Bab 3. Senyum Yang Mencurigakan

3.9K 339 64
                                        

Aku pasti sudah gila. Aku rela berbohong pada Bunda demi Pak Rafiq.

Pukul setengah sembilan, aku sudah tiba di depan hotel yang Pak Rafiq maksud. Dia mengatakan aku harus dandan cantik, tetapi tak berlebihan. Oke, aku turuti. Saat ini aku mengenakan floral dress dan sedikit menata rambutku. Aku juga mengenakan make up tipis agar tidak pucat.

Aku berdiri di depan hotel, menunggu balasan dari Pak Rafiq. Sejak aku naik gocar, komunikasi kami via chat sangat lancar. Sepertinya Pak Rafiq betul-betul membutuhkan bantuanku. "Eh, Pak Rafiq bales!"

DPA Pak Rafiq

Kamu masuk saja, Nin.

Belok kanan ada ruangan besar untuk pernikahan.

Kamu ke sana. Tunggu saya di sana.

Aku mendelik. Jangan bilang aku disuruh menemaninya kondangan?

Aku tidak memiliki waktu untuk terus berpikir. Sudah kepalang tanggung aku datang, tidak mungkin aku mendadak membatalkan. Aku harus menyelesaikannya sampai akhir dan Pak Rafiq juga harus serius dengan janjinya.

Suasana lobi hotel sangatlah ramai. Aku belok kanan sesuai apa yang diinteruksikan oleh Pak Rafiq. Memang benar, ada janur kuning melengkung di depan sebuah pintu yang menjulang tinggi. Aku celingukan, tak kudapai Pak Rafiq ada di sana.

Serentetan pesan kembali masuk.

DPA Pak Rafiq

Kamu tunggu saja di dekat pintu masuk, tapi jangan terlalu dekat.

Sebentar lagi saya ke sana. Tolong cepat.

Satu lagi, jangan panggil saya 'pak' untuk sementara. Kalau tidak, misimu tak lengkap, janji saya pun tak akan maksimal.

Hah? Yang terakhir ini apa-apaan? Lalu harus kupanggil apa dia?

Kalau tahu akan terlalu repot begini, harusnya aku tidak pernah datang. Sudah terlanjur basah, apa aku harus nyebur sekalian?

"Anin!" seseorang memanggil namaku. Begitu aku menoleh, Pak Rafiq datang bersama seorang pria paruh baya yang sebagian rambutnya sudah beruban. Dia tersenyum.

Tumben?

"Eh, Pa—Mas Rafiq?" lidahku cukup lincah untuk segera meralat panggilan begitu melihat mata Pak Rafiq setengah melotot padaku.

"Sudah selesai kondangannya?"

Apa lagi, ini? Benar-benar kurang briefing, aku jadi bingung.

"U-udah. Baru, aja." Aku menjawab sambil tersenyum lebar. Setelah itu, aku mengangguk sopan pada pria paruh baya yang berdiri di sebelah Pak Rafiq.

"Apa dia, Fiq?" tanya pria paruh baya itu sembari menatapku dan Pak Rafiq bergantian.

"Iya, Pak."

"Ya ... pantesan. Dari dulu seleramu memang selalu bagus."

"Terimakasih, Pak."

Wow! Apa pula, ini?

Aku melirik Pak Rafiq, dan dia memejamkan mata sejenak seolah menyuruhku untuk mengikuti alur yang ada. Aku sudah paham sekarang. Dia sedang meperalatku di depan pria paruh baya ini.

Sekarang pertanyaanku, siapa beliau?

"Ya sudah, Fiq. Bapak pulang dulu. Kamu antar pacarmu pulang. Ini sudah agak malam."

"Iya, Pak Zaki. Terimakasih sekali untuk wejangan malam ini."

"Bukan apa-apa. Terimakasih juga karena sudah menemani Bapak bertemu Prof. Afif. Tapi jujur, kamu agak bikin Bapak kecewa malam ini." Pria paruh baya yang disebut Pak Zaki ini melirikku. Beliau bilang kecewa, tetapi senyumnya tetap tercetak jelas di wajah.

Inevitable Feelings Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang