"P-pak Rafiq?"
Napasku rasanya tercekat di tenggorokan. Aku mundur lagi, lalu diam-diam mencubit tangan sendiri. Sakit. Itu artinya, aku tidak sedang mimpi.
"Hanya sejauh ini tempat kaburmu, Nin?"
Aku menunduk. Mataku mulai panas.
"Setidaknya kamu harus ke luar negeri untuk menghindari saya."
"S-saya minta maaf ..." aku semakin menunduk.
Hujan kembali turun dengan lebat. Aku langsung bersin-bersin, dan saat itu pula air mataku keluar.
"Kamu mau terus berdiri di situ?"
Aku diam, tetap menunduk. Kini, air mataku mulai deras. Aku tidak tahu harus bagaimana, makanya aku menangis. Rasa rindu, sedih, sedikit lega, dan lain sebagainya, bercampur jadi satu.
"Anin!"
Aku berlari ke teras apotek, lalu mencari kunci sepedaku. Aku harus segera pulang ke kos, atau flu-ku akan semakin parah.
"Anin!"
"A-apa? Saya salah, saya minta maaf. Tapi kalau Bapak mau marah-marah, besok saja."
"Saya datang jauh-jauh ke sini hanya untuk kamu usir?"
"Lalu saya harus gimana?"
"Kita harus bicara, tentu saja."
"Bapak enggak marah sama saya?"
"Apa kelihatannya begitu?"
Kuberanikan diri mendongak dan menatap Pak Rafiq. Aku hanya kuat dua detik, langsung menunduk. Tatapannya sangat tajam.
"Ikut mobil saya-"
"Sepedanya?" aku menunjuk sepedaku yang masih teronggok mengenaskan di bawah pohon.
"Taruh mobil."
"Mana muat?"
Pak Rafiq tiba-tiba pergi ke sebuah warung kelontong. Dia bicara dengan penjual, lalu kembali lagi. Aku mendelik ketika dia mengangkat sepedaku dengan mudahnya dan membawanya ke toko kelontong itu. Begitu selesai, dia menghampiriku.
"Sudah. Sekarang ikut saya."
"Tapi, Pak-"
"Jangan terlalu percaya diri dulu. Saya ke sini belum tentu karena ingin menjemputmu. Sekalipun putus, kita tetap harus membicarakan semuanya baik-baik. Saya paling tidak suka dengan sesuatu yang abu-abu. Saya ingin yang jelas. Hitam, atau putih."
Bagai disambar petir di siang hari, ucapan Pak Rafiq menghantam keras hatiku. Dia benar. Aku jangan terlalu percaya diri dulu. Bisa jadi dia datang hanya untuk menyelesaikan semuanya.
"Anin, cepat!"
"I-iya."
Aku berjalan di belakangnya. Hujan masih lebat, dan aku masih mengenakan jas hujan. Sesampainya di dekat mobil, aku bimbang. Harus di mana aku duduk?
"Saya bukan supirmu. Duduk depan. Lepas dulu jasmu."
"Iya." Aku mengangguk patuh.
Kulepas jas hujanku dan kulipat dengan rapi. Pak Rafiq mengambilnya dan memasukkannya ke jok belakang. Setelah itu, dia membukakan pintu bagian depan.
"Cepat masuk."
Dibukakan pintu tentu tindakan yang perhatian, tetapi percayalah, ekspresi Pak Rafiq saat ini sangat tidak enak dipandang. Terlihat dingin, tajam, dan menakutkan. Aku yang sejak awal merasa bersalah, kini semakin merasa bersalah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Inevitable Feelings
Roman d'amourAnindya Githa Prameswari (Anin), mahasiswa matematika semester tujuh yang sedang bergelut dengan tugas akhir. Di masa-masa terakhir kuliahnya, dia ditunjuk menjadi ketua angkatan oleh teman-teman satu jurusan. Itu mengharuskan dia sering berurusan d...
