Bab 2. Sebuah Permohonan

4.3K 338 87
                                        

Pak Rafiq memang menyebalkan!

Buat apa aku pusing-pusing membuat tiga judul dengan diksi yang berbeda kalau pada ujungnya dia sudah menyiapkan judul untukku? Tiga hari berpusing-pusing ria seperti tak ada gunanya.

Namun, aku tidak bisa marah. Dengan kerendahan hati yang teramat, aku sangat mengakui kalau diksi dari Pak Rafiq jauh lebih bagus dari buatanku. Memang beda kelas, aku mengakui itu.

"Kamu mendengarkan saya, Anindya?"

"Iya, Pak. Saya dengar."

"Gimana? Akan pakai judul dari saya atau yang kamu buat sendiri?"

Aku tidak ingin munafik dan tidak ingin pula membuang kesempatan. "Dari Pak Rafiq saja."

"Oke."

Aku hanya bisa menghela napas pelan ketika melihat ketiga judulku dicoret dan diganti dengan judul buatan Pak Rafiq. Meski begitu, ini bukan semata-mata idenya. Dia tetap memakai tema yang dari awal kuambil. Dari kemarin yang dia kritik hanyalah diksi, diksi, dan diksi saja. Sejak awal temaku justru sudah mendapat pujian.

"Terimakasih banyak, Pak."

"Iya." Dia mengangguk samar. "Selamat, kamu lulus tahap awal."

"Hah?" aku menatap Pak Rafiq bingung. "Lulus apa ini maksudnya, Pak?"

"Kamu bisa menyelesaikan tugas tepat waktu dengan estimasi yang saya beri. Progres kamu bagus. Tiga judul yang kamu buat tidak buruk, makanya saya memberi kamu pilihan. Tapi karena kamu ingin judul yang dari saya, baiklah ...."

"Eh, tapi sebentar, Pak."

Aku meraih kertas yang berisi empat judul-tiga buatanku dan satu buatan Pak Rafiq- lalu membacanya sekali lagi. Tiga judulku memang sudah dicoret, tetapi bukan berarti aku tidak bisa lagi membacanya. Aku meraih bulpoin dari saku celana, lalu menuliskan judul baru.

Judul kelima.

"Pak, kalau saya mau judul ini, apa boleh?" Aku menyodorkan kembali kertas itu pada Pak Rafiq. "Ini perpaduan dari punya saya yang nomor satu dan punya Pak Rafiq. Inti pembahasan tetap sama."

Mata Pak Rafiq menyipit. Dia terlihat membaca judul baruku selama beberapa saat. "Bisa. Saya setuju."

Senyumku seketika merekah lebar. Setidaknya aku jadi lebih lega karena merasa berkontribusi dengan penyusunan judul final pada skripsiku nanti.

"Terimakasih banyak, Pak ..."

"Iya."

Pak Rafiq terlihat mengambil sesuatu dari laci mejanya. Ternyata dia mengeluarkan dua bendel kertas dan menyerahkannya padaku. "Jurnal utamamu sudah saya print. Segera pilih satu teorema utama dan dua teorema tambahan."

Aku terdiam selama beberapa saat. Aku sama sekali tak menyangka kalau Pak Rafiq akan mencetak jurnalku. Jujur, aku sedikit terharu.

"Anindya, kamu ke ruangan saya mau bimbingan atau mau melamun?"

"M-maaf, Pak, maaf. Yang tadi Bapak bilang, saya siap. Saya akan segera pilih teoremanya. Atau Pak Rafiq minta kapan?"

"Secepatnya saja. Nanti malam juga bisa."

"Pak ... jangan nanti malam juga."

Enteng betul orang ini kalau ngomong. Progres cepat memang bagus, tetapi kalau buru-buru bisa tidak maksimal.

"Sehari sebelum pelepasan, bagaimana?"

Lima detik aku berpikir, akhirnya aku mengangguk mantap. "Siap, Pak."

Inevitable Feelings Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang