Bab 53. Tak Lagi Sendiri

1.3K 89 5
                                        

Akhirnya, Mas Afiq memboyongku ke rumahnya. Kali ini betul-betul boyongan. Aku tidak lagi akan pulang-pulang dan datang kalau ada perlu saja. Kali ini aku benar-benar akan menetap bersama Mas Afiq dan menemaninya hidup sampai tua.

Meski sejak menikah siri aku beberapa kali datang, pada dasarnya aku tidak benar-benar pernah tidur di kamar utama— alias kamar Mas Afiq. Waktu itu aku tidur di kamar tamu. Saat sudah menikah siri pun kalau kami bermesraan paling hanya di sofa saja.

Jadi, bisa dibilang, malam ini adalah malam pertama aku akan tidur di kamar Mas Afiq yang ada di rumahnya. Beda dengan dia yang sudah tidur berkali-kali di kamarku.

"Mas udah siapin tempat buat barang-barangmu, Nin," ujar Mas Afiq begitu aku masuk kamar utama. "Di walk in closet, semuanya udah Mas sisihin. Di meja rias, udah Mas sisihin juga buat make up kamu. Ya, sekalipun misal enggak disisihin pun, tempat buat kamu masih banyak. Mas enggak punya make up. Adanya basic skincare karena kulit Mas itu kering."

"Mas ngerti skincare?"

"Mbak Iva yang beliin." Mas Afiq tersenyum lucu. "Jujur, Mas mana ngerti. Mas cuma ngomong kulit Mas itu kering, kadang sampai sakit karena ngelupas. Perih banget. Ya udah, akhirnya Mbak Iva ngajak Mas belanja."

"Termasuk bodycare?"

"Iya. Kalau bodycare, Mas lihat rekomendasi di youtube. Badan tetap harus dirawat."

"Sangat betul!" aku mangcungkan jempot. "Itu kalau habis, Mbak Iva juga yang beliin, Mas?"

"Kalau awal-awal, iya. Sekarang udah enggak lagi. Mas udah hafal."

"Kadang tuh enggak adil. Cowok skincare-nya sedikit banget, wajah aman-aman aja. Giliran cewek, udah segambreng, ada aja masalah wajah."

Mas Afiq tertawa. "Enggak gitu juga konsepnya. Tipe kulit kan macam-macam. Cowok yang kulitnya sensitif juga banyak. Cuma rata-rata memang lebih tahan banting aja. Kulit badak."

"Iya, sih."

Mas Afiq menarik koperku ke sudut, lalu menarik tanganku agar aku ikut merebah di ranjangngnya. Aku langsung menatapnya bingung.

"Aku perlu nata baju, Mas—"

"Nanti aja. Kita rebahan dulu. Emang enggak capek?"

"Capek, sih. Tapi, ya, masih tahan kalau sekadar nata seperlunya."

"Kita, kan, segera berangkat ke Swiss. Daripada kerja dua kali, sekalian aja packing buat ke sana. Nanti sehabis pulang, baru nata semuanya. Mas pasti bantuin."

"Baiklah kalau begitu. Aku ngikut."

Kini tangan Mas Afiq terulur meraih pipiku. Dia diam dan jemarinya mengusa-usap wajahku.

Sampai beberapa saat lamanya, dia masih diam. Dia benar-benar tak mengatakan apa pun. Pokoknya terus seperti itu.

"Kenapa, Mas?"

"Padahal udah senyata ini. Kita menikah juga udah lama sekalipun cuma siri. Tapi sekarang, rasanya masih enggak nyangka lihat kamu udah bisa Mas bawa pulang."

Mataku langsung menyipit. Aku merasa ada makna terselubung di sini.

"Ah! Mas ada janji buat jujur soal kapan kita pertama kali ketemu."

"Ya, besok Mas kasih tahu."

"Kenapa harus nunggu besok?"

"Karena kalau sekarang, nanggung."

"Minimal kasih clue, kek, Mas. Mas ini hobi banget bikin aku bingung."

"Alasan kenapa Mas nunda-nunda buat jujur, Mas itu agak malu ngakunya."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 31 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Inevitable Feelings Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang