Bab 26. Peluru Hati

3.2K 284 74
                                        

"Iya, Nin, cantik. Sangat cantik."

Darahku berdesir hebat mendengar itu. Harusnya jika ikut konteks, kalimat Pak Rafiq biasa-biasa saja karena merujuk ke pemandangan sunset. Masalahnya, dia mengatakan itu sembari menatapku lekat.

Andai dia tahu. Dia yang menatapku begitu selalu sukses membuatku berdebar-debar.

"P-pak Rafiq sudah berapa kali ke sini?" tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan. Aku juga mendadak sibuk mengambil foto untuk menghilangkan grogi. Atau minimal, Pak Rafiq tidak sampai menyadari kegugupanku.

"Tiga ini, mungkin."

"Yang pertama dan kedua sama siapa?"

"Sama Mbak Iva pernah, sama teman kuliah juga pernah."

Aku mengangguk. "Ah, gitu. Emang bagus, Pak, pantainya."

Aku mengubah pujian dari cantik menjadi bagus. Aku hanya tidak ingin merasa ambigu sendiri, yang mana itu juga berpotensi jadi baper sendiri. Padahal, belum tentu apa yang kutangkap sama dengan apa yang ingin Pak Rafiq sampaikan.

"Setelah dari sini kamu mau sarapan apa, Nin?" tanya Pak Rafiq setelah aku selesai mengambil foto.

"Apa, ya? Bapak ada ide? Saya enggak tahu di sekitaran sini ada rumah makan apa."

"Mungkin kalau yang umum ya nasi ayam biasa. Atau mau soto?"

"Soto boleh, Pak?"

Pak Rafiq langsung mengangguk. "Boleh."

Untuk beberapa saat lamanya, aku terus menatap ke arah matahari terbit. Perlahan-lahan, warnahnya mulai berganti. Dari yang tadinya merah dengan semburat orange pekat, kini perlahan memudar menjadi orange dengan semburat kuning.

Langit di sebelahnya pun seolah menyesuaikan. Gradasinya benar-benar terlihat sempurna.

Kurasa, hampir semua orang menyukai pemandangan sunrise. Terlebih ketika melihatnya di tempat yang notabene sudah indah sejak awal.

"Anin ..."

"Iya, pak?" aku menoleh.

"Skripsnya beneran lekas diselesaikan, ya?"

"Iya, siap." Aku mengangguk mantap. "Rencananya, sebelum masuk semester delapan saya sudah sidang biar enggak bayar uang semester lagi. Tapi misal enggak kekejar, ya enggak masalah. Yang penting secepat yang saya bisa aja. Saya enggak mau maksain. Nanti kena tipes kalau kecapekan."

"Oke. Saya siap ngejar dosen yang semester ini ngajar kamu agar lekas keluarin nilainya kalau sudah selesai ujian."

Aku mendelik. "Ya jangan, Pak! Nanti mereka curiga kalau di antara kita ada apa-apa."

"Memangnya enggak ada?" seulas senyum Pak Rafiq terbit.

"Memangnuya ada?" aku balik bertanya.

Sekalipun aku tahu perasaan Pak Rafiq dan mungkin dia pun sama, tetapi untuk saat ini status kami masihlah dosen dan mahasiswa. Tidak lebih.

"Kamu enggak lupa, kan, kalau saya ini bukan hanya dosen pembimbing skripsimu, tapi juga dosen pembimbing akademikmu? Alasan saya untuk mengejar para dosen agar segera mengeluarkan nilai itu lebih banyak. Dan biasanya memang rata-rata dosen yang mengajar mahasiswa semester akhir sudah paham dengan sendirinya karena mereka pun tahu betul bahwasanya semakin cepat mahasiswa lulus, itu bagus untuk reputasi jurusan. Kecuali, kalau mahasiswa semester akhir itu mengulang. Terkadang memang harus dikejar."

"Oh iya, juga, ya?" aku nyengir.

"Selagi menyelesaikan skripsi, syarat lain jangan dilupakan."

"Iya, pak. Itu pasti. Saya kan sudah bilang kemarin, selagi menyelesaikan sisanya, saya juga menyiapkan yang lain."

Inevitable Feelings Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang