"Asal kamu tahu, Nin. Saat ini, istri saya ada di depan saya. Dia sedang berdiri kebingungan dengan mata berair karena menahan rindu dan cemburu."
Mataku mengerjap, lalu refleks mundur. Aku mendorong Pak Rafiq kuat, kemudian membuka pintu dan berlari keluar.
"Anin! Kenapa malah pergi?"
"Bapak bercandanya enggak lucu sama sekali! Saya mau pulang aja!"
Dengan badan yang masih lemas, aku terus berlari kecil menuju lift. Pak Rafiq menyusul, dan dia menangkapku dengan mudah. Dia meraih tanganku dan aku menepisnya. Sayangnya gagal. Genggaman tangannya terlalu kuat untuk aku yang sedang tak bertenaga. Dia kembali menarikku menuju kamar dan menutup pintu dalam sekali dorongan kuat.
Saat ini air mataku sudah menetes deras. Aku ingin menahannya agar tak keluar, tetapi tidak bisa. Aku merasa sangat dipermainkan. Entah bagian mana yang sebenarnya lebih main-main.
Setelah semua kalimat pedas yang Pak Rafiq lontarkan tadi, juga perlakuannya yang sangat acuh tak acuh sekalipun tahu aku sedang sakit, dia kini bilang kalau aku adalah istirnya? Benar-benar tidak masuk akal! Aku tidak percaya sedikit pun!
"Kenapa malah nangis?"
"Terus saya harus apa? Lepasin tangan saya— Pak! Jaga perasaan istri Bapak, jangan sembarangan seperti ini!"
"Kamu istri saya, Anin!"
"Sumpah, enggak lucu banget candaan Bapak! Saya mau pulang! Lepas—" Kalimatku terhenti karena Pak Rafiq malah memelukku. Namun, aku segera sadar dan berusaha melepaskan diri. Sayangnya, kembali gagal. Aku yang sedang tak sehat ini sangat tidak mampu melawan tenaga Pak Rafiq. "Lepasin—"
"Diam dulu. Tenang dulu!"
Akhirnya, aku diam. Untuk sesaat, napasku hanya naik turun tak keruan. Pak Rafiq terus memelukku dan dia ikut diam. Dia menunggu sampai emosiku mereda.
"Sudah lebih tenang?
Aku tak menjawab. Meski begitu, Pak Rafiq melepas dekapannya.
"Saya enggak bercanda, Nin. Lihat ini." Pak Rafiq tiba-tiba melepas cincin yang dia kenakan. Dia menarik tanganku untuk menengadah, lalu meletakkan cincin itu di atasnya. "Baca tulisan di bagian dalam. Itu ada inisial nama yang tertera di sana."
Aku meraih cincin itu dan menuruti instruksi Pak Rafiq.
Rafiq & Anin.
"P-pak ... ini maksudnya a-apa? Bapak jangan main-main, ya!"
Bukan jawaban yang kudapat, Pak Rafiq malah kembali memelukku. Kali ini lebih erat. Dia bahkan dengan santainya menciumi kepalaku sampai aku merasa blank. Kini aku tidak lagi kuat untuk berontak.
"P-pak—"
"Sudah saya bilang, Nin, saya akan mengejarmu sampai kamu merasa enggak ada tempat aman lagi di dunia ini." Satu kecupan kembali mendarat di kepalaku. Pak Rafiq tidak mungkin seberani ini kalau tidak ada alasan kuat yang mendasari. "Istri saya beneran kamu. Cincin itu salah satu buktinya. Masih banyak bukti lain kalau kamu memang mau."
"T-tapi s-saya ..." aku tak kuasa melanjutkan kalimatku karena kini badanku teramat lemas. Kakiku seperti meleleh, jadi aku limbung.
"Anin!" Pak Rafiq segera menangkapku, lalu mengangkatku dan membaringkanku di ranjang.
Jujur, aku merasa apa yang terjadi saat ini seperti mimpi. Alurnya tumpang tindih. Baru beberapa jam yang lalu Pak Rafiq bilang kalau dia sudah menikah dengan seorang perempuan, tapi kini dia mendadak bilang kalau aku adalah istrinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Inevitable Feelings
RomanceAnindya Githa Prameswari (Anin), mahasiswa matematika semester tujuh yang sedang bergelut dengan tugas akhir. Di masa-masa terakhir kuliahnya, dia ditunjuk menjadi ketua angkatan oleh teman-teman satu jurusan. Itu mengharuskan dia sering berurusan d...
