Happy Reading!
Vote dulu, lalu komennnya jangan lupa.♥️
___
Aku mendongak, menatap rumah dua lantai dengan cat serba warna putih. Rumah ini tidak terlalu besar, tetapi jadi sangat besar kalau hanya dihuni sendiri. Ukurannya kurang lebih sama dengan rumah orang tuaku. Disain bangunannya sangat cantik, sepertinya sang pemilik membayar mahal untuk arsitek yang menggarapnya.
"Ayo, masuk. Jangan bengong."
Pak Rafiq datang padaku setelah dia memarkirkan mobilnya di garasi. Aku mundur satu langkah, sengaja menunjukkan betapa ragu diriku masuk ke rumahnya.
"Mau tidur di teras?" tanyanya pelan.
Aku diam, tak bergeming sama sekali. Sudah kepalang tanggung ikut ke sini, tetapi aku masih saja tidak siap dengan resikonya. Aneh betul!
"Ya sudah. Tidur saja di kursi itu. Saya ambilkan selimut-"
"Paaak ...." aku menatapnya tak percaya.
"Ya makanya, ayo masuk."
Kursi yang Pak Rafiq maksud adalah kursi kayu jati berukuran sedang yang ditaruh di teras rumah. Yang benar saja aku tidur di sana. Bisa-bisa besok pagi aku langsung dilarikan ke rumah sakit.
Aku berjalan mengikuti Pak Rafiq di belakang. Saat ini aku membawa tas belanja berisi perlengkapan dadakan yang kubeli di sebuah toko kecil yang hampir tutup. Toko itu terletak di seberang jalan sebelum belok menuju kompleks perumahan ini.
Aku sudah bodoamat kalau Pak Rafiq tahu apa yang kubeli. Tadi dia menunggu di luar sementara aku masuk sebentar.
"Kamu duduk dulu. Saya buatkan minum," ucap Pak Rafiq sambil menunjuk sofa ruang tamu
"Iya, Pak." Aku patuh, jadi aku langsung duduk di sofa. Selama Pak Rafiq meninggalkanku, aku mengedarkan pandangan.
Rumah ini entah kenapa terasa 'kosong'. Bukan karena minim perabotan, justru perabotannya lengkap, hanya saja aku merasa rumah ini seperti ada yang kurang. Katakan aku sok tahu tentang yang satu ini, tetapi aku benar-benar merasa rumah ini kurang 'hidup'.
"Ini minumnya." Lamunanku buyar ketika Pak Rafiq datang membawakanku satu cangkir besar berisi minuman entah apa. Aku tidak tahu isinya karena cangkir itu ditutup.
"Terimakasih, Pak."
Pak Rafiq kemudian mengulurkan satu setel baju padaku. "Ini baju Mbak Iva yang masih ada di lemari saya. Sudah enggak dipakai karena enggak muat. Kamu bisa pakai ini untuk ganti."
"Mbak Iva enggak akan marah, kan, Pak?"
"Kenapa marah? Dia saja entah ingat atau tidak kalau masih punya baju itu. Setelah punya anak badannya agak melar, jadi baju yang dulu banyak yang enggak muat."
Aku mengangguk, lalu menerima baju itu. "Terimakasih, Pak."
"Kamu bisa membawa tehnya ke kamar. Barangkali kamu ingin mandi dulu sementara nunggu tehnya hangat. Itu masih panas, makanya saya sengaja kasih tutup."
Ah, isinya teh.
"Boleh, Pak. Badan saya rasanya lengket semua."
Pak Rafiq berdiri dan aku segera mengikutinya. Dia membawaku menuju kamar yang pintunya terletak di ruang tengah, tepatnya di dekat TV. Dia membuka pintu itu, lalu menatapku.
"Kamu bisa tidur di sini. Sabun dan lain-lain ada di dalam. Handuk bersih juga ada di laci. Mbak Iva pasti mencucinya kalau dia habis menginap di sini."
KAMU SEDANG MEMBACA
Inevitable Feelings
RomanceAnindya Githa Prameswari (Anin), mahasiswa matematika semester tujuh yang sedang bergelut dengan tugas akhir. Di masa-masa terakhir kuliahnya, dia ditunjuk menjadi ketua angkatan oleh teman-teman satu jurusan. Itu mengharuskan dia sering berurusan d...
