"Demi, aku kangen banget sama kalian!" datang-datang, Raya langsung memelukku. Dia meletakkan bawaannya sembarangan, yang kemudian langsung diambil Satya.
"Cah edan! Martabak ditaruh tanah, Ray!" Ezra mengumpat pelan.
"Udah, udah. Udah aku amankan. Ayo cari tempat duduk." Satya menengahi.
Kangen.
Itulah kata yang paling cocok untuk kami berempat. Baru kali ini, lebih dari tiga bulan kami tidak kumpul-kumpul. Kami sama-sama sibuk dengan kuliah dan penelitian skripsi masing-masing. Aku dengar, Satya sampai harus bolak-balik Semarang karena bahan utama penelitiannya ada di sana. Kalau aku, Ezra, dan Raya, penlitian kami cukup di Jogja saja.
"Btw, bawa apa kamu, Nin?" tanya Satya ketika kami sudah menemukan spot yang tepat untuk duduk. "Jujur, aku mengharapkan donat kentang."
"Oh, iya, bener! Kangen banget aku makan donat kentangmu, Nin!" Raya memelukku lagi. Ini anak memang love language-nya physical touch.
"Lepasin dulu pelukanmu."
Raya patuh. Aku mengambil tas jinjing yang kubawa, lalu mengeluarkan kotak mika berukuran besar. Tentu, isinya donat kentang. Aku yakin mereka bertiga akan menanyakan ini. Aku membawa dua puluh lima biji.
"Taraaa! Aku bawa dua puluh lima. Harusnya cukup."
"Mantap!" Ezra tanpa basa-basi langsung membuka kotak mika dan mencomot donat yang terletak di paling ujung.
"Itu yang mulutnya langsung penuh, bawa apa?" Raya ikut mengambil donat yang kubawa.
"Katanya minta salad buah sama minuman segar? Satya yang beli, gue yang bayar."
"Enak bener, kamu, Sat!"
"Enak-enak. Ini antri belinya!" Satya mengeluarkan empat kotak salad buah dan empat minuman warna kuning yang aku tebak kalau tidak rasa jeruk ya mangga. "Nih, buat dua tuan putri yang kebanyakan mau. Terutama Kanjeng Naraya yang berisik banget di grup."
Raya terkekeh pelan. "Berisik-berisik gini ngangenin, kan?"
"Cuihhh!" Ezra mencibir. "Gue sih lebih kangen Anin."
"Kalau mau jahat-jahat, sono ngomong sama tembok."
"Sssst! Mending makan daripada ribut." Aku menempelkan jari telunjuk di bibir. "Aku mau saladnya, ya. Thank you!"
Kami berempat janjian di Alun-alun Kidul. Kami sengaja memilih tempat ini karena cocok dengan tema pertemuan, yakni temu kangen ala-ala sembari membawa makanan dan minuman.
Setelah dari sini, kami akan menikmati becak hias dan nanti makan malam bersama. Meski aku membawa dua puluh lima donat, yang mana itu sangat banyak untuk berempat, aku tidak perlu khawatir. Mereka pasti akan membawa pulang. Aku sudah menyediakan plastik bening di samping mika.
"Ngomong-ngomong, kalian sehat, kan?" tanyaku ketika suasana di antara kami hening, sangat berbanding terbalik dengan suasana sekitar yang cukup ramai.
"Aku agak stress." Satya menyahut pelan.
"Why?"
"Aku terlalu nekat ambil tema skripsi yang sulit. Ya emang udah dapat pujian dari dosen pembimbingku, tapi nyelesaiinnya setengah mampus."
"Kalau Raya sama Ezra gimana?"
"Aku sama Ezra baik, Nin. Kami sehat wal afiat dan enggak kurang suatu apa pun."
Aku menatap Raya setengah kesal. Anak ini memang otaknya rada-rada.
"Serius, ini."
"Kalau gue lancar-lancar aja, tapi kalau lancar banget juga enggak."
KAMU SEDANG MEMBACA
Inevitable Feelings
Roman d'amourAnindya Githa Prameswari (Anin), mahasiswa matematika semester tujuh yang sedang bergelut dengan tugas akhir. Di masa-masa terakhir kuliahnya, dia ditunjuk menjadi ketua angkatan oleh teman-teman satu jurusan. Itu mengharuskan dia sering berurusan d...
