Happy Reading!
Vote dulu, lalu komennnya jangan lupa.♥️
___
Aku terbangun ketika kurasakan punggungku sangat pegal. Begitu menoleh, kursi kemudi ternyata kosong. Pak Rafiq tidak ada di sana.
Kemana dia?
Tiba-tiba terdengar bunyi adzan, membuatku seketika celingukan. Ternyata saat ini aku berada di parkiran sebuah rumah makan. Ada mushola yang cukup besar di sudut halaman. Apakah mungkin Pak Rafiq di sana?
Aku melirik arlojiku, sudah pukul tujuh kurang lima menit. Sampai di mana ini?
Aku memijit pangkal hidungku ketika kepala terasa agak pening. Sepertinya aku tidur sangat pulas karena terakhir aku sadar itu saat pertama kali mulai macet. Dan itu jelas masih di Purwokerto.
"Duh, kok kebas?" kugerakkan telapak tangan kanan yang terasa kaku. Mendadak, aku ingat bayangan Pak Rafiq yang menggenggam tanganku erat.
Itu nyata, atau hanya mimpi?
Ah, entahlah!
Sebelum turun, aku mengecek kursi yang kududuki. Aman, tidak tembus.
Hal pertama yang kulakukan setelah keluar dari mobil adalah mencari kamar mandi. Aku butuh ganti pembalut dan buang air kecil.
Dua puluh menit berlalu, aku baru selesai dari kamar mandi. Ini sudah termasuk antri dengan pengunjung lain. Ternyata Pak Rafiq sudah kembali. Dia kini sedang bersandar di sisi kiri mobil.
"Pak, ini sudah sampai mana, ya?" tanyaku begitu jarak kami cukup dekat.
"Purworejo."
"Berarti sampai Jogja kira-kira jam berapa?"
"Saya tidak tahu, yang jelas masih lama karena ini baru masuk Purworejo-nya. Tadi macet cukup lama."
"Wah, kalau kemalaman gimana, ini?" aku berbicara lebih kepada diri sendiri.
"Sudah mengabari orang tua?"
Aku menggeleng. "Saya kan baru bangun."
"Sekarang langsung kabari orang tuamu. Kasih tahu mereka kalau kemungkinan kamu akan pulang telat karena sempat terjebak macet."
"Baik, Pak."
Aku bergegas mengirim pesan ke Ayah, dan ternyata beliau sudah lebih dulu mengirimi pesan menanyakan keberadaanku. Sebenarnya sudah kutebak. Beliau memang begini. Beliau selalu rutin mengirimi pesan tiap kali aku bepergian jauh atau menginap.
"Sebelum lanjut perjalanan, makan dulu, ya. Saya lapar."
Aku langsung mengangguk. "Iya, Pak."
Sesampainya di dalam, Pak Rafiq menyuruhku memilih meja. Dia juga bertanya aku ingin makan apa, tetapi aku ikut saja karena sebenarnya aku masih kenyang. Atau lebih tepatnya, kalau sedang datang bulan hari pertama selera makanku turun drastis.
Rasa nyeri di perut sudah mendingan meski belum sepenuhnya hilang. Dan aku berani jamin, nanti pasti akan kembali lagi. Kebiasaanku begitu. Nyeri datang bulan seringnya berlangsung dua harian.
"Wah ... Pak Rafiq pesan satu ayam utuh?" aku melongo tak percaya ketika melihat pesanan datang.
Pelayan baru saja mengantarkan satu cething kecil nasi hangat, satu piring besar berisi satu ayam utuh, satu piring kecil cah kangkung dan cah jamur, dua mangkuk sambal dengan jenis yang berbeda, serta tak lupa lalapannya. Selain itu, ada pula sarung tangan plastik untuk makan. Kalau tidak suka, ada wastafel cuci tangan di keempat sudut ruangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Inevitable Feelings
Roman d'amourAnindya Githa Prameswari (Anin), mahasiswa matematika semester tujuh yang sedang bergelut dengan tugas akhir. Di masa-masa terakhir kuliahnya, dia ditunjuk menjadi ketua angkatan oleh teman-teman satu jurusan. Itu mengharuskan dia sering berurusan d...
