepon.
"Ngapain juga telepon segala! Udah punya istri, masih teleponin cewek lain!" Panggilan dari Pak Rafiq tak kuangkat. Yang ada, justru ponselku kumatikan sekalian.
Jujur, hatiku rasanya sangat sakit. Kalimat Pak Rafiq sangatlah pedas, kata demi kata berhasil menusukku. Ditambah lagi, saat melihat cincin kawin di jari manis tangan kanannya, saat itu aku merasa duniaku runtuh.
Ya, silakan anggap aku berlebihan. Memang aku berlebihan. Hanya karena laki-laki, aku seperti telah kehilangan sesuatu yang sangat besar. Padahal, laki-laki itu sudah bukan siapa-siapaku lagi.
"Bapak kok bisa cepet amat move on-nya ..." Akhirnya, air mataku keluar juga. Ternyata, istilah kering hanyalah kamuflase. Nyatanya, stok air mataku seperti tak ada habisnya jika sudah menyangkut Pak Rafiq.
Aku menangis sesenggukan, sambil sesekali bersin-bersin. Obat yang kubeli di apotek rasanya tak memberi efek sedikit pun. Entah tidak, atau belum.
"Aniiin!" tiba-tiba, aku mendengar pintu kamarku diketuk. "Anin, kamu di dalam, kan?"
Itu suara Asa. Sepertinya dia baru saja pulang kelas malam. Kelas malam memang tidak lama. Hanya satu jam lebih lima belas menitan. Sebelum jam sembilan malam, biasanya aku sudah tiba di kos. Dengan catatan, aku tidak ada janji main di luar dengan teman.
"Kenapa, Sa?" tanyaku dengan suara yang kuusahakan keras.
"Buka pintunya, Nin."
"H-hah?"
"Cepet!"
"Bentar. Aku lagi enggak enak badan. Aku lagi lambat ngapa-ngapain."
Aku turun dari ranjang, lalu berjalan pelan ke arah pintu. Begitu kubuka pintunya, tiba-tiba Asa nyelonong masuk.
"Sa-"
"Maaf kalau aku lancang. Tas ranselmu mana?"
"Hah?"
"Mana, Nin?"
"Itu." Aku menunjuk tas ransel ukuran sedang yang menggantung di dekat lemari pakaian.
Ngomong-ngomong, kosku ini fasilitasnya lengkap. Sudah ada kasur, bantal, lemari, meja dan kursi, juga wifi. Air dan listrik juga sudah termasuk. Benar-benar terima jadi dan tinggal pakai.
"Baju dan keperluan pribadimu di lemari semua?"
"Hah?" aku semakin bingung.
"Maaf, ya, Nin. Aku lancang. Aku cuma disuruh."
"Disuruh siapa?"
Asa tidak menjawab. Dia malah membuka lemariku, memasukkan beberapa baju dan celana, termasuk itu baju tidur. Aku masih bingung dengan tingkah Asa sampai ketika dia membuka laci dalamanku.
"Asa! Kamu lancang banget. Udah ketelaluan, ini!"
"Aku tahu, aku lancang dan keterlaluan. Aku juga minta maaf karena udah nyembunyiin sesuatu dari kamu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Inevitable Feelings
RomanceAnindya Githa Prameswari (Anin), mahasiswa matematika semester tujuh yang sedang bergelut dengan tugas akhir. Di masa-masa terakhir kuliahnya, dia ditunjuk menjadi ketua angkatan oleh teman-teman satu jurusan. Itu mengharuskan dia sering berurusan d...
