Bab 42. Pelukan Suami

4.2K 251 88
                                        

Rasanya seperti mimpi melihat Pak Rafiq yang sedang sarapan dengan lahap di sebelahku. Tampaknya dia betul-betul lapar, terlihat dari betapa semangatnya dia mengunyah. Aku sendiri juga lapar, tetapi makanku belum terlalu enak. Karena masih setengah pilek, indra perasaku masih bermasalah. Makanan jadi terasa hambar. Pening di kepala juga sesekali masih terasa, hanya sudah tidak separah semalam. 

Aku sadar kalau beberapa kali Pak Rafiq melirikku. Hanya saja, aku pura-pura tidak menyadari itu. Aku terus makan porsiku, yakni hanya setengah karena yang setengahnya lagi sudah dimakan Pak Rafiq. Daripada jadi sisa, sejak awal aku bilang kalau makanku sedikit karena sedang tidak enak makan. Jadi, Pak Rafiq langsung memisah bagianku.

"Setengah porsi pun kamu enggak habis-habis," ucap Pak Rafiq setelah dia menghabiskan sarapannya, sementara sarapanku baru kumakan separuhnya.

"E-enggak enak."

"Masih pusing?"

Aku buru-buru menggeleng. "E-enggak juga. Palingan dikit aja. Cuma b-belum enak m-makan."

"Mau yang berkuah?"

Aku kembali menggeleng. "Enggak perlu. I-ini aja."

"Cepat habisin, lalu minum obat."

"I-iya."

Aku berusaha untuk lekas menghabiskan makananku. Karena terlalu buru-buru, aku sampai tersedak.

"Anin! Ya enggak ngebut juga makannya." Pak Rafiq menyerahkan satu botol minuman dan aku meneguknya.

"Nanti kena protes lagi," ujarku lirih.

"Aku tunggu."

"A-aku?" tanyaku agak kaget. Atau lebih tepatnya, terdengar aneh.

"Kalau bukan? Dengan istri sendiri pun harus formal?"

Duh! Kata istri membuatku berdebar-debar. Apakah ini benar-benar nyata? Tidak cukup hanya balikan, tetapi aku bahkan sudah dinikahi? Rasanya sungguh tak masuk akal.

"Tapi j-jangan paksa saya b-buat l-langsung ngikutin."

"Ya."

Akhirnya, sarapanku selesai. Setelah minum obat, aku memakan apel yang sebelumnya sudah dicuci lebih dulu oleh Pak Rafiq.

"Apelnya manis," ucapku setelah menelan gigitan pertama. "Padahal makanan lain rasanya hambar."

"Kalau sakit memang harus banyak makan buah. Lidahnya masih pilih-pilih."

Aku mengangguk. "K-kayaknya iya."

Suasana mendadak hening. Aku masih makan apel, begitu pun Pak Rafiq. Kakiku menekuk di atas sofa, sementara dia duduk biasa dengan punggung menyandar pada sandaran.

Ketika Pak Rafiq menoleh, di saat yang sama aku juga menoleh. Namun, aku langsung melengos karena bingung. Selain bingung, aku juga canggung. Inilah kenapa sejak tadi bicaraku agak terbata-bata.

"Kamu mau dengar cerita kapan?"

"T-terserah Bapak. S-saya ikut."

"Jangan panggil aku Bapak lagi."

"Nanti. Nunggu diceritain, sama nunggu ada buktinya."

Pak Rafiq menghela napas panjang. "Kita habisin apelnya dulu."

"Iya. Oh, m-minta tolong coklat hangatnya, Pak. Mau saya habisin juga."

"Ya."

Pak Rafiq mengambilkan gelas berisi coklat hangat, dan aku langsung menerimanya. Ketika dia tiba-tiba ikut menaikkan kaki dan bergeser mendekat, entah kenapa aku refleks beringsut menjauh. Pak Rafiq langsung menatapku dengan alis menekuk, sementara aku hanya bisa meringis.

Inevitable Feelings Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang