Setelah kepikiran tentang kalimat Bunda malam itu, bertemu Pak Rafiq rasanya jadi berbeda. Padahal belum dikonfimasi, tetapi aku sungguh takut jika apa yang kukhawatirkan adalah benar adanya.
Jika memang korban tabrak maut adalah Ayah Pak Rafiq, aku mungkin tidak bisa lagi terus bersamanya. Aku pasti akan merasa sangat bersalah dan tak sanggup melihatnya lagi. Memikirkannya saja sudah membuatku ingin menangis.
"Kamu kenapa sejak tadi diem terus, Nin?" tanya Pak Rafiq yang mulai menyadari perubahanku. Saat ini kami sedang keluar bersama, dia yang mengajakku.
"Masa, sih, Pak?"
"Kok Pak lagi?" Pak Rafiq menatapku tak suka. Itu wajar, karena terakhir ketemu, aku sudah mengubah panggilan menjadi Mas. Namun, kali ini aku mendadak canggung lagi memanggil dia dengan sebutan itu.
"Ternyata enggak semudah itu mengubah panggilan yang udah terlanjur akrab. Pelan-pelan, ya, Pak?"
"Ya udah, iya." Pak Rafiq kini menyerongkan duduknya dan menatapku lurus. "Kamu kenapa, Nin? Apa ada masalah? Kayaknya sejak tadi ekspresimu janggal. Kamu seperti sedang banyak pikiran."
Aku menggeleng, lalu tersenyum. "Enggak, kok, Pak."
"Gimana? Ayah dan Bundamu jadi menginterogasi?"
"Pastilah!" aku tersenyum, meski hatiku kembali teriris ketika ingat apa yang kukhawatirkan beberapa hari terakhir.
"Kamu jujur, kan, tentang saya?"
"Pasti, Pak. Enggak ada yang saya tutupi sedikit pun. Kecuali beberapa yang memang harus. Takut kena marah soalnya."
"Ah, saya paham konteksnya. Terus? Apa mereka setuju? Maksud saya, apa mereka memberikan penilaian positif?"
Aku terdiam sejenak. "Mungkin? Masih terlalu samar, Pak. Tapi yang jelas enggak langsung kasih penolakan."
Pak Rafiq tersenyum.
"Terus apa yang kamu pikirkan sampai ekspresimu begitu?"
"Enggak papa, kok, Pak. Mungkin mau datang bulan aja. Jadi agak sensitif." Ini jelas jawaban ngaco. Kalau tidak untuk menutupi perasaanku sesungguhnya, membahas datang bulan di depan Pak Rafiq jelas tidak akan pernah kulakukan kecuali ditanya lebih dulu atau posisinya kepepet.
"Ah ... jadi mood-mu sedang kurang stabil?"
"Iya, Pak."
"Baiklah. Saya mencoba paham."
Pak Rafiq menapuk pelan kepalaku dan meminum kembali jus alpukatnya.
"Pak Rafiq ..." panggilku pelan. Sejujurnya, sejak tadi aku sedang mengumpulkan niat untuk bertanya hal penting padanya.
"Iya? Ada apa?"
"Eee ... itu ...."
"Itu apa?"
"Kalau saya pengen ziarah ke makam Ayah sama Ibunya Pak Rafiq apa boleh?"
Pak Rafiq tampak kaget. Dia tertegun untuk beberapa saat lamanya.
Mungkin pertanyaanku terdengar aneh di telinganya. Hubungan kami bahkan belum sejelas itu, tetapi aku malah sudah minta ziarah. Seolah-olah, aku minta dikenalkan pada orang tuanya. Padahal, Pak Rafiq datang ke rumahku saja belum.
"Enggak boleh, ya, Pak?" tanyaku setelah Pak Rafiq hanya diam dan tak kunjung menjawab.
"Bukan enggak boleh, Nin. Saya justru kaget kamu mau ketemu Ayah dan Ibu."
"Terlalu buru-buru, ya, Pak? Padahal, Bapak datang ke rumah saya secara resmi aja belum."
Pak Rafiq tersenyum. "Enggak buru-buru. Saya murni kaget aja. Tapi saya senang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Inevitable Feelings
RomansaAnindya Githa Prameswari (Anin), mahasiswa matematika semester tujuh yang sedang bergelut dengan tugas akhir. Di masa-masa terakhir kuliahnya, dia ditunjuk menjadi ketua angkatan oleh teman-teman satu jurusan. Itu mengharuskan dia sering berurusan d...
