"Mama enggak mungkin bohong, kan, Tante? Bener, kan?"
Aku melirik Pak Rafiq. Tentu, dia yang harus bertanggung jawab atas pertanyaan ini. Dia yang merangkai ide ini dari awal.
"Kok Tante Anin diam aja?" tanya Dana lagi. Dia terlihat sangat menungguku menjawab pertanyaannya.
Pak Rafiq kini meraih Dana ke pangkuannya. Dia tersenyum lebar. "Doain Om, ya, Dan. Biar Om bisa segera ajak Tante nikah. Kalau udah, baru nanti Dana boleh tanya lagi tentang adik."
Desir itu datang dengan begitu kuat. Aku menoleh, dan Pak Rafiq juga menoleh.
Aku harus ingat, dia cuma akting. Iya, cuma akting.
"Kalau udah mau ngajak Anin nikah, jangan persulit skripsinya, Fiq."
"Urusan pribadi dan kampus itu dua hal yang berbeda, Mbak. Hanya karena Anin calonku, bukan berarti aku bisa meluluskannya sembarangan. Nanti kredibilitasku sebagai dosen bisa dipertanyakan."
Darahku semakin berdesir saja. Ini salah. Harusnya aku tidak boleh begini. Aku tidak boleh terbawa perasaan.
Sama sekali tidak boleh!
"Iya juga, sih." Mbak Iva kini menatapku. "Gimana, Nin, kalau Pak Rafiq lagi bimbing?"
Mbak Iva tersenyum. Senyumnya itu terasa hangat. Dia pasti serius bertanya karena sengaja memanggil adiknya dengan sebutan 'pak'.
"Sejauh ini aman, Mbak."
"Afiq enggak jahat, kan?"
Aku meringis. "Kalau itu, kadang-kadang."
"Apa? Saya jahat kadang-kadang?"
"Lah, emang enggak nyadar?"
Pak Rafiq menghela napas pelan, lalu mengangguk. "Terserah kamu sajalah."
"Tapi, Nin, kamu harus percaya sama Mbak. Afiq itu baik. Emang casing-nya aja kadang bikin salah paham."
"Iya, Mbak. Saya tahu, kok."
Senyum Mbak Iva semakin lebar saja. "Kalau gini kan Mbak yakin kamu beneran normal, Fiq. Enggak gay."
"Gay, lagi! Aku sekarang yakin yang nyebarin rumor gajelas itu pasti Mbak Iva."
Mbak Iva tertawa. "Sejahat-jahatnya Mbak sama kamu, Mbak enggak mungkin nyebarin rumor itu, Fiq. Mbak justru ikut kemakan rumor, makanya Mbak minta kamu lekas kenalin calon."
Pak Rafiq tidak membalas lagi. Dia memilih untuk sibuk dengan Dana yang kini sedang tertawa-tawa karena digelitiki. Dia sempat melirikku, tetapi hanya sekilas.
Pagi sampai siang kami gunakan untuk ngobrol panjang lebar. Bahasan masih santai—kecuali di awal. Obrolan jadi lebih hidup justru karena Mas Hakim. Dia bertanya tentang penelitianku karena ternyata dia juga alumni matematika. Bedanya, dia S2 banting stir ambil bisnis.
"Makan yang banyak, Anin," ucap Mbak Iva ketika akhirnya aku dijamu makan siang. Saat ini, jam sudah menunjukkan pukul satu.
"Iya, Mbak."
Makan siangnya masak dadakan. Aku ingin membantu, tetapi tidak diperbolehkan. Justru Mbak Iva berkolaborasi dengan Pak Rafiq sementara aku menjaga Dana. Mas Hakim sempat keluar sebentar entah untuk apa.
"Pernah dimasakin Afiq, Nin?" tanya Mas Hakim di sela-sela acara makan siang.
"Pernah, Mas."
"Keenakan atau enggak?" Sahut Mbak Iva. "Satu-satunya masakan yang boleh dipuji Mas Hakim lebih enak dari masakanku ya cuma masakannya Afiq. Titik." Mbak Iva terkekeh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Inevitable Feelings
RomansaAnindya Githa Prameswari (Anin), mahasiswa matematika semester tujuh yang sedang bergelut dengan tugas akhir. Di masa-masa terakhir kuliahnya, dia ditunjuk menjadi ketua angkatan oleh teman-teman satu jurusan. Itu mengharuskan dia sering berurusan d...
